Riset Citi Institute: Peta Perdagangan Global Kini Bergeser ke Afrika dan Amerika Latin

AKURAT.CO Selama bertahun-tahun, Amerika Utara menjadi salah satu tujuan penting bagi produk industri China. Namun, perubahan arus perdagangan global menunjukkan bahwa perusahaan mulai menjajaki pasar lain, termasuk Afrika dan Amerika Latin.
Perubahan tersebut terlihat dari pergeseran tujuan ekspor kendaraan dan suku cadang China. Di tengah ketegangan geopolitik dan perubahan hubungan dagang, perusahaan tidak hanya berupaya mempertahankan pasar lama, tetapi juga mencari jalur perdagangan alternatif.
Laporan Citi Institute dan Citi Services berjudul Transformasi Lanskap Global: Pergeseran dalam Perdagangan Global dan Foreign Direct Investment (FDI) mengungkap perubahan tersebut. Temuannya menunjukkan bahwa perdagangan global tetap tumbuh, meskipun sejumlah koridor perdagangan mengalami pergeseran.
Peta perdagangan global mulai bergeser karena perusahaan menyesuaikan jalur perdagangan dan memperluas pasar di tengah ketidakpastian geopolitik. Data Citi menunjukkan pangsa Amerika Utara dalam ekspor kendaraan dan suku cadang China turun dari sekitar sepertiga menjadi sekitar 13% pada pertengahan 2026. Sebaliknya, pangsa Afrika meningkat dari sekitar 8% pada 2022 menjadi lebih dari 15%. Amerika Latin juga menjadi salah satu kawasan dengan peningkatan terbesar dalam kategori ekspor tersebut.
Mengapa Peta Perdagangan Global Mulai Bergeser?
Perubahan peta perdagangan global tidak dapat dilepaskan dari meningkatnya ketidakpastian dalam hubungan ekonomi antarnegara. Konflik geopolitik, perubahan kebijakan perdagangan, dan gangguan rantai pasok membuat perusahaan perlu meninjau kembali cara mereka menjangkau konsumen dan memperoleh bahan baku.
Dalam kondisi tersebut, bergantung pada satu pasar ekspor dapat menghadirkan risiko tersendiri. Ketika suatu negara menerapkan tarif baru atau memperketat aturan impor, perusahaan yang terlalu bergantung pada pasar tersebut berpotensi menghadapi tekanan terhadap penjualan dan biaya operasional.
Salah satu respons yang dapat dilakukan perusahaan adalah melakukan diversifikasi pasar. Strategi ini berarti memperluas tujuan penjualan agar bisnis tidak hanya mengandalkan satu kawasan.
Namun, perubahan tujuan ekspor tidak selalu berarti perusahaan memindahkan pabriknya ke negara lain. Perusahaan dapat mempertahankan fasilitas produksi yang sudah ada sambil mengalihkan sebagian pengiriman ke pasar baru.
Perbedaan tersebut penting dipahami karena perubahan jalur perdagangan dan relokasi industri merupakan dua hal yang tidak selalu berjalan bersamaan.
Data Citi memberikan gambaran mengenai perubahan komposisi tujuan ekspor. Data tersebut belum cukup untuk membuktikan bahwa seluruh perusahaan China sedang memindahkan kapasitas produksinya ke Afrika atau Amerika Latin.
Baca Juga: Perdagangan RI-Malaysia Tumbuh 21 Persen, Kemendag Genjot Transaksi di Perbatasan Entikong-Tedebu
Baca Juga: Prabowo Harap Nilai Perdagangan Indonesia-Rusia Digandakan Lewat I-EAEU FTA 2027
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK






