Bukan Buat Minuman Harian! BGN Garis Keras Larang Susu Kental Manis Masuk Menu MBG

AKURAT.CO Jangan salah kaprah lagi! Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah tegas dengan mencoret penuh penggunaan susu kental manis (SKM) dari daftar menu program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Langkah ini diambil demi memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan asupan nutrisi yang benar-benar berkualitas tanpa dibayangi risiko penyakit akibat tumpukan gula berlebih.
Baca Juga: BGN Sesuaikan Operasional MBG di Wilayah Terdampak Erupsi Gunung Anak Krakatau
Keputusan krusial ini disepakati dalam rapat koordinasi BGN yang melibatkan jajaran instansi penting, mulai dari Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Kementerian Pertanian, Kementerian Kesehatan, Kementerian Perindustrian, BPOM, hingga asosiasi industri dan koperasi susu.
"BGN secara tegas melarang penggunaan produk minuman susu, minuman mengandung susu, minuman rasa susu, maupun susu kental manis dalam menu MBG," bunyi pernyataan resmi BGN melalui akun Instagram resminya.
Proses pembuatan kental manis pada dasarnya dilakukan dengan membuang sebagian air dari campuran susu, lalu menambahkan gula dalam jumlah yang sangat tinggi.
BPOM sudah menetapkan bahwa kental manis hanyalah topping, pelengkap, atau bahan baku olahan kue dan minuman—bukan minuman nutrisi harian untuk anak.
Dokter Spesialis Gizi Klinik RS Qolbu Insan Mulia Batang, dr. Osa Endiputra, M.Sc., Sp.G.K., AIFO-K., menegaskan bahwa produk ini sama sekali tidak cocok dijadikan pemenuh gizi tumbuh kembang anak.
“Susu kental manis itu bukan susu. Hati-hati, susu kental manis itu bukan susu, itu gula. Gula bentuknya cair kental,” ujar dr. Osa.
Kebiasaan mengonsumsi minuman tinggi gula bukan cuma memicu karies gigi dan kegemukan (obesitas), tapi juga mengintai kesehatan anak dengan ancaman penyakit tidak menular saat mereka dewasa.
Baca Juga: Perbedaan Susu Kental Manis dan Susu Evaporasi, Jangan Sampai Salah Pilih untuk Minuman atau Masakan
Tak berhenti di situ, kecanduan rasa manis bisa merusak pola makan anak. Ketika perut terisi oleh "kalori kosong" dari gula, anak akan merasa kenyang palsu.
Akibatnya, mereka menolak makanan bergizi kaya protein, vitamin, dan mineral. Salah kaprah ini jika dibiarkan justru bisa memperburuk ancaman stunting di Tanah Air.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








