Cegah BPJS Kesehatan Gagal Bayar, Peneliti Kesehatan Ini Ajak Masyarakat Terapkan Hidup Sehat

AKURAT.CO Ancaman defisit yang tengah membayangi BPJS Kesehatan kembali memicu perhatian publik.
Direktur Utama BPJS Kesehatan saat ini, Prihati Pujowaskito, mengungkapkan bahwa hingga April 2026, beban pelayanan kesehatan telah menembus angka Rp 65,03 triliun, sedangkan pendapatan dari iuran baru mencapai Rp 59,8 triliun.
Artinya, terdapat defisit atau selisih berkisar Rp 2 triliun setiap bulannya yang jika dibiarkan tanpa penanganan bisa berisiko memicu gagal bayar pada 2027 mendatang.
Baca Juga: Fungsi BPJS Kesehatan bagi Peserta JKN untuk Mendapatkan Perlindungan Kesehatan yang Optimal
Menanggapi persoalan tersebut, seorang praktisi kesehatan dan penulis opini, Dosen dan juga Peneliti Kesehatan Masyarakat Syarif Rahman Hasibuan menegaskan bahwa akar masalah defisit ini sama sekali bukan disebabkan oleh masyarakat yang sedang jatuh sakit.
"Perlu ditegaskan: defisit terjadi bukan salah orang yang sakit. Justru BPJS Kesehatan hadir untuk saudara-saudari peserta JKN yang sedang dirawat karena kanker, gagal ginjal, jantung atau penyakit berbiaya mahal lainnya” kata Syarif Rahman Hasibuan.
Menurut Syarif, fokus utama yang perlu dipikirkan bersama saat ini adalah bagaimana menjaga keberlangsungan sistem asuransi sosial tersebut agar tetap mampu menopang warga yang membutuhkan.
"Pertanyaannya bukan 'mengapa mereka sakit,' tapi 'apa yang bisa kita lakukan agar iuran yang kita bayar cukup untuk gotong royong menanggung mereka yang membutuhkan?'" tuturnya.
Sebagai langkah nyata, Syarif membagikan pengalamannya dalam berkontribusi menjaga kestabilan finansial BPJS Kesehatan melalui dua langkah utama, yakni disiplin membayar iuran tepat waktu serta konsisten menerapkan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS).
Langkah pertama, yakni pemenuhan kewajiban iuran bulanan tanpa jeda, dianggap sebagai fondasi terpenting agar asas gotong royong dalam BPJS Kesehatan dapat terus berjalan.
"Tidak ada asuransi sosial yang bisa bertahan kalau pesertanya hanya mendaftar saat sakit, lalu berhenti membayar begitu sembuh. Kontribusi saya sederhana: iuran dibayar setiap bulan, tanpa jeda, tanpa menunggu sakit," jelasnya.
Ia menambahkan, rasa kepedulian antar-sesama menjadi penggerak utama dalam menjaga keteraturan pembayaran iuran tersebut.
"Bukan karena saya rajin ke rumah sakit. Justru karena saya hampir tidak pernah ke sana. Iuran yang saya bayar membantu menanggung peserta lain yang sedang membutuhkan, dan suatu hari nanti, kalau giliran saya yang sakit, sistem yang sama akan menanggung saya," tambah Syarif.
"Prinsipnya gotong royong. Sistem ini hanya bekerja kalau semua ikut berkontribusi, bukan hanya saat butuh," tegasnya lagi.
Baca Juga: Cara Memperbaiki Data BPJS Kesehatan yang Salah, Bisa Lewat Aplikasi hingga WhatsApp
Langkah kedua yang tak kalah penting adalah menekan angka klaim kesehatan dari sisi pengeluaran melalui gaya hidup sehat. Syarif menilai, menjaga kesehatan diri secara tidak langsung membantu dana BPJS Kesehatan dialokasikan bagi pasien yang mengalami sakit berat.
"Membayar iuran menjaga sisi pendapatan BPJS Kesehatan. GERMAS menjaga sisi pengeluaran. Kalau kita sebagai peserta lebih sehat, klaim turun, dana bertahan lebih lama, dan lebih banyak yang tersedia untuk mereka yang benar-benar membutuhkan perawatan," terangnya.
Dalam kesehariannya sebagai pekerja kantoran, Syarif meluangkan waktu 20 menit sehari untuk berolahraga, seperti latihan beban dan kardio, atau memanfaatkan bodyweight exercise seperti push-up, squat, dan plank. Selain itu, ia menjaga pola makan dengan memperbanyak konsumsi air putih, sayur tauge, buah pepaya, serta asupan protein dari telur dan ikan, sembari membatasi konsumsi minuman manis.
Ia juga menekankan pentingnya waktu istirahat yang cukup minimal 6 hingga 7 jam setiap malam serta pembatasan penggunaan ponsel menjelang tidur untuk menjaga kualitas tidur.
Bagi Syarif, setiap perubahan kecil dalam gaya hidup sehari-hari memiliki dampak besar bagi keberlanjutan sistem kesehatan nasional.
"Setiap pilihan kecil itu, air putih daripada minuman manis, 20 menit olahraga, tidur tepat waktu, adalah cara saya menjaga agar iuran yang saya bayar bisa sepenuhnya digunakan untuk gotong royong menanggung mereka yang sedang berjuang melawan penyakit berat," ungkapnya.
"Kalau ribuan orang melakukan hal yang sama, bayangkan berapa triliun yang bisa dihemat dan berapa banyak lagi pasien yang bisa tertanggung dengan layak," sambung Syarif.
Mengakhiri pautannya, Syarif mengingatkan bahwa menjaga keberlangsungan BPJS Kesehatan merupakan kewajiban kolektif seluruh lapisan masyarakat, bukan semata beban pemerintah.
"BPJS Kesehatan bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau direksi. Setiap peserta punya andil. Bayar iuran, jaga kesehatan. Dua hal itu tidak spektakuler, tapi kalau dilakukan jutaan orang secara konsisten, sistem ini bisa bertahan," pungkasnya.
"Saya tidak sempurna. Tapi saya berusaha agar iuran saya benar-benar bisa menolong orang lain," tutupnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 5Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 6Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 7Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 8Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








