Di Balik Label Susu, UHT Berperisa dan Kental Manis Jadi Sumber Gula Tersembunyi Anak

AKURAT.CO Konsumsi minuman manis pada anak usia sekolah terus meningkat. Di balik label “susu”, produk seperti susu UHT berperisa hingga susu kental manis justru menjadi sumber gula tersembunyi yang kerap luput dari perhatian orang tua.
Produk-produk tersebut masih sering diperlakukan sebagai minuman harian anak karena lekat dengan citra gizi dan kesehatan.
Padahal, kandungan gula tambahan di dalamnya tergolong tinggi, terutama jika dikonsumsi secara rutin.
Berbagai kajian menunjukkan minuman merupakan sumber utama asupan gula tambahan pada anak dan remaja.
Susu UHT berperisa, yang mengandung gula dan perisa tambahan, kerap lolos dari pengawasan karena masih dikategorikan sebagai susu.
Persepsi ini diperkuat oleh strategi pemasaran yang menonjolkan visual pertumbuhan, energi, dan kesehatan, serta penempatan produk yang berdampingan dengan susu tanpa tambahan gula.
Dokter Novi Indriastuti dari Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa kontribusi terbesar asupan gula pada kelompok usia anak dan remaja berasal dari minuman.
“Asupan gula tambahan paling banyak berasal dari minuman,” ujar Dr. Novi dalam Webinar Series UKS/M: Penguatan Edukasi Gula, Garam, Lemak untuk Wujudkan Peserta Didik Sehat, dikutip pada Minggu (21/12/2025).
Ia menekankan konsumsi minuman dengan tambahan gula, termasuk susu UHT berperisa, perlu dikendalikan sejak usia sekolah.
Lebih Berisiko
Masalah menjadi lebih serius ketika susu kental manis masih disalahartikan sebagai susu minum anak. Padahal, produk ini memiliki kandungan gula jauh lebih tinggi dan tidak dirancang sebagai minuman harian.
Dalam praktiknya, susu kental manis masih kerap diminum langsung, dicampur air, atau menjadi bagian dari konsumsi rutin anak di rumah maupun lingkungan sekitar.
Dalam pengendalian konsumsi gula, posisi susu kental manis berada pada kategori paling bermasalah. Jika susu UHT berperisa saja perlu dibatasi, maka konsumsi kental manis membawa risiko yang lebih besar terhadap kelebihan asupan gula sejak dini.
Pakar gizi komunitas, Dr. Tan Shot Yen, menilai kebingungan publik terkait makanan dan minuman anak tidak lepas dari cara produk diproses dan dipasarkan sebagai pangan bergizi.
Ia pernah membandingkan segelas 200 mililiter susu UHT rasa stroberi dengan sepotong lemper. Keduanya sama-sama mengandung sekitar 6 gram protein.
Namun, kandungan susu pada minuman UHT berperisa tersebut hanya sekitar 7,8 persen, berasal dari susu bubuk yang dilarutkan kembali dan ditambah berbagai bahan tambahan.
Sebaliknya, lemper tersusun dari bahan yang lebih sederhana dan minim proses.
Risiko Obesitas Anak
Data menunjukkan sekitar 11 persen asupan kalori anak dan remaja berasal dari minuman bergula. Konsumsi satu kemasan minuman manis per hari bahkan dapat meningkatkan risiko obesitas anak hingga 60 persen.
Di sisi lain, produk-produk tersebut mudah diakses, harganya terjangkau, dan informasi kandungan gula pada label gizi sering kali tidak dibaca atau dipahami secara utuh.
Secara nasional, sekitar 28,7 persen masyarakat Indonesia mengonsumsi gula melebihi batas anjuran. Pada anak usia sekolah, batas aman konsumsi gula harian kerap terlampaui hanya dari minuman.
Ketika produk tinggi gula terus dipersepsikan sebagai “susu” yang identik dengan kesehatan, tanggung jawab tidak bisa sepenuhnya dibebankan pada konsumen.
Baca Juga: Waspadai Bibit Siklon Tropis
Kejelasan informasi, pembatasan klaim yang menyesatkan, serta penempatan produk sesuai fungsi nutrisinya menjadi bagian dari tanggung jawab bersama antara industri, pembuat kebijakan, dan pengelola program kesehatan.
Tanpa koreksi yang serius, anak-anak akan terus menjadi kelompok paling rentan terhadap dampak jangka panjang konsumsi gula berlebih.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 8Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







