Akurat Logo

467 Penerbangan Terdampak Abu Vulkanik, Pemerintah Pantau Bandara Tiap 4 Jam

Esha Tri Wahyuni | 7 September 2026, 17:56 WIB
467 Penerbangan Terdampak Abu Vulkanik, Pemerintah Pantau Bandara Tiap 4 Jam
Suasana di Bandara Soekarno-Hatta pasca penutupan sementara akibat abu vulkanik erupsi gunung anak krakatau.

AKURAT.CO Sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau berdampak terhadap operasional penerbangan di sejumlah wilayah Indonesia.

Kementerian Perhubungan mencatat sebanyak 467 penerbangan terdampak, terdiri atas 409 penerbangan domestik dan 58 penerbangan internasional.

Gangguan tersebut turut berdampak terhadap sekitar 150 ribu penumpang. Pemerintah memilih menutup sementara sejumlah bandara yang berada di jalur sebaran abu vulkanik demi menjaga keselamatan penerbangan.

Baca Juga: Pemerintah Siapkan Alternatif Sejumlah Bandara Yang Tertutup Abu Vulkanik Anak Krakatau

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengatakan, pemerintah terus memantau perkembangan sebaran abu vulkanik bersama Kementerian Perhubungan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta pemangku kepentingan terkait.

“Hari ini saya berkomunikasi secara intensif dengan Menteri Perhubungan, dengan Kepala BMKG, kemudian tentunya berbagai stakeholders lain yang terkait dengan situasi terkini. Kita mengetahui erupsi Anak Gunung Krakatau telah mengakibatkan debu atau abu vulkanik yang menyebar sampai dengan wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya,” ujar AHY, dalam keterangan tertulis, Senin (7/9/2026).

Menurut AHY, pemerintah tidak ingin mengambil risiko dengan membuka kembali penerbangan sebelum kondisi udara dinilai aman. Sebab, keberadaan abu vulkanik di jalur penerbangan dapat menimbulkan risiko terhadap keselamatan pesawat.

“Maskapai tentunya harus benar-benar menaati SOP, protap yang menjunjung tinggi faktor keselamatan, safety first. Itu adalah prinsip yang tidak boleh ditawar. Begitu pula pengelola bandara,” tegasnya.

Kementerian Perhubungan mencatat terdapat 8 bandara yang terdampak sebaran abu vulkanik. Bandara tersebut yakni Bandara Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Radin Inten II Lampung, Husein Sastranegara Bandung, Budiarto Curug, Pondok Cabe, Taufik Kiemas, dan Atung Bungsu.

AHY menjelaskan keputusan penutupan sementara bandara dilakukan berdasarkan informasi penerbangan melalui Notice to Airmen (NOTAM) yang diterbitkan AirNav Indonesia.

Informasi tersebut kemudian disandingkan dengan hasil pengujian yang dilakukan BMKG untuk mengetahui keberadaan abu vulkanik.

“Berdasarkan NOTAM, Notice to Airmen atau Notice to Air Mission, yang dikirim atau diproduksi oleh AirNav Indonesia. Kemudian disandingkan dengan paper test yang dilakukan oleh BMKG, memang menunjukkan abu vulkanik itu sudah menyebar dari wilayah atau kawasan Anak Gunung Krakatau ke arah timur laut, tentunya sampai dengan wilayah Jabodetabek. Itu mengapa per hari ini ada sejumlah bandara utama yang harus ditutup,” jelas AHY.

Sebaran abu vulkanik yang bergerak ke arah timur laut tersebut menjadi salah satu pertimbangan pemerintah dalam menentukan operasional bandara.

Pemerintah melakukan pemantauan secara berkala untuk melihat perubahan kondisi di lapangan. AHY mengatakan pengujian terhadap keberadaan abu vulkanik dilakukan setiap empat jam.

Hasil pengujian tersebut menjadi salah satu dasar untuk mengevaluasi apakah bandara yang ditutup sementara sudah memungkinkan untuk kembali melayani penerbangan.

“Dilakukan paper test itu setiap empat jam untuk memastikan apakah sudah berkurang dan apakah memungkinkan untuk dibuka kembali bandara-bandara yang sementara ditutup tadi,” katanya.

Dengan mekanisme tersebut, pembukaan kembali bandara tidak dilakukan berdasarkan perkiraan semata.

Pemerintah akan melihat hasil pemantauan dan pengujian terbaru sebelum memutuskan apakah penerbangan dapat kembali beroperasi.

AHY menegaskan keselamatan menjadi pertimbangan utama dalam setiap keputusan operasional penerbangan. Pemerintah juga meminta maskapai dan pengelola bandara tetap mengikuti standar operasional dan prosedur keselamatan yang berlaku.

“Pemerintah tentunya tidak ingin mengambil risiko dengan memaksakan penerbangan beroperasi apabila hasil pemantauan masih menunjukkan potensi bahaya bagi keselamatan penerbangan,” ujar AHY.

Penutupan sementara sejumlah bandara tersebut berimbas langsung terhadap mobilitas masyarakat. Dari total 467 penerbangan yang terdampak, sebanyak 409 merupakan penerbangan domestik dan 58 penerbangan internasional.

Secara keseluruhan, sekitar 150 ribu penumpang terdampak akibat gangguan operasional penerbangan tersebut.

Besarnya jumlah penerbangan dan penumpang yang terdampak membuat pemerintah harus menyeimbangkan kebutuhan pemulihan konektivitas udara dengan faktor keselamatan.

Namun, pemerintah belum menetapkan pembukaan kembali bandara hanya berdasarkan kebutuhan untuk mengurangi gangguan penerbangan.

Perkembangan sebaran abu vulkanik masih menjadi faktor penentu. Selama hasil pemantauan menunjukkan adanya potensi risiko, operasional penerbangan di bandara terdampak akan tetap dievaluasi secara berkala.

AHY mengatakan pemerintah akan terus melakukan koordinasi dengan Kementerian Perhubungan, BMKG, AirNav Indonesia, maskapai, dan pengelola bandara. Informasi mengenai perkembangan penerbangan juga akan terus disampaikan kepada masyarakat.

“Yang paling penting adalah kita terus monitor perkembangannya dan tentunya masyarakat juga mendapatkan informasi yang akurat, transparan, dan terus diperbarui mengenai kondisi penerbangan,” tukasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.