Junta Myanmar Gerebek Pusat Penipuan Siber, Sita Puluhan Perangkat Starlink di Perbatasan Thailand

AKURAT.CO Militer Myanmar menggerebek salah satu pusat penipuan siber terbesar di negara itu dan menyita puluhan perangkat internet satelit Starlink, menurut laporan media pemerintah pada Senin (20/10). Penggerebekan ini dilakukan setelah penyelidikan kantor berita AFP mengungkap lonjakan penggunaan perangkat Starlink dalam jaringan penipuan daring berskala internasional.
Menurut laporan The Global New Light of Myanmar, operasi dilakukan di kompleks KK Park, wilayah perbatasan Myanmar–Thailand yang dikenal sebagai salah satu pusat aktivitas siber ilegal. Dari lokasi tersebut, aparat menyita 30 set penerima dan aksesori Starlink.
Namun, jumlah tersebut diyakini hanya sebagian kecil dari perangkat yang digunakan. Analisis citra satelit dan foto drone AFP menunjukkan sedikitnya 80 antena Starlink terpasang di atap salah satu gedung di kompleks tersebut.
Starlink, layanan internet satelit milik miliarder Elon Musk melalui perusahaan SpaceX, tidak memiliki izin operasi resmi di Myanmar. Meski demikian, data dari Asia Pacific Network Information Centre (APNIC) menunjukkan Starlink menjadi penyedia internet paling aktif di negara itu sejak Juli hingga awal Oktober 2025.
Penemuan ini memicu perhatian internasional. Komite Ekonomi Gabungan Kongres AS menyatakan tengah menyelidiki potensi keterlibatan Starlink dalam aktivitas kriminal lintas batas tersebut. Meski komite berwenang memanggil Elon Musk untuk memberikan kesaksian, tidak ada kewajiban hukum yang dapat memaksanya hadir.
Ribuan Pekerja dan Jaringan Penipuan
Militer Myanmar juga menemukan sekitar 2.200 pekerja di 200 gedung dalam operasi tersebut. Sebanyak 15 warga negara Tiongkok ditangkap karena diduga terlibat dalam praktik penipuan daring dan perjudian online.
Industri penipuan digital di Asia Tenggara terus berkembang pesat. Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC) memperkirakan kerugian akibat operasi siber ilegal di kawasan mencapai 37 miliar dolar AS pada tahun 2023.
Selain Myanmar, negara seperti Kamboja dan Laos juga menjadi pusat aktivitas serupa. Pekan lalu, otoritas Kamboja mendeportasi 64 warga Korea Selatan karena dugaan keterlibatan dalam penipuan daring.
Jaringan Kriminal dan Konflik Bersenjata
Para analis menyebut pabrik-pabrik penipuan di wilayah perbatasan Myanmar umumnya dikendalikan oleh sindikat kriminal asal Tiongkok dengan perlindungan dari milisi lokal yang memiliki hubungan dengan junta militer. Kegiatan ilegal tersebut menjadi salah satu sumber pendanaan kelompok bersenjata di tengah konflik sipil yang berkepanjangan sejak kudeta militer tahun 2021.
Namun, tekanan internasional yang meningkat membuat beberapa kelompok mulai mengubah haluan. Pemerintah Tiongkok bahkan telah menangkap lebih dari 57.000 warganya yang terlibat dalam jaringan penipuan lintas batas di Myanmar.
Sementara itu, citra satelit terbaru menunjukkan pembangunan baru di sekitar 27 lokasi pusat penipuan di sepanjang Sungai Moei, yang membentang di perbatasan Myanmar–Thailand.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK






