RI Jajakan 32 Proyek Infrastruktur ke Investor Jepang

AKURAT.CO Pemerintah Indonesia menawarkan 32 proyek investasi infrastruktur strategis ke hadapan investor Jepang.
Proyek tersebut ditawarkan melalui Indonesia-Japan Infrastructure and Transportation Business Forum and Business Matching yang digelar di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tokyo pada 27-28 Agustus 2026.
Forum yang digelar Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian bersama KBRI Tokyo tersebut mempertemukan pemilik proyek dari Indonesia dengan investor, pelaku usaha, lembaga pembiayaan, serta mitra strategis dari Jepang.
Baca Juga: Beasiswa Kuliah di Jepang dari ADB-JSP 2026-2027: Syarat, Cara Daftar, dan Biaya yang Ditanggung
Sebanyak 32 proyek yang ditawarkan berasal dari sembilan BUMN dan BUMD. Proyek mencakup sektor jalan dan jalan tol, pengembangan kawasan hunian atau housing and township development, properti komersial, perkeretaapian, Transit-Oriented Development (TOD), pelabuhan dan logistik, hingga fasilitas fabrikasi baja.
Pemerintah berharap forum tersebut tidak berhenti pada penjajakan kerja sama, tetapi berlanjut ke proses business matching, pembiayaan, dan investasi yang lebih konkret.
Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kemenko Perekonomian, Ferry Irawan mengatakan, penguatan investasi infrastruktur menjadi bagian penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
"Untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 8% pada 2029, pemerintah terus mendorong investasi produktif yang dapat meningkatkan produktivitas, mempercepat transfer teknologi, serta menciptakan lapangan kerja berkualitas," kata Ferry dalam keterangan tertulis, Jumat (4/9/2026).
Sembilan BUMN/BUMD pemilik proyek yang hadir dalam forum tersebut antara lain PT PII, PT SMI, PT KAI, PT Pelindo, PT Hutama Karya, PT Jasa Marga, PT Wijaya Karya, PT Waskita Toll Road, dan PT MRT Jakarta.
Sementara itu, PT PP dan Perumnas turut mempresentasikan proyek yang dimiliki melalui sesi project showcase secara daring.
Beragamnya proyek yang ditawarkan menunjukkan bahwa kerja sama investasi Indonesia-Jepang tidak hanya diarahkan pada pembangunan transportasi, tetapi juga mencakup ekosistem infrastruktur yang lebih luas.
Di sektor transportasi terdapat peluang pada jalan dan jalan tol, perkeretaapian, serta pengembangan kawasan berbasis TOD. Adapun sektor lainnya mencakup pelabuhan, logistik, hunian, properti komersial, dan fabrikasi baja.
Forum tersebut juga menghadirkan sejumlah lembaga dan institusi yang memiliki peran dalam ekosistem investasi dan pembiayaan proyek. Di antaranya Direktorat Promosi Wilayah Asia Timur, Asia Selatan, Timur Tengah, dan Afrika BKPM, PT PII, JICA, dan JETRO.
Sementara Direktur Pembiayaan dan Investasi PT SMI bertindak sebagai moderator dalam sesi forum mengenai penguatan kemitraan strategis antara BUMN/BUMD Indonesia dengan investor Jepang.
Minat terhadap peluang investasi tersebut terlihat dari partisipasi lebih dari 50 perwakilan dari sekitar 36 perusahaan Jepang, calon investor, lembaga keuangan, dan institusi terkait.
Sejumlah perusahaan dan lembaga yang hadir antara lain Sumitomo Corporation, Toyota Tsusho, Mizuho Bank, Tokyu JR East, SMBC, dan Penta Ocean.
Kehadiran pelaku usaha dan lembaga keuangan Jepang tersebut menjadi bagian penting dari proses business matching.
Setelah forum, peluang kerja sama diharapkan dapat dilanjutkan melalui pembahasan proyek secara lebih spesifik antara pemilik proyek dan calon investor.
Ferry mengatakan Indonesia memiliki fundamental ekonomi yang tetap kuat di tengah ketidakpastian ekonomi global.
"Pada semester I tahun 2026, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,61%, inflasi terkendali pada 3,34% secara tahunan, dan realisasi investasi telah melampaui Rp1.010 triliun," ujarnya.
Menurutnya, kepercayaan investor juga tercermin dari keputusan S&P Global Ratings mempertahankan peringkat utang Indonesia pada level BBB dengan prospek stabil.
Selain itu, survei JETRO FY2025 menunjukkan 69,1% perusahaan Jepang di Indonesia memperkirakan dapat membukukan laba operasi.
Kerja sama investasi dengan Jepang memiliki sejarah panjang. Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) KBRI Tokyo DCM, Maria Renata Hutagalung mengatakan, hubungan Indonesia dan Jepang telah berlangsung selama sekitar tujuh dekade.
Menurut Maria, Jepang menjadi salah satu mitra yang konsisten dalam mendukung pembangunan Indonesia. Sejumlah proyek strategis seperti MRT Jakarta dan Pelabuhan Patimban menjadi bagian dari kerja sama kedua negara.
"Melalui forum ini, kerja sama yang telah terjalin diharapkan dapat terus diperkuat, khususnya dalam mendorong investasi, pengembangan kapasitas, serta transfer pengetahuan dan teknologi," kata Maria.
Kerja sama tersebut menjadi semakin relevan ketika pemerintah berupaya meningkatkan kualitas investasi, bukan hanya dari sisi nilai penanaman modal, tetapi juga dampaknya terhadap produktivitas dan kapasitas ekonomi nasional.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK










