Algoritma Dynamic Pricing Bikin Tarif Ride-Hailing Bisa Melonjak, Apa Itu?

AKURAT.CO Tarif di aplikasi ride-hailing seperti Gojek dan Grab di Indonesia tidak naik turun secara acak. Perubahan harga tersebut merupakan hasil dari sistem dynamic pricing yang diatur algoritma untuk menyeimbangkan permintaan dan ketersediaan pengemudi secara real-time.
Sistem ini biasanya menaikkan tarif saat permintaan melonjak dan menurunkannya ketika kondisi sepi. Tujuannya agar lebih banyak mitra pengemudi bersedia menerima order dan waktu tunggu penumpang tetap singkat, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, atau Bandung.
Secara teknis, model harga dinamis membaca berbagai variabel seperti jumlah permintaan di area tertentu, jumlah driver yang aktif, waktu, hingga kepadatan lalu lintas. Semua data tersebut diproses dalam hitungan detik untuk menentukan tarif yang dianggap paling optimal.
Lonjakan harga sering terjadi saat hujan deras, jam pulang kantor, akhir pekan, atau ketika ada konser dan acara besar. Dalam situasi seperti itu, tarif bisa meningkat cukup signifikan untuk mendorong lebih banyak driver online di lokasi yang permintaannya tinggi.
Di Indonesia, kenaikan ini sering disebut sebagai 'tarif sibuk' atau 'biaya tambahan jam ramai'. Platform mengklaim mekanisme tersebut membantu menjaga ketersediaan layanan di tengah lonjakan permintaan yang tidak terduga.
Bagi pengguna, dynamic pricing dianggap praktis karena tetap menyediakan kendaraan saat dibutuhkan. Namun di sisi lain, banyak yang merasa bingung karena harga perjalanan yang sama bisa berbeda jauh hanya dalam selang waktu singkat.
Persepsi keadilan menjadi isu penting dalam perdebatan ini. Jika alasan kenaikan tarif tidak dijelaskan secara transparan, pengguna cenderung merasa dirugikan meskipun sistem bekerja sesuai logika pasar.
Sebagian penumpang bahkan mempertanyakan lonjakan harga saat kondisi darurat, seperti cuaca ekstrem atau situasi macet parah. Dalam momen tersebut, kebutuhan transportasi mendesak sering membuat konsumen tidak memiliki banyak pilihan.
Dari sisi mitra pengemudi, pertanyaan soal keadilan juga muncul. Meskipun tarif naik, pembagian pendapatan dan skema insentif yang diatur algoritma dapat memengaruhi besaran penghasilan bersih yang diterima driver, sebagaimana dikutip dari The Guardian, Selasa (24/2/2026).
Pada akhirnya, dynamic pricing mencerminkan dilema antara efisiensi teknologi dan rasa keadilan sosial. Selama algoritma menjadi penentu utama tarif transportasi digital, perdebatan soal adil atau tidaknya sistem ini kemungkinan akan terus berlangsung.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK






