Akurat Logo

Gus Ipul Jawab Isu Cawe-cawe Istana di Muktamar ke-35 NU

Lufaefi | 1 September 2026, 07:00 WIB
Gus Ipul Jawab Isu Cawe-cawe Istana di Muktamar ke-35 NU
Ketua Panitia Muktamar NU ke 35 Tambakberas Jombang Gus Ipul - NU Online

AKURAT.CO Ketua Panitia Pelaksana (OC) Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), Saifullah Yusuf alias Gus Ipul, membantah adanya intervensi Istana dalam pelaksanaan muktamar.

Gus Ipul menepis isu yang menyebut pasangan KH Miftachul Akhyar dan KH Abdul Hakim Mahfudz alias Gus Kikin merupakan paket yang disodorkan pemerintah.

Menurutnya, proses Muktamar ke-35 NU berjalan tanpa campur tangan pihak Istana.

"Berita-berita yang selama ini kita lihat di medsos kadang-kadang itu jauh dari kenyataan, ya. Tidak ada intervensi, tidak ada hal-hal yang perlu dikhawatirkan dalam proses muktamar ini," kata Gus Ipul di Gedung DPR, Jakarta, Senin (31/8/2026).

Baca Juga: Muktamar NU 35 Diwarnai Tudingan Intervensi, Muncul Istilah “Papi Umba Pakocir”

Gus Ipul mengatakan NU telah 35 kali menggelar muktamar dengan berbagai dinamika.

Ia menilai organisasi memiliki mekanisme sendiri dalam menyelesaikan persoalan internal.

"Banyak isu di luar sana ya. Banyak sekali, dulu tahu sendiri kan isunya kayak apa ini. Tapi ternyata kita lihat semua berjalan lancar, ya," ujarnya.

Selain isu intervensi, Gus Ipul menyoroti perubahan mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-35.

Pada muktamar sebelumnya, pemilihan menggunakan mekanisme satu kader satu suara atau one man one vote.

Kali ini, pemilihan Ketua Umum PBNU dilakukan melalui Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).

Cabang dan wilayah yang memiliki hak suara mengusulkan sejumlah nama calon untuk kemudian ditentukan melalui mekanisme AHWA.

Gus Ipul menilai sistem baru tersebut lebih sesuai dengan kondisi NU saat ini.

"Kedua juga ada apa, sistem pemilihan baru untuk ketua umum yang lebih cocok dengan kondisi hari ini, menghindari persaingan yang lebih ketat atau yang lebih keras, yang membuat pengelompokan," katanya.

Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, kemudian menetapkan Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU periode 2026–2031.

Sementara itu, KH Miftachul Akhyar kembali dipercaya sebagai Rais Aam PBNU.

Baca Juga: Cegah Anak Jadi Pelaku Bullying, Ini 6 Cara Orang Tua Menumbuhkan Empati Sejak Dini

Keduanya ditetapkan melalui mekanisme AHWA yang beranggotakan sembilan ulama.

Pergantian terjadi pada posisi Ketua Umum PBNU, dari Yahya Cholil Staquf alias Gus Yahya kepada Gus Kikin. Sementara posisi Rais Aam kembali dipercayakan kepada KH Miftachul Akhyar.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi