Anomali Bunga Utang, Misbakhun: Indonesia Sendirian di Atas 7%!

AKURAT.CO Ketua Komisi XI DPR RI, Muhammad Misbakhun, menyoroti secara tajam permasalahan fundamental dalam pengelolaan fiskal Indonesia yakni tingginya beban bunga utang negara dibandingkan dengan negara-negara tetangga.
Misbakhun menegaskan bahwa masalah ini menjadi pekerjaan rumah (PR) besar yang harus segera diselesaikan oleh Menteri Keuangan (Menkeu) yang baru agar tidak terus membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Menurutnya, Indonesia mencetak utang dengan bunga yang mencapai angka signifikan, bahkan mencapai 6,97% dan dapat berfluktuasi tergantung pada ketersediaan uang di pasar. Angka ini dinilai jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara dan Asia lainnya yang memiliki tingkat risiko serupa.
Baca Juga: Misbakhun: Tokenisasi Aset Nyata Jadi Tonggak Inklusivitas Investasi Nasional
Perbandingan data yang dipaparkan Misbakhun menunjukkan adanya anomali yang mencolok. "Filipin negara yang dengan risiko seperti itu bunganya cuma 3%. Vietnam 2%. Malaysia 1 koma. Thailand 1. Terus Singapura 0 poin something. Terus Indonesia 7% sendirian, lho," ungkap Misbakhun dikutip dari kanal YouTube Akbar Faizal Uncensored, Jumat (7/11/2025).
Misbakhun menekankan bahwa salah satu tugas inti Menkeu Purbaya adalah menormalisasi biaya fiskal ini. Jika tren penerbitan utang dengan kupon tinggi terus berlanjut, beban pembayaran bunga akan semakin menggerus alokasi belanja produktif dan menjadi kendala serius bagi tercapainya target pertumbuhan ekonomi yang ambisius.
Politisi senior ini mengingatkan bahwa Menkeu berhadapan dengan situasi tax ratio (rasio pajak) yang rendah dan defisit APBN yang memerlukan pembiayaan melalui utang. Oleh karena itu, strategi untuk menekan cost of fund utang menjadi kunci keberhasilan dalam menjamin keberlanjutan fiskal jangka panjang.
Komisi XI DPR memberikan ruang kepada Menkeu untuk merumuskan langkah-langkah strategis dalam mengatasi hal tersebut. "Pembenahan ini tidak hanya sekadar penyesuaian teknis, namun juga memerlukan strategi pasar yang cerdas agar utang pemerintah dapat diserap dengan biaya yang lebih efisien," ujarnya.
Baca Juga: Misbakhun Dukung Skema Pinjaman Pemerintah Pusat Jadi Terobosan untuk Pembiayaan Daerah
Dalam konteks lain, Misbakhun menyentil kebiasaan di Indonesia yang cenderung menyalahkan data ketika data tersebut tidak sesuai dengan harapan politik atau publik. Ia menekankan bahwa angka-angka pertumbuhan ekonomi, termasuk data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS), harus dipandang sebagai pencapaian kerja yang tertulis, bukan sekadar opini.
Misbakhun kembali menegaskan bahwa desain dan target ekonomi harus memiliki basis rasional. "Sebagai pembantu Presiden yang memiliki target pertumbuhan 8% pada 2029, pak Purbaya perlu merancang trajektori atau arah pertumbuhan tahunan yang realistis, misalnya 5,2% pada 2025 dan 5,4% pada 2026," tegasnya.
Meskipun demikian, Misbakhun memberikan pembelaan terhadap Menkeu terkait target pertumbuhan di kuartal IV. Purbaya disebut ingin menunjukkan perannya pada kuartal tersebut demi mencapai target rata-rata tahunan, menegaskan Menkeu meminta waktu untuk membuktikan kinerjanya di lapangan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








