Akurat Logo

Kapal Migran dari Gambia Terombang-ambing 26 Hari di Atlantik, 80 Orang Tewas, Termasuk Bayi

Fitra Iskandar | 4 September 2026, 06:12 WIB
 Kapal Migran dari Gambia Terombang-ambing 26 Hari di Atlantik, 80 Orang Tewas, Termasuk Bayi
Kepulauan Canary - Guide to Canary Islands

AKURAT.CO Tragedi kembali terjadi di jalur migrasi Atlantik menuju Spanyol. Sebanyak 80 orang dilaporkan tewas, termasuk seorang bayi, setelah sebuah kapal yang membawa lebih dari 100 migran ditemukan dalam kondisi terombang-ambing di lepas pantai Kepulauan Canary, Spanyol.

Kementerian Dalam Negeri Spanyol menyebut 44 orang berhasil diselamatkan pada Rabu malam. Kapal tersebut diduga telah berada di laut selama sekitar 26 hari setelah berangkat dari Gambia pada 7 Agustus.

Menurut badan Maritime Rescue and Safety Society Spanyol, sebuah kapal darurat atau makeshift vessel ditemukan sekitar 65 mil atau 105 kilometer barat daya Arguineguín, sebuah kota pesisir di Kepulauan Canary, sekitar pukul 18.40 waktu setempat.

Pusat Koordinasi Penyelamatan Maritim Spanyol kemudian mengerahkan kapal penyelamat sekitar pukul 23.00. Sebanyak 44 laki-laki asal Afrika Sub-Sahara ditemukan masih berada di atas kapal dan berhasil dievakuasi.

Tiga orang yang diselamatkan berada dalam kondisi kritis dan harus diterbangkan menggunakan helikopter menuju rumah sakit di Kepulauan Canary untuk mendapatkan perawatan medis.

Kapal penyelamat kemudian tiba di pelabuhan Arguineguín pada Kamis dini hari. Para migran yang masih selamat diturunkan dari kapal untuk menjalani penanganan lebih lanjut.

Presiden Canary Islands: Atlantik Tak Boleh Jadi Jalur Kematian

Presiden Kepulauan Canary Fernando Clavijo mengecam tragedi tersebut. Ia mengatakan jumlah korban jiwa yang terus berjatuhan di jalur migrasi Atlantik sudah tidak dapat ditoleransi.

“Tidak tertahankan bahwa nyawa terus hilang,” kata Clavijo dalam unggahan di X.

Menurutnya, masyarakat Canary Islands tidak boleh terbiasa dengan tragedi kemanusiaan yang terus terjadi di wilayah tersebut.

“Canarias tidak bisa terbiasa atau menormalisasi kenyataan bahwa Atlantik terus menjadi jalur kematian,” ujarnya.

Clavijo juga mengaitkan tragedi tersebut dengan persoalan migrasi yang lebih luas di Spanyol dan Eropa.

Ia menilai meningkatnya arus migran, baik menuju Kepulauan Canary maupun wilayah Spanyol lainnya, menunjukkan perlunya kebijakan migrasi nasional yang lebih terkoordinasi.

“Spanyol membutuhkan kebijakan migrasi negara, dan Eropa harus mengambil tanggung jawabnya,” kata Clavijo.

Jalur Migrasi Atlantik Makin Mematikan

Tragedi kapal dari Gambia ini terjadi setelah insiden besar lainnya di wilayah Spanyol pada Juli, ketika hampir 60.000 migran dilaporkan melintasi perbatasan menuju Ceuta dari Maroko. Sedikitnya 67 orang tewas dalam peristiwa tersebut.

Clavijo memperingatkan bahwa persoalan migrasi tidak dapat terus ditangani hanya ketika krisis terjadi.

“Kita tidak bisa terus mengelola migrasi dari satu krisis ke krisis berikutnya. Ini menyangkut nyawa dan martabat manusia,” katanya.

Kepulauan Canary selama bertahun-tahun menjadi salah satu tujuan utama migran dari Afrika Barat yang berusaha mencapai Eropa melalui jalur laut. Perjalanan menggunakan kapal kecil dan tidak layak laut membuat rute Atlantik dikenal sebagai salah satu jalur migrasi paling berbahaya menuju Eropa.

Sumber: ABC

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.