Begini Peran Ulama saat Masyarakat Demo Pemerintah karena Ketidakadilan

AKURAT.CO Dalam sejarah Islam, ulama selalu hadir sebagai garda moral yang memandu umat menghadapi situasi krisis. Ketika masyarakat merasa terhimpit oleh kebijakan penguasa yang tidak adil, aksi massa atau bentuk protes kerap menjadi pilihan.
Pada momen seperti ini, peran ulama menjadi sangat penting, bukan hanya sebagai penengah, tetapi juga sebagai penjaga arah agar perjuangan tidak menyimpang dari nilai-nilai Islam.
Al-Qur’an menegaskan bahwa menegakkan keadilan adalah bagian dari tugas keimanan. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنْفُسِكُمْ
Yā ayyuhallażīna āmanū kūnū qawwāmīna bil-qisṭi syuhadā’a lillāhi walau ‘alā anfusikum.
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, meskipun terhadap dirimu sendiri (QS. An-Nisa: 135).
Baca Juga: Doa saat Melaksanakan Demo, agar Selamat dan Sukses Menyampaikan Aspirasi
Ayat ini memberikan dasar moral bagi ulama untuk mendukung aspirasi rakyat ketika menghadapi ketidakadilan. Namun dukungan itu bukan berarti membenarkan segala cara, melainkan mengarahkan agar protes dilakukan dalam koridor syariat: damai, beradab, dan tidak merusak.
Dalam hadis, Rasulullah saw. bersabda: “Sebaik-baik jihad adalah perkataan yang benar di hadapan penguasa yang zalim” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi).
Hadis ini memberi legitimasi bagi ulama untuk mengingatkan penguasa dengan lantang, sekaligus menjadi inspirasi bagi masyarakat bahwa kritik terhadap pemerintah merupakan bagian dari jihad yang mulia.
Peran ulama dalam konteks demonstrasi karena ketidakadilan dapat dirinci dalam beberapa poin.
Pertama, memberi pencerahan moral. Ulama harus menjelaskan kepada masyarakat bahwa aspirasi hendaknya disuarakan dengan niat ikhlas karena Allah, bukan karena kebencian pribadi atau dorongan hawa nafsu. Mereka menanamkan kesadaran bahwa perjuangan harus tetap dalam bingkai amar ma’ruf nahi munkar.
Kedua, menjadi pengendali emosi massa. Saat aksi berlangsung, emosi rakyat seringkali memuncak. Di sinilah ulama hadir untuk mengingatkan pentingnya kesabaran, menghindarkan dari anarkisme, serta mencegah aksi berubah menjadi perusakan.
Rasulullah saw. pernah bersabda: “Seorang Muslim adalah yang tangan dan lisannya tidak menyakiti Muslim lainnya” (HR. Bukhari). Prinsip ini relevan agar demonstrasi tidak berubah menjadi mudarat bagi sesama.
Baca Juga: Hukum Merusak Fasilitas Umum saat Demo menurut Islam
Ketiga, menjembatani dialog dengan penguasa. Dalam tradisi Islam klasik, ulama kerap berperan sebagai mediator antara masyarakat dan pemerintah.
Mereka menyampaikan aspirasi rakyat dengan bahasa yang lebih terukur, sehingga konflik dapat diminimalisir. Hal ini terlihat dalam sejarah, misalnya peran ulama di Baghdad, Kairo, hingga Nusantara yang sering menjadi penyalur suara rakyat.
Keempat, meneguhkan harapan dan doa. Ulama bukan hanya hadir di lapangan aksi, tetapi juga membimbing umat dengan doa agar perjuangan mereka mendapat keberkahan. Doa yang bisa dipanjatkan misalnya:
اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلْمِ وَالْفِتَنِ
Allahumma allif bayna qulūbinā, wa aṣliḥ dzāta bayninā, wahdinā subula as-salām, wa najjinā mina az-ẓulmi wal-fitani.
Artinya: Ya Allah, satukan hati-hati kami, perbaikilah hubungan di antara kami, tunjukilah kami jalan keselamatan, dan lindungilah kami dari kezaliman serta fitnah.
Dengan peran yang demikian, ulama tidak sekadar menjadi pengamat, melainkan aktor kunci dalam mengawal aspirasi rakyat. Mereka menjaga agar perjuangan menuntut keadilan tidak kehilangan arah, tetap bernilai ibadah, dan menjadi sarana memperjuangkan hak-hak umat secara bermartabat.
Akhirnya, peran ulama dalam aksi protes adalah penegasan bahwa Islam tidak pernah memisahkan agama dari kehidupan sosial.
Ulama adalah cermin moral yang memastikan perjuangan rakyat selalu selaras dengan nilai rahmatan lil ‘alamin, menjaga keadilan tanpa menimbulkan kerusakan, serta menghadirkan solusi dengan hikmah.
Wallahu A'lam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 8Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK





