LPS Bantah Fenomena Makan Tabungan, Simpanan Kecil Masih Tumbuh

AKURAT.CO Isu mengenai masyarakat yang mulai menggerus tabungan untuk memenuhi kebutuhan hidup kembali mencuat setelah sejumlah indikator menunjukkan pelemahan daya beli.
Namun, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menyatakan data yang dimilikinya belum menunjukkan adanya fenomena tersebut secara agregat.
Ketua Dewan Komisioner LPS, Anggito Abimanyu, mengatakan pertumbuhan simpanan masyarakat masih terjadi di seluruh kelompok nominal rekening berdasarkan data yang dihimpun bersama Otoritas Jasa Keuangan, Bank Indonesia, dan Kementerian Keuangan.
Baca Juga: OJK-LPS Matangkan Syarat Program Penjaminan Polis
Menurut Anggito, data tersebut mencakup sekitar 696 juta rekening perbankan di Indonesia dan digunakan untuk memantau perkembangan dana masyarakat secara agregat.
"Simpanan di bawah Rp100 juta tumbuh 5,16 persen secara tahunan. Bahkan simpanan di bawah Rp5 juta tumbuh 7,36 persen. Jadi kalau ditanya apakah terjadi fenomena makan tabungan, berdasarkan data agregat kami tidak menunjukkan hal tersebut," ujar Anggito dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta, Senin (3/8/2026).
Ia menjelaskan, LPS menggunakan pendekatan pertumbuhan tahunan (year-on-year) dan bukan membandingkan posisi tabungan sejak 2018. Dengan metode tersebut, seluruh kelompok simpanan masih menunjukkan tren peningkatan.
Data LPS mencatat simpanan pada kelompok di atas Rp5 miliar masih menjadi penyumbang utama pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK), dengan kenaikan mencapai 15,44% secara tahunan. Namun, Anggito menegaskan pertumbuhan juga terjadi pada kelompok simpanan yang lebih kecil.
Ia mengakui secara individual terdapat nasabah yang mengurangi tabungan untuk kebutuhan konsumsi maupun nasabah yang justru menambah simpanannya. Meski demikian, secara agregat seluruh kelompok nominal simpanan masih bertumbuh.
Pernyataan tersebut sekaligus merespons munculnya pertanyaan mengenai tren penurunan rata-rata tabungan kecil yang sempat dikaitkan dengan melemahnya daya beli masyarakat.
Baca Juga: LPS Lantik Sejumlah Pejabat Baru, Perkuat Organisasi melalui Sistem Meritokrasi yang Independen
Di sisi lain, Anggito menegaskan LPS tidak melakukan kajian mengenai perilaku konsumsi masyarakat.
Fokus lembaga tersebut, kata dia, adalah memantau perkembangan dana simpanan sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas sistem keuangan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








