Chatib Basri Sarankan Fintek Terapkan Strategi Path to Profitability

AKURAT.CO Ekonom senior Chatib Basri mengingatkan perusahaan financial technology (fintech) harus menerapkan strategi path to profitability di tengah kondisi tingkat suku bunga yang diperkirakan masih relatif tinggi hingga akhir tahun.
"Kita mungkin berhadapan dengan kondisi di mana tingkat bunga masih akan relatif tinggi sampai dengan akhir tahun, dan ini punya dampak kepada industri fintech. Dalam kondisi seperti ini cost of fund akan menjadi relatif mahal, maka mau tidak mau setiap perusahaan fintech harus menerapkan strategi path to profitability," kata Chatib dikutip Sabtu (10/8/2024).
Dia mencontohkan keberhasilan India yang melakukan technology diffusion sehingga teknologi menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Menurut dia, India memiliki kemiripan dengan Indonesia dengan jumlah penduduk yang besar, vibrant democracy, dan bureaucratic hurdles.
"Dalam konteks ini, peran dari AFPI menjadi sangat krusial untuk meningkatkan produktivitas, untuk meningkatkan inklusi keuangan (financial inclusion)," kata Chatib yang merupakan Asosiasi Fintech Pendanaan Indonesia (AFPI) sekaligus Menteri Keuangan Periode 2013-2014.
Baca Juga: Ada Aturan Baru, Asuransi dan P2P Lending Kini Bisa Akses Data SLIK Nasabah
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), outstanding pembiayaan fintech peer to peer (P2P) lending pada periode Juni 2024 meningkat 26,73% year on year (yoy), dengan nominal sebesar Rp66,79 triliun. Tingkat risiko kredit macet secara agregat (TWP90) di industri fintech P2P lending dalam kondisi terjaga di posisi 2,79%, menurun dibandingkan pada Mei 2024 sebesar 2,91 persen.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Agusman meyakini pertumbuhan tersebut merupakan kerja keras dari pelaku ekosistem industri untuk membuat industri survive dalam jangka panjang.
Dia menambahkan OJK juga mendukung industri untuk mencari branding baru atas penyebutan istilah "pinjol" yang lekat dengan industri fintech karena kerap dikonotasikan negatif oleh masyarakat. Padahal, industri fintech juga membantu perekonomian dan sektor keuangan karena menyentuh masyarakat akar rumput dengan akses pinjaman (lending) yang masih terbatas.
Mengingat industri fintech menghadapi tantangan dan peluang di masa depan, pada Selasa (6/8/2024) AFPI pun menggelar "AFPI CEO Forum 2024" di Jakarta. Acara ini dinilai berhasil menjadi titik temu bagi para pelaku industri fintech lending untuk membahas berbagai permasalahan. Forum juga menghadirkan pihak regulator serta kementerian dan lembaga.
"AFPI CEO Forum 2024" menyoroti pentingnya adaptasi terhadap dinamika pasar yang semakin cepat. Adapun salah satu poin penting yang mengemuka yaitu komitmen bersama untuk memberantas praktik pinjaman online (pinjol) ilegal dan meningkatkan literasi keuangan masyarakat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







