Ini Rahasia Frugal Living ala Sahabat Nabi yang Bikin Hidup Tenang dan Berkah

AKURAT.CO Di tengah harga kebutuhan yang terus bergerak naik, banyak orang mulai mencari cara agar penghasilan tidak habis sebelum akhir bulan. Salah satu gaya hidup yang belakangan populer adalah frugal living, yakni kebiasaan mengelola uang secara hemat, sadar, dan berdasarkan kebutuhan.
Menariknya, jauh sebelum istilah frugal living dikenal, kehidupan para sahabat Nabi Muhammad SAW telah memperlihatkan semangat serupa. Mereka tidak menjadikan harta sebagai tujuan utama kehidupan. Harta digunakan secukupnya, sementara kelebihannya diarahkan untuk kebaikan.
Namun, frugal living dalam Islam bukan berarti hidup sengsara atau menolak menikmati rezeki. Prinsipnya adalah tidak berlebihan dan tidak menghamburkan harta.
Allah SWT berfirman:
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS. Al-A'raf: 31).
Ayat ini memberikan prinsip sederhana: menikmati rezeki diperbolehkan, tetapi konsumsi harus memiliki batas.
Baca Juga: 5 Ritual Pagi Islami 10 Menit untuk Kembalikan Ketenangan Jiwa
Salah satu teladan yang sering dikaitkan dengan kesederhanaan adalah Umar bin Khattab. Sebagai seorang pemimpin, Umar dikenal memiliki gaya hidup sederhana dan sangat berhati-hati menggunakan harta. Kesederhanaan tersebut bukan karena tidak mampu memiliki sesuatu, melainkan karena adanya kesadaran bahwa harta dan jabatan merupakan amanah.
Dari sini terdapat pelajaran penting. Frugal living bukan sekadar mencari barang murah. Ia dimulai dari kemampuan membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
Misalnya, seseorang membutuhkan telepon genggam untuk bekerja. Membeli perangkat yang sesuai kebutuhan tentu berbeda dengan mengganti telepon setiap kali model terbaru muncul hanya karena mengikuti tren.
Begitu pula dengan pakaian, kendaraan, makanan, dan hiburan. Islam tidak mengharamkan seseorang menikmati hal-hal tersebut selama diperoleh dan digunakan secara halal serta tidak berlebihan.
Rahasia berikutnya adalah membiasakan diri menabung dan menyiapkan kebutuhan masa depan. Hidup hemat bukan berarti seluruh uang harus dihabiskan untuk bersedekah pada hari ini tanpa memikirkan kebutuhan keluarga esok hari.
Rasulullah SAW sendiri memberikan teladan dalam mengatur kebutuhan dan persiapan menghadapi masa depan. Dalam konteks kehidupan modern, prinsip tersebut dapat diterapkan melalui dana darurat, tabungan pendidikan, maupun perencanaan kebutuhan keluarga.
Tetapi ada satu hal yang membedakan frugal living Islami dengan sekadar gaya hidup hemat: orientasinya bukan hanya mengurangi pengeluaran, melainkan menghadirkan keberkahan.
Karena itu, penghematan tidak seharusnya membuat seseorang menjadi kikir. Allah SWT berfirman:
وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَىٰ عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ
“Janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan jangan pula engkau terlalu mengulurkannya.” (QS. Al-Isra: 29).
Pesannya jelas: jangan boros, tetapi jangan pula pelit.
Baca Juga: Bikin Resah Warga, Bagaimana Hukum Menghadirkan Sound Horeg dalam Pandangan Islam?
Maka, seseorang bisa mulai menerapkan frugal living dengan langkah sederhana. Buat anggaran bulanan, bedakan kebutuhan dan keinginan, kurangi pembelian impulsif, manfaatkan barang yang masih layak, hindari utang konsumtif, sisihkan sebagian pendapatan untuk masa depan, dan tetap menyediakan ruang untuk sedekah.
Pada akhirnya, hidup sederhana bukan tentang seberapa sedikit seseorang memiliki sesuatu. Yang lebih penting adalah seberapa mampu ia mengendalikan keinginannya.
Sahabat Nabi memberikan pelajaran bahwa ketenangan tidak selalu datang dari bertambahnya harta. Terkadang, ketenangan justru muncul ketika seseorang berhenti mengejar semua yang diinginkan, merasa cukup dengan yang dimiliki, lalu menggunakan rezekinya untuk hal-hal yang benar-benar bernilai.
Itulah frugal living dalam perspektif Islam: hemat tanpa kikir, menikmati tanpa berlebihan, menabung tanpa takut berbagi, dan memiliki harta tanpa membiarkan harta menguasai hati.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 3Denmark Terbuka: Kena Kartu Merah di Semifinal, Fajar/Fikri Minta Peraturan Baru Time Clock Ditinjau Ulang
- 4Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 5Dorongan Hak Angket Ijazah Gibran Menguat, Jokowi Mulai Panik?
- 6Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 7Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 8Cara Login dan Mengisi Aplikasi Sahabat KBC Kemenag untuk Guru dan Murid
- 9Presiden Prabowo Terima Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang
- 10Survei PPI: Mayoritas Publik Puas dengan Kinerja Pemerintah dan Presiden Prabowo





