Abu Anak Krakatau Sampai Jakarta, Ini yang Perlu Dilakukan Warga

AKURAT.CO Abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau terpantau mencapai sejumlah wilayah Jakarta. Kondisi ini membuat masyarakat perlu lebih waspada, terutama ketika beraktivitas di luar ruangan.
Abu vulkanik bukan sekadar debu biasa. Partikel halus yang terbawa angin dapat masuk ke saluran pernapasan, mengenai mata, hingga menempel pada kulit. Dampaknya bisa lebih terasa bagi anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki gangguan pernapasan seperti asma dan PPOK.
Paparan abu dapat menyebabkan batuk, sakit tenggorokan, pilek, sesak napas hingga mengi. Karena itu, masyarakat sebaiknya mengurangi aktivitas di luar rumah ketika abu masih beterbangan.
Mata juga perlu mendapat perhatian. Partikel abu yang tajam dapat menyebabkan mata merah, gatal, berair, atau terasa seperti kemasukan benda asing. Jika abu masuk ke mata, hindari menguceknya karena gesekan dapat memperparah iritasi.
Kulit yang terkena abu juga bisa mengalami gatal, kemerahan, ruam atau rasa perih. Setelah beraktivitas di luar ruangan, masyarakat dianjurkan segera membersihkan bagian tubuh yang terpapar.
Baca Juga: Tak Bisa Sembarangan, Ini Cara Bersihkan Rumah dari Abu Vulkanik
Paparan dalam jangka panjang juga perlu diwaspadai. Kandungan silika dalam abu vulkanik dapat berisiko terhadap kesehatan paru-paru apabila seseorang terpapar dalam waktu lama.
Untuk mengurangi risiko, masyarakat dapat menggunakan masker, terutama N95 atau masker medis, ketika harus keluar rumah. Kacamata pelindung juga dapat membantu mencegah abu masuk ke mata.
Di dalam rumah, pintu, jendela dan ventilasi sebaiknya ditutup selama abu masih menyebar. Jika abu menempel di permukaan rumah, basahi terlebih dahulu sebelum dibersihkan agar partikelnya tidak kembali beterbangan.
Bagi pengguna lensa kontak, penggunaan sementara sebaiknya dihentikan ketika kondisi udara dipenuhi abu. Jika muncul sesak napas, gangguan mata atau keluhan kesehatan lain setelah terpapar abu, segera mencari pertolongan medis.
Erupsi gunung tidak selalu bisa dikendalikan, tetapi paparan abunya dapat dikurangi. Dengan langkah sederhana dan kewaspadaan, masyarakat dapat tetap beraktivitas sambil menjaga kesehatan di tengah sebaran abu vulkanik.
Sumber: Berbagai Sumber.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 4Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 5Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 6Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 7Cara Cek Desil Online Oktober 2026 Pakai NIK KTP, Ini Link Resminya
- 8Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







