Wapres Gibran Tertarik! Bukan Sekadar Drone, Teknologi ITB Ini Bisa Pantau Kualitas Udara dan Karhutla

AKURAT.CO Wakil Presiden, Gibran Rakabuming Raka, menyoroti inovasi mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) yang berpotensi digunakan untuk memperkuat pemantauan lingkungan dan mendeteksi lebih dini potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Inovasi tersebut bernama Eaglesense, teknologi yang menggabungkan drone dengan perangkat sensor untuk memantau kualitas udara.
Teknologi ini menjadi salah satu dari lima inovasi mahasiswa dan dosen ITB yang dipresentasikan dalam audiensi bersama Gibran di Istana Wapres, Jakarta, Kamis (10/9/2026).
Gibran mengapresiasi berbagai inovasi yang dikembangkan sivitas akademika ITB. Menurutnya, karya-karya tersebut memiliki peluang untuk menjawab kebutuhan nyata di berbagai sektor.
"Berbagai karya tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai capaian akademik, tetapi dapat dihilirkan menjadi solusi teknologi yang menjawab kebutuhan masyarakat, dunia industri, dan tantangan pembangunan nasional," jelasnya dalam keterangannya.
Perwakilan Tim Eaglesense, Jhon Chritabel Fausta Silalahi, menjelaskan teknologi tersebut dirancang dengan mengintegrasikan drone dan kitbox sensor yang dilengkapi lima sensor untuk mengukur kualitas udara.
Data yang diperoleh dari sensor kemudian diproses menggunakan Raspberry Pi sebelum dikirim melalui jaringan 4G menuju basis data. Selanjutnya, informasi tersebut ditampilkan dalam sebuah dasbor pemantauan.
“Di dalam kitbox sensor tersebut memiliki beberapa sensor, yaitu total ada 5, yang akan mengukur kualitas udara. Kemudian dari hasil tersebut akan diproses oleh Raspi, kemudian Raspi akan mengirimkan dalam bentuk format data, dikirimkan melalui 4G ke database, dan database akan ditampilkan melalui dashboard,” kata Jhon.
Penggunaan drone memungkinkan pengumpulan data dilakukan pada wilayah yang lebih luas, termasuk area yang sulit dijangkau secara langsung.
Data yang dikumpulkan juga dapat memberikan gambaran kondisi kualitas udara secara lebih cepat.
Teknologi tersebut berpotensi dikembangkan sebagai instrumen pemantauan lingkungan, termasuk untuk mengidentifikasi perubahan kualitas udara akibat paparan asap yang dapat menjadi salah satu indikator awal potensi karhutla.
Baca Juga: Kapal Feri Terbakar di Perairan Filipina, 5 Tewas dan Puluhan Penumpang Masih Hilang
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








