Serangan Rudal Rusia di Kyiv Tewaskan 23 Orang, Dunia Kutuk Eskalasi Perang Ukraina

AKURAT.CO Rudal dan drone Rusia menghantam sejumlah blok apartemen di ibu kota Ukraina pada Kamis (28/8), menewaskan sedikitnya 23 orang termasuk empat anak-anak. Serangan ini disebut sebagai salah satu yang paling mematikan di Kyiv sejak invasi Rusia dimulai pada Februari 2022.
Ledakan besar menghancurkan sebuah gedung apartemen hingga membentuk kawah setinggi lima lantai. Banyak korban ditemukan tim penyelamat dari balik reruntuhan. Seorang saksi mata, Galina Shcherbak, menggambarkan momen mengerikan itu: “Kaca beterbangan, kami berteriak saat bom meledak.”
Dampak Serangan
Selain apartemen warga, serangan juga merusak kantor misi Uni Eropa, gedung budaya British Council milik Inggris, serta dua kantor media. Pemandangan kaca pecah dan langit-langit runtuh menambah kepanikan warga.
Seorang korban selamat, Andriy, menceritakan detik-detik menyelamatkan diri: “Kalau saya telat masuk tempat perlindungan semenit saja, mungkin saya sudah mati. Saya keluar dengan mata berlumuran darah dan tidak bisa mendengar apa pun.”
Respon Ukraina dan Dunia
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengecam serangan ini sebagai “pembunuhan sipil yang disengaja.” Ia menegaskan Rusia tidak berniat mengakhiri perang, melainkan terus memperluas serangan.
Kecaman internasional pun berdatangan. Presiden Prancis Emmanuel Macron menyebut aksi Rusia sebagai bentuk “teror dan barbarisme. Sementara, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menuduh Vladimir Putin “menyabotase perdamaian.”
Kanselir Jerman Friedrich Merz tak kalah keras bereaksi. Ia mengatakan Rusia telah menunjukkan “wajah aslinya”.
Uni Eropa dan pemerintah Inggris juga memanggil duta besar Rusia sebagai bentuk protes resmi.
Posisi Amerika Serikat dan Upaya Diplomasi
Presiden AS Donald Trump, yang sebelumnya mendesak gencatan senjata, mengaku “tidak senang tetapi tidak terkejut” dengan serangan ini. Ajudan Zelensky dijadwalkan bertemu tim Trump di New York pada Jumat untuk membicarakan langkah diplomasi.
Namun Kremlin menegaskan serangan akan terus dilakukan. Juru bicara Dmitry Peskov menyatakan: “Angkatan bersenjata Rusia menjalankan tugasnya menyerang fasilitas militer dan infrastruktur yang berdekatan.”
Perang yang Belum Usai
Hingga kini, Rusia tetap menuntut Ukraina menyerahkan wilayah tambahan dan menghentikan dukungan militer Barat sebagai syarat perdamaian. Ukraina menolak ultimatum itu dan justru meminta jaminan keamanan dari negara-negara Barat untuk mencegah agresi di masa depan.
Sementara itu, pasukan Rusia mengklaim telah merebut permukiman kecil di Donetsk, sedangkan Ukraina melaporkan berhasil menyerang dua kilang minyak besar di wilayah Rusia sebagai aksi balasan.
Sekjen NATO Mark Rutte menegaskan di media sosial: “Kita perlu memastikan Ukraina memiliki apa yang dibutuhkannya untuk bertahan dan mencapai perdamaian abadi.”
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 5Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 6Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 7Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 8Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








