IPO Awal 2026 Masih Sepi, Citi: Akan Bergairah di Semester II

AKURAT.CO Aktivitas penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) di Indonesia diperkirakan masih belum menunjukkan geliat signifikan pada paruh pertama 2026. Proyeksi ini disampaikan Citigroup yang menilai kondisi pasar saham domestik belum sepenuhnya pulih dalam jangka pendek.
Citi: IPO Indonesia Belum Menarik di Paruh Pertama 2026
“Aktivitas IPO dalam jangka pendek di Indonesia, kami tidak memperkirakan adanya IPO signifikan pada paruh pertama tahun ini,” ujar Rob dalam Asia South Investment Banking Outlook 2026 yang digelar secara daring, Jumat (16/1/2026).
Menurutnya, kinerja pasar saham dalam negeri masih belum menunjukkan pemulihan yang cukup kuat untuk mendorong aksi korporasi besar dalam waktu dekat.
Nilai ECM Indonesia Masih Terbatas
Kondisi ini mencerminkan masih terbatasnya pendalaman pasar serta minimnya transaksi besar di bursa saham domestik.
Likuiditas Jadi Pertimbangan Utama Investor
Salah satu faktor utama yang membuat pasar IPO belum bergairah adalah likuiditas perdagangan saham. Rob menilai, aspek likuiditas masih menjadi pertimbangan krusial bagi investor dalam mengambil keputusan investasi di pasar modal Indonesia.
“Secara keseluruhan, salah satu pertimbangan utama yang dimiliki orang-orang Indonesia masih akan tertuju pada likuiditas perdagangan saham di situ,” jelasnya.
Likuiditas yang terbatas dinilai menurunkan daya tarik saham baru, terutama bagi investor institusional.
Peluang IPO Mulai Terbuka di Semester II-2026
Meski demikian, Citigroup melihat peluang perbaikan mulai muncul pada paruh kedua 2026. Rob menyoroti tren penguatan IHSG dalam beberapa waktu terakhir sebagai sinyal awal membaiknya sentimen pasar.
Perbaikan kinerja indeks diyakini dapat mendorong kembali minat emiten untuk masuk ke pasar modal, terutama jika tren tersebut berlanjut secara konsisten.
Saham Komoditas Berpotensi Jadi Primadona
Dalam pandangan Citigroup, sektor berbasis komoditas berpotensi menjadi penarik utama minat investor. Hal ini sejalan dengan penguatan harga komoditas global yang terjadi belakangan ini.
“Perusahaan-perusahaan tersebut mungkin akan mendapat manfaat dari peningkatan perhatian investor untuk melihat potensi peluang penggalangan modal ekuitas tambahan,” ujar Rob.
Sektor ini dinilai memiliki daya tarik lebih kuat karena didukung fundamental harga dan prospek pendapatan yang membaik.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








