Fakta Gelap Terbongkar, Ungkap Kaitan Industri Kosmetik Cantik dengan Kepunahan Hiu Laut Dalam

AKURAT.CO Gulper shark, spesies hiu laut dalam yang telah ada selama jutaan tahun, kini menghadapi ancaman serius. Sekitar 75% spesies gulper shark terancam punah, terutama karena perburuan minyak hati yang kaya squalene—bahan yang banyak digunakan dalam produk kosmetik dan perawatan kulit.
Hiu ini hidup pada kedalaman 200 hingga 1.500 meter di berbagai perairan dunia. Namun, informasi mengenai perilaku dan habitatnya masih terbatas karena sulitnya akses penelitian di laut dalam.
Perdagangan Minyak Hati Hiu Dorong Populasi Menurun
Menurut International Fund for Animal Welfare (IFAW), minyak hati gulper shark ditemukan dalam banyak produk, mulai dari lotion, sunscreen, makeup, hingga produk medis seperti nicotine patch dan salep wasir.
Squalene menjadi bahan incaran karena sifatnya yang melembapkan dan sebagai antioksidan. Meski kini tersedia alternatif nabati, sebagian industri kosmetik masih menggunakan squalene dari hiu.
Penelitian pada 2024 menunjukkan populasi gulper shark menurun lebih dari 80% di beberapa wilayah. Hiu ini sangat rentan terhadap eksploitasi karena memiliki pertumbuhan lambat dan reproduksi yang sedikit. Beberapa spesies diperkirakan membutuhkan hingga 86 tahun untuk pulih hanya 25% dari populasi awal.
Perlindungan Baru dari Regulasi Perdagangan Internasional
Konferensi CITES ke-20 di Samarkand, Uzbekistan (24 November–5 Desember), membahas usulan memasukkan semua spesies gulper shark ke Appendix II CITES. Jika disahkan, perdagangan spesies ini akan diawasi ketat dan membutuhkan izin legal lintas negara.
Hingga saat ini, lebih dari 145 spesies hiu dan pari sudah masuk daftar Appendix II, namun belum ada spesies laut dalam seperti gulper shark.
Pasar squalene global diperkirakan bernilai US$150 juta pada 2023. Meski 80% squalene kini berasal dari tumbuhan, masih ada produsen yang bergantung pada minyak hati hiu. Untuk menghasilkan 1 ton squalene, dibutuhkan sekitar 3.000 ekor hiu.
Beberapa perusahaan besar seperti L'Oréal dan Unilever telah menghentikan penggunaan minyak hati hiu sejak 2008. Namun penelitian menunjukkan masih ada produk di pasaran, terutama dari merek Asia, yang menggunakan squalene dari hiu.
Harapan untuk Konservasi
Pemerhati lingkungan menilai regulasi perdagangan menjadi langkah penting untuk menghentikan penurunan populasi gulper shark. Tanpa langkah tegas, spesies ini bisa menuju kepunahan.
“Hiu laut dalam tidak bisa pulih seperti ikan lainnya. Mereka tidak bereproduksi cepat dan tidak mampu menghadapi eksploitasi besar-besaran,” kata Matt Collis dari IFAW.
Beberapa negara, seperti Maladewa, telah melarang penangkapan gulper shark sejak 2010 setelah terjadi penurunan populasi hingga 97% dalam dua dekade.
Para ahli berharap keputusan CITES tahun ini menjadi tonggak perlindungan global bagi gulper shark sebelum terlambat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal







