Sering Bikin Masalah Gawat, Pengadilan India Meminta Dokter Perbaiki Tulisan Tangan Mereka

AKURAT.CO Kasus salah obat akibat tulisan tangan dokter yang sulit dibaca kembali jadi sorotan publik di India. Seorang wanita dilaporkan mengalami kejang setelah meminum obat diabetes yang namanya mirip dengan obat pereda nyeri yang sebenarnya diresepkan untuknya.
Insiden seperti ini bukan hal baru. Tulisan tangan dokter yang tidak jelas sudah lama menjadi penyebab kesalahan pemberian obat di berbagai rumah sakit dan apotek India.
Kampanye Menuntut Larangan Resep Tulisan Tangan
Chilukuri Paramathama, seorang apoteker di kota Nalgonda, Telangana, mulai memperjuangkan isu ini sejak 2014. Ia tergerak setelah membaca berita tentang seorang anak berusia tiga tahun di Noida yang meninggal akibat salah suntik obat demam.
Chilukuri kemudian mengajukan petisi kepentingan publik ke Pengadilan Tinggi Hyderabad untuk melarang resep tulisan tangan dokter.
Perjuangannya membuahkan hasil. Pada tahun 2016, Dewan Medis India mengeluarkan peraturan bahwa setiap dokter wajib menulis resep dengan nama obat generik secara jelas, dan sebaiknya menggunakan huruf kapital.
Empat tahun kemudian, pada 2020, Menteri Kesehatan Muda India, Ashwini Kumar Choubey, menegaskan bahwa pemerintah daerah memiliki wewenang untuk menjatuhkan sanksi disiplin kepada dokter yang melanggar aturan tersebut.
Namun Masalahnya Masih Berlanjut
Meski aturan sudah berlaku hampir satu dekade, Chilukuri mengatakan resep tulisan tangan dokter yang sulit dibaca masih sering muncul di apoteknya. Ia bahkan mengirimkan contoh-contoh resep tidak terbaca kepada BBC — beberapa di antaranya tidak bisa ia pahami sendiri, padahal ia seorang apoteker berpengalaman.
Hal serupa diungkapkan oleh Ravindra Khandelwal, CEO jaringan apotek besar Dhanwantary di Kolkata.
Ia mengatakan, meski kini banyak dokter di kota besar sudah beralih ke resep digital atau cetak, di daerah pinggiran dan pedesaan mayoritas dokter masih menggunakan tulisan tangan.
“Selama bertahun-tahun, kami melihat pergeseran dari resep tulisan tangan ke resep cetak di kota-kota besar. Tapi di wilayah pedesaan, kebanyakan dokter masih menulis resep manual,” ujarnya.
Menurut Khandelwal, staf apoteknya yang berpengalaman biasanya bisa menebak maksud dokter dari tulisan tangan yang tidak jelas, namun tidak jarang mereka tetap harus menghubungi dokter langsung untuk memastikan obat yang benar.
Kesalahan Fatal yang Bisa Terulang
Kasus-kasus salah obat seperti yang dialami pasien wanita tersebut menunjukkan bahwa tulisan tangan dokter yang tidak terbaca bukan sekadar masalah kecil, melainkan ancaman serius bagi keselamatan pasien.
Meski pemerintah telah mengeluarkan regulasi, pelaksanaan di lapangan masih lemah — terutama di daerah dengan infrastruktur digital yang terbatas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 8Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK






