Akurat Logo

Allianz Ungkap Kebiasaan Sepele yang Memicu Penyakit Tropis, Banyak Orang Masih Melakukannya

Idham Nur Indrajaya | 22 Juni 2026, 16:46 WIB
Allianz Ungkap Kebiasaan Sepele yang Memicu Penyakit Tropis, Banyak Orang Masih Melakukannya
Allianz ungkap kebiasaan sepele yang memicu penyakit tropis seperti DBD, tifoid, dan TBC. Banyak orang masih melakukannya tanpa sadar. Ilustrasi: Gemini Google

AKURAT.CO Pakaian yang digantung terlalu lama di kamar, talang air yang jarang dibersihkan, atau kebiasaan membeli makanan dan minuman tanpa memperhatikan kebersihan sering dianggap hal kecil yang tidak berdampak besar. Namun menurut temuan yang disoroti Allianz Indonesia bersama pakar kesehatan, kebiasaan sederhana seperti ini justru dapat meningkatkan risiko penyakit tropis yang masih banyak terjadi di Indonesia.

Penyakit tropis seperti Demam Berdarah Dengue (DBD), demam tifoid, dan tuberkulosis (TBC) bukan hanya dipengaruhi oleh faktor lingkungan, tetapi juga oleh perilaku sehari-hari masyarakat. Dalam diskusi kesehatan yang digelar Allianz bersama dokter dan edukator kesehatan, dr. Dion Haryadi, terungkap bahwa banyak kebiasaan yang tampak sepele ternyata berperan dalam memperbesar peluang penularan penyakit.

Ringkasan

Menurut Allianz Indonesia dan dr. Dion Haryadi, beberapa kebiasaan sehari-hari berikut dapat meningkatkan risiko penyakit tropis seperti DBD, tifoid, dan TBC:

  • Menggantung pakaian terlalu lama di dalam kamar

  • Membiarkan genangan air di sekitar rumah

  • Mengabaikan ventilasi dan sirkulasi udara rumah

  • Mengonsumsi makanan atau es batu yang tidak terjamin kebersihannya

  • Menunda pemeriksaan medis saat muncul gejala awal

Kebiasaan ini sering dilakukan tanpa disadari, padahal dapat menjadi pintu masuk berbagai penyakit tropis yang masih tinggi di Indonesia.

Mengapa Penyakit Tropis Masih Banyak Terjadi di Indonesia?

Indonesia memiliki kondisi yang sangat mendukung berkembangnya penyakit tropis, mulai dari iklim lembap, curah hujan tinggi, hingga kepadatan penduduk di wilayah perkotaan. Namun faktor lingkungan saja tidak cukup menjelaskan tingginya kasus penyakit seperti DBD, tifoid, dan TBC.

Menurut data yang dikutip dari Kementerian Kesehatan RI dan WHO, Indonesia masih mencatat ratusan ribu kasus penyakit menular setiap tahun, termasuk lebih dari 210 ribu kasus DBD pada 2024 dan sekitar 1,06 juta kasus TBC per tahun.

Namun yang sering luput dari perhatian adalah faktor perilaku sehari-hari. Banyak orang tidak menyadari bahwa kebiasaan kecil di rumah dapat menciptakan lingkungan yang mendukung penyebaran penyakit.

Baca Juga: Outlook Investasi 2026: Strategi Allianz Indonesia Saat Pasar Masih Penuh Ketidakpastian

Baca Juga: Pemberdayaan UMKM Allianz EMPOWERED+: Dukung Pertumbuhan Ekonomi Inklusif hingga Penyandang Disabilitas

Allianz Ungkap Kebiasaan Sepele yang Sering Diabaikan

Dalam pemaparan edukasi kesehatan bersama Allianz Indonesia, sejumlah kebiasaan sehari-hari diidentifikasi sebagai faktor yang meningkatkan risiko penyakit tropis.

1. Menggantung pakaian terlalu lama di dalam kamar

Pakaian yang dibiarkan menumpuk atau digantung terlalu lama dapat menjadi tempat istirahat nyamuk Aedes aegypti, vektor utama penyebab DBD. Banyak orang menganggapnya sebagai kebiasaan normal, terutama di kamar kos atau rumah dengan ruang terbatas.

Namun dalam kondisi tertentu, area ini menjadi tempat persembunyian nyamuk di siang hari, sehingga meningkatkan risiko gigitan.

2. Genangan air yang tidak diperhatikan

Talang air, vas bunga, dispenser, atau wadah penampungan air sering kali luput dibersihkan secara rutin. Padahal, tempat-tempat ini dapat menjadi lokasi berkembang biaknya nyamuk.

Masalahnya, genangan air sering tidak terlihat sebagai ancaman langsung sehingga banyak orang mengabaikannya.

3. Ventilasi rumah yang buruk

Kurangnya sirkulasi udara dan minimnya paparan sinar matahari dapat menciptakan lingkungan lembap yang tidak sehat. Kondisi ini tidak hanya berhubungan dengan DBD, tetapi juga meningkatkan risiko penularan TBC melalui udara.

4. Konsumsi makanan dan minuman yang tidak higienis

Kebiasaan membeli es batu atau makanan tanpa memperhatikan kebersihan masih sering dilakukan, terutama saat beraktivitas di luar rumah. Hal ini dapat meningkatkan risiko demam tifoid yang ditularkan melalui makanan dan minuman terkontaminasi.

5. Menunda pemeriksaan kesehatan

Salah satu kebiasaan paling berisiko adalah menunda ke dokter saat gejala awal muncul. Banyak orang menganggap demam atau batuk sebagai kondisi ringan, padahal bisa menjadi gejala awal penyakit tropis.

Mengapa Banyak Orang Tidak Menyadari Risiko Kebiasaan Ini?

Menurut dokter dan edukator kesehatan dr. Dion Haryadi, salah satu tantangan terbesar dalam pencegahan penyakit tropis adalah persepsi masyarakat terhadap “kebiasaan kecil”.

"Meski telah lama dikenal masyarakat Indonesia, penyakit DBD, demam tifoid, dan TBC masih menjadi penyakit yang menghantui setiap tahunnya. Padahal, sebagian besar penyakit tropis sebenarnya dapat dicegah," ujar dr. Dion Haryadi melalui keterangan yang diterima AKURAT.CO, Senin, 22 Juni 2026.

Fenomena yang terjadi adalah normalisasi risiko. Karena kebiasaan tersebut sudah dilakukan bertahun-tahun, masyarakat cenderung tidak mengaitkannya dengan risiko kesehatan.

Akibatnya, penyakit baru disadari ketika gejala sudah berkembang lebih jauh.

Data Allianz Menunjukkan Penyakit Tropis Masih Menjadi Ancaman Nyata

Selain aspek perilaku, data klaim kesehatan juga memperkuat gambaran bahwa penyakit tropis masih menjadi masalah besar di Indonesia.

Allianz Indonesia mencatat:

  • 1.686 klaim DBD dengan nilai lebih dari Rp21,5 miliar

  • 1.534 klaim demam tifoid dengan nilai lebih dari Rp14,5 miliar

  • 815 klaim TBC dengan nilai lebih dari Rp5,4 miliar

Head of Health Analytics Allianz Life Indonesia, dr. Tubagus Argie F. S. Sunartadirdja, menjelaskan bahwa data ini menunjukkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap layanan kesehatan akibat penyakit tropis.

"Data klaim yang kami miliki menunjukkan bahwa penyakit tropis masih menjadi salah satu alasan perawatan medis yang cukup tinggi. Di saat yang sama, kami juga melihat adanya peningkatan biaya perawatan untuk beberapa penyakit tropis dalam beberapa tahun terakhir," ujar dr. Tubagus Argie F. S. Sunartadirdja.

Simulasi Kehidupan Nyata yang Sering Terjadi

Bayangkan seorang mahasiswa yang tinggal di kamar kos kecil. Pakaian sering digantung di belakang pintu, sementara kamar jarang terkena sinar matahari. Di sudut ruangan terdapat wadah air yang tidak pernah dikuras rutin.

Beberapa minggu kemudian, ia mengalami demam tinggi yang awalnya dianggap hanya kelelahan. Setelah diperiksa, ia didiagnosis DBD dan harus dirawat beberapa hari di rumah sakit.

Atau seorang pekerja kantoran yang sering membeli minuman es di luar tanpa memperhatikan kebersihan. Ia mengalami tifoid dan harus istirahat panjang, sehingga produktivitas kerja terganggu.

Situasi seperti ini sangat umum terjadi dan menunjukkan bagaimana kebiasaan kecil dapat berdampak besar.

Apa yang Bisa Dilakukan untuk Mengurangi Risiko Penyakit Tropis?

Pencegahan penyakit tropis tidak selalu membutuhkan langkah besar. Justru perubahan kecil dalam kebiasaan sehari-hari dapat memberikan dampak signifikan.

Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan:

  • Rutin membersihkan tempat penampungan air

  • Mengurangi barang yang menumpuk di kamar

  • Memastikan rumah memiliki ventilasi yang baik

  • Memilih makanan dan minuman yang higienis

  • Tidak menunda pemeriksaan saat gejala awal muncul

Bahaya yang Berasal dari Hal yang Terlihat Biasa

Masalah terbesar penyakit tropis bukan hanya faktor lingkungan atau kurangnya akses kesehatan, tetapi bagaimana masyarakat memandang kebiasaan sehari-hari yang dianggap tidak berbahaya.

Ketika sesuatu terlihat “normal”, risiko sering kali tidak lagi dianggap serius. Padahal, justru dari hal-hal kecil inilah penyakit tropis berkembang dan terus muncul setiap tahun.

Penutup

Penyakit tropis tidak selalu hadir dari kondisi ekstrem atau wabah besar. Dalam banyak kasus, ancamannya justru muncul dari rutinitas harian yang dilakukan tanpa disadari.

Data Allianz Indonesia dan penjelasan para pakar kesehatan menunjukkan bahwa perubahan kecil dalam kebiasaan dapat membantu menurunkan risiko penyakit seperti DBD, tifoid, dan TBC.

Pada akhirnya, kesadaran terhadap kebiasaan sehari-hari menjadi salah satu kunci penting untuk melindungi diri dan keluarga dari ancaman penyakit tropis yang masih nyata di Indonesia. Pantau terus informasi kesehatan agar dapat lebih waspada terhadap risiko yang sering kali tersembunyi di balik rutinitas harian.

Baca Juga: Bagaimana Vaksin Bekerja Melindungi Tubuh dari Penyakit? Penjelasan Lengkap dan Manfaatnya

Baca Juga: Dari Sampah Jadi Bantal Terapi dan Pengharum Ruangan, Inilah Inovasi Eco Enzyme Allianz Indonesia

FAQ

Apa saja kebiasaan yang bisa memicu DBD?

Kebiasaan seperti menggantung pakaian terlalu lama, membiarkan genangan air, dan tidak membersihkan lingkungan rumah dapat meningkatkan risiko DBD karena menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti.

Mengapa pakaian yang digantung bisa mengundang nyamuk?

Pakaian yang digantung di ruang gelap dan lembap dapat menjadi tempat istirahat nyamuk, sehingga meningkatkan peluang gigitan dan penularan virus dengue.

Apakah ventilasi rumah berpengaruh terhadap TBC?

Ya, ventilasi yang buruk dapat meningkatkan risiko penyebaran TBC karena bakteri dapat bertahan lebih lama di udara dalam ruangan tertutup.

Bagaimana makanan tidak higienis menyebabkan tifoid?

Makanan atau minuman yang terkontaminasi bakteri Salmonella typhi dapat menyebabkan tifoid, terutama jika kebersihannya tidak terjamin.

Mengapa banyak orang terlambat menyadari penyakit tropis?

Karena gejala awal sering dianggap ringan seperti demam biasa atau kelelahan, sehingga masyarakat menunda pemeriksaan medis.

Apa penyakit tropis yang paling banyak di Indonesia?

DBD, demam tifoid, dan TBC termasuk penyakit tropis yang paling sering ditemukan dan masih menjadi beban kesehatan masyarakat.

Bagaimana cara mencegah penyakit tropis di rumah?

Dengan menjaga kebersihan lingkungan, memperbaiki ventilasi, menghindari genangan air, dan menerapkan perilaku hidup bersih serta sehat.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.