Superkomputer Perkirakan Ancaman Kepunahan Manusia karena 'Triple Whammy', Ini Penjelasannya

AKURAT.CO Para ilmuwan mengungkapkan bahwa akhir dunia mungkin terjadi bukan dalam ledakan dramatis, tetapi melalui apa yang disebut sebagai 'triple whammy'.
Triple Whammy adalah sebuah kombinasi mematikan dari perubahan iklim yang mengakibatkan penurunan pasokan makanan, kenaikan permukaan air laut dan suhu bumi yang tak tertahankan.
Peristiwa ini diprediksi oleh superkomputer, diperkirakan akan terjadi karena semua benua bertabrakan dan membentuk satu daratan raksasa yang panas dan tidak bersahabat dalam waktu 250 juta tahun ke depan.
Pada titik ini di masa depan, Matahari akan memancarkan lebih banyak cahaya dan bumi akan menjadi lebih hangat. Pembentukan benua super juga akan menyebabkan letusan gunung berapi yang lebih sering, melepaskan CO2 dalam jumlah besar ke atmosfer.
Dikutip dari Metro.co.uk, Minggu (5/5/2024), Dr. Alexander Farnsworth dari Universitas Bristol mengungkapkan bahwa benua super baru ini akan menghasilkan efek mematikan, termasuk efek kontinental, peningkatan suhu Matahari dan peningkatan CO2 di atmosfer yang mengakibatkan suhu bumi yang ekstrem.
Menurut Dr. Farnsworth, kontinentalitas benua super akan menciptakan lingkungan yang tidak ramah bagi mamalia, termasuk manusia, karena kurangnya sumber makanan dan air, serta ketidakmampuan untuk mengeluarkan panas tubuh melalui keringat.
Untuk memperkirakan dampak benua super pada iklim masa depan, tim ilmuwan internasional telah menerapkan model iklim yang memperhitungkan tren suhu, angin, hujan dan kelembapan. Mereka juga menggunakan model pergerakan lempeng tektonik, kimia laut dan biologi untuk memetakan tingkat CO2 di masa mendatang.
Hasilnya memperkirakan bahwa ketika benua super terbentuk, hanya sebagian kecil daratan yang dapat dihuni oleh mamalia, termasuk manusia.
Meskipun proyeksi ini melihat jauh ke masa depan, Dr. Eunice Lo menekankan pentingnya fokus pada krisis iklim saat ini. Dia mengingatkan bahwa ekstrem panas yang sudah terjadi merupakan akibat langsung dari emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh manusia.
Upaya untuk mencapai emisi net-zero segera dianggap penting untuk mengatasi krisis iklim saat ini dan mengurangi dampak yang akan terjadi pada masa depan.
Pada akhirnya, penelitian ini memperingatkan bahwa meskipun Bumi mungkin tetap dalam 'zona layak huni' dalam 250 juta tahun mendatang, tingkat CO2 yang lebih tinggi akan membuat sebagian besar wilayah di dunia tidak dapat dihuni. Ini menyoroti perlunya tindakan sekarang untuk mencegah bencana yang akan datang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







