Klaim Melonjak 23,3 Persen dan Laba Anjlok 32,3 Persen: Industri Asuransi Umum Tertekan

AKURAT.CO Industri asuransi umum Indonesia menghadapi tekanan cukup berat pada semester I 2026. Di tengah ekonomi nasional yang masih tumbuh 5,29%, premi asuransi umum justru terkontraksi, sementara klaim melonjak lebih dari 20%. Kombinasi tersebut kemudian menekan hasil underwriting hingga laba industri.
Berdasarkan data Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), premi asuransi umum pada semester I 2026 mencapai Rp61,25 triliun, turun 1,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp62,24 triliun. Pada saat yang sama, klaim bruto melonjak 23,3% dari Rp23,93 triliun menjadi Rp29,52 triliun.
Tekanan tersebut terlihat semakin jelas pada laba. Laba setelah pajak industri asuransi umum merosot 32,3% dari Rp7,99 triliun menjadi Rp5,41 triliun.
Mengapa laba industri asuransi umum turun?
Penurunan laba tidak berdiri sendiri. Kinerja industri tertekan karena pertumbuhan klaim jauh lebih cepat dibandingkan premi, sehingga hasil underwriting ikut menyusut.
Beberapa indikator utama AAUI menunjukkan tekanan tersebut:
Premi turun 1,6% menjadi Rp61,25 triliun.
Klaim bruto naik 23,3% menjadi Rp29,52 triliun.
Hasil underwriting turun 18,1% menjadi Rp11,54 triliun.
Hasil investasi turun 5,6% menjadi Rp3,64 triliun.
Beban usaha naik 2,8% menjadi Rp10,03 triliun.
Laba setelah pajak turun 32,3% menjadi Rp5,41 triliun.
Combined ratio memburuk dari 85,2% menjadi 93,6%.
Dengan kata lain, persoalan industri bukan hanya pertumbuhan premi yang melambat. Beban klaim yang meningkat jauh lebih cepat membuat ruang perusahaan untuk menghasilkan keuntungan dari kegiatan underwriting semakin sempit.
Klaim Asuransi Umum Naik 23,3%, Premi Justru Turun
Kesenjangan antara premi dan klaim menjadi salah satu sinyal terpenting dalam membaca kondisi industri asuransi umum pada semester I 2026.
Premi turun 1,6%, sedangkan klaim meningkat 23,3%. Secara sederhana, industri menghadapi situasi ketika pendapatan dari premi melemah, tetapi kewajiban untuk membayar klaim justru membesar.
Kondisi tersebut tercermin dalam hasil underwriting yang turun 18,1% menjadi Rp11,54 triliun. Padahal, hasil underwriting merupakan salah satu indikator penting untuk melihat kemampuan bisnis asuransi menghasilkan keuntungan dari aktivitas utamanya sebelum memperhitungkan komponen lain seperti investasi.
Rasio juga memberikan gambaran serupa. Combined ratio industri asuransi umum meningkat dari 85,2% menjadi 93,6%. Semakin tinggi rasio tersebut, semakin besar bagian premi yang terserap untuk biaya dan klaim.
Budi Herawan, Ketua Umum AAUI, sebelumnya juga menegaskan bahwa kenaikan klaim menjadi perhatian bagi industri.
“Gross klaim up sekitar 23%, yang tentunya ini bukan berita baik. Ini menjadi concern kita,” ujar Budi dalam paparan kinerja industri asuransi umum semester I-2026 beberapa waktu lalu.
Artinya, kenaikan klaim bukan sekadar konsekuensi normal dari pertumbuhan bisnis. Ketika kenaikan tersebut terjadi bersamaan dengan kontraksi premi, tekanan terhadap profitabilitas menjadi lebih besar.
Credit Insurance Jadi Sumber Klaim Terbesar
Salah satu lini bisnis yang perlu diperhatikan adalah credit insurance atau asuransi kredit.
Pada semester I 2026, premi credit insurance mencapai Rp9,32 triliun, naik 9,3% dari Rp8,53 triliun. Namun, klaim tumbuh jauh lebih cepat, yakni 32,7% menjadi Rp9,28 triliun.
Akibatnya, claim ratio credit insurance mencapai 99,6%, dibandingkan 82,1% pada tahun sebelumnya. Lini ini juga menyumbang 33,9% dari keseluruhan klaim asuransi umum, menjadi kontribusi terbesar dibandingkan lini bisnis lainnya.
Angka tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan premi tidak otomatis berarti sebuah lini bisnis menjadi lebih menguntungkan. Dalam kasus credit insurance, premi masih tumbuh, tetapi klaim meningkat jauh lebih cepat.
Wakil Ketua Bidang Statistik AAUI Heri Supriyadi menjelaskan bahwa industri juga sedang menghadapi perubahan dalam bisnis asuransi kredit. Perusahaan semakin selektif dalam mengambil risiko karena kualitas kredit menjadi faktor penting dalam menentukan potensi klaim.
Kondisi tersebut membuat perusahaan asuransi perlu mengevaluasi kembali portofolio yang diambil. Risiko kredit yang terlihat menarik dari sisi volume belum tentu menghasilkan kinerja underwriting yang baik apabila kualitas risikonya memburuk.
Baca Juga: 5 Juta Orang Terima Manfaat Asuransi Jiwa Semester I 2026, Total Klaim Capai Rp75,57 Triliun
Properti Hadapi Tekanan Ganda
Selain credit insurance, lini properti juga menjadi perhatian.
Data AAUI menunjukkan premi properti turun 13,6% dari Rp17,95 triliun menjadi Rp15,51 triliun. Pada periode yang sama, klaim properti justru melonjak 75,8% dari Rp3,29 triliun menjadi Rp5,78 triliun.
Claim ratio properti pun naik tajam dari 18,3% menjadi 37,3%.
Tekanan tersebut menunjukkan adanya kombinasi yang kurang ideal bagi perusahaan asuransi: basis premi mengecil ketika beban klaim meningkat.
Budi mengaitkan tekanan pada bisnis properti dengan kondisi aktivitas ekonomi dan investasi. Ia menyinggung adanya perusahaan asal India dan China yang memindahkan aktivitas bisnisnya dari Indonesia ke negara lain, termasuk Vietnam.
Berkurangnya aktivitas perusahaan dan investasi baru pada akhirnya dapat mengurangi jumlah objek yang membutuhkan perlindungan asuransi.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak dapat dipandang sebagai satu-satunya penyebab penurunan premi property. Perubahan siklus bisnis, pembaruan polis, seleksi risiko, serta kondisi sektor usaha juga dapat memengaruhi perkembangan premi.
Ekonomi Tumbuh 5,29%, Mengapa Premi Asuransi Tidak Ikut Tumbuh?
Di sinilah muncul paradoks yang cukup menarik.
Ekonomi Indonesia tumbuh 5,29% pada kuartal II 2026. Namun, pertumbuhan tersebut belum otomatis menghasilkan pertumbuhan premi asuransi umum.
Budi mempertanyakan apakah pertumbuhan ekonomi benar-benar masuk ke sektor-sektor yang menjadi basis bisnis asuransi.
“Kita nggak perlu menutup mata, semua orang tahu ekonomi tumbuh. Tapi tumbuhnya di lingkaran mana?” kata Budi.
Pernyataan tersebut menggambarkan persoalan yang lebih struktural. Bagi industri asuransi umum, pertumbuhan ekonomi baru menjadi peluang apabila menghasilkan aset, investasi, kegiatan usaha, kredit, kendaraan, proyek infrastruktur, serta aktivitas ekonomi lain yang membutuhkan perlindungan risiko.
Pertumbuhan konsumsi juga tidak selalu langsung diterjemahkan menjadi permintaan asuransi. Budi menyebut sektor perbankan sendiri masih menghadapi tantangan dalam menyalurkan kredit, sementara masyarakat cenderung menahan konsumsi karena mempertimbangkan kemampuan membayar kembali pinjaman.
Situasi ini membuat hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan premi menjadi tidak sederhana.
PSAK 117 Mengubah Cara Membaca Kinerja Asuransi
Tekanan kinerja juga perlu dibaca dalam konteks implementasi PSAK 117.
Heri Supriyadi menjelaskan bahwa perusahaan yang belum memahami sepenuhnya mekanisme pencatatan dan cara berbisnis dalam kerangka PSAK 117 dapat menghadapi perubahan signifikan dalam penyajian kinerja.
“Di beberapa kejadian, premi naik tapi cadangan harus naik,” ujar Heri.
Menurut dia, bisnis dengan karakteristik jangka panjang dapat membutuhkan pencadangan lebih besar. Akibatnya, kenaikan premi tidak selalu langsung terlihat sebagai peningkatan laba.
“Jadi, lho, premi naik kok malah banyak jadi turun? Itu juga perilaku dari penggunaan PSAK 117,” katanya.
Penjelasan ini penting karena angka kinerja asuransi tidak bisa dibaca hanya dari pertumbuhan premi. Investor dan masyarakat perlu melihat bagaimana premi tersebut berkaitan dengan cadangan, klaim, hasil underwriting, serta kualitas risiko yang diambil perusahaan.
Industri Mulai Dihadapkan pada Seleksi Risiko yang Lebih Ketat
Kenaikan klaim pada akhirnya dapat mendorong perusahaan memperbaiki kualitas portofolio.
Budi menegaskan bahwa hasil underwriting perlu diperbaiki karena premi turun sementara klaim meningkat. Industri juga tidak dapat terus mengambil risiko tanpa memperhitungkan kemampuan menghasilkan imbal hasil yang memadai.
Dalam konteks credit insurance, Heri menjelaskan bahwa selektivitas underwriting semakin penting. Perusahaan perlu memastikan kualitas kredit yang ditanggung agar pertumbuhan bisnis tidak justru diikuti lonjakan klaim.
Gambaran sederhananya, perusahaan yang menerima premi Rp100 tetapi menghadapi klaim yang tumbuh jauh lebih cepat akan memiliki ruang yang semakin sempit untuk menutup biaya operasional dan menghasilkan keuntungan.
Situasi tersebut menjelaskan mengapa perusahaan asuransi tidak hanya mengejar pertumbuhan premi. Kualitas premi dan kualitas risiko yang melekat di dalamnya menjadi sama pentingnya.
Tekanan Klaim Juga Berkaitan dengan Perlindungan Bencana
Heri juga menyoroti persoalan lain yang berkaitan dengan sensitivitas harga masyarakat.
Banyak risiko bencana sebenarnya dapat ditanggung melalui polis tambahan. Namun, perlindungan tersebut biasanya membutuhkan premi tambahan. Ketika konsumen memilih premi yang lebih murah, perlindungan terhadap risiko tertentu bisa tidak termasuk dalam polis.
Menurut Heri, persoalan tersebut menjadi semakin relevan karena masyarakat dengan kemampuan ekonomi terbatas sangat sensitif terhadap harga.
Artinya, tantangan industri bukan hanya membuat masyarakat membeli asuransi. Perusahaan juga perlu menjelaskan perbedaan antara sekadar memiliki polis dan memiliki perlindungan yang benar-benar sesuai dengan profil risiko.
Apa Dampaknya bagi Nasabah Asuransi?
Tekanan pada klaim dan profitabilitas berpotensi memengaruhi cara perusahaan mengelola bisnis ke depan.
Beberapa hal yang mungkin menjadi perhatian nasabah antara lain:
proses underwriting yang lebih selektif;
evaluasi terhadap risiko yang dianggap tinggi;
penyesuaian cakupan perlindungan;
evaluasi harga premi pada segmen tertentu;
peningkatan perhatian terhadap data dan riwayat klaim;
penggunaan teknologi untuk mendeteksi fraud.
Perubahan tersebut tidak berarti seluruh perusahaan otomatis menaikkan premi. Kebijakan akan bergantung pada lini bisnis, karakteristik risiko, kondisi pasar, dan strategi masing-masing perusahaan.
AAUI Siapkan Tujuh Program untuk Menghadapi Tekanan Industri
AAUI juga menyiapkan sejumlah program strategis untuk memperkuat industri ke depan.
Budi menyebut tujuh program yang antara lain mencakup pool asuransi bencana dan aset negara, perluasan AUTP dan asuransi bencana, fasilitas reasuransi untuk energi hijau, liability wajib, infrastruktur data dan AI untuk antifraud, program retensi dan kapasitas nasional, serta pengembangan asuransi mikro dan perlindungan ekonomi kerakyatan.
Budi menekankan bahwa pelaksanaan program tersebut membutuhkan dukungan pemerintah karena melibatkan banyak pemangku kepentingan.
Outlook Industri Asuransi Umum pada Semester II 2026
Dengan tekanan yang terjadi pada semester I, AAUI memilih bersikap realistis terhadap prospek sepanjang tahun.
Budi mengatakan dirinya tidak berani memasang target pertumbuhan premi yang terlalu tinggi atau dua digit. Jika industri mampu mencatat pertumbuhan yang kurang lebih sama dengan tahun sebelumnya sekitar 5,9%, menurutnya angka tersebut sudah cukup baik.
Harapan perbaikan terutama diarahkan pada semester II ketika aktivitas ekonomi, belanja pemerintah, investasi dan penyaluran kredit diharapkan lebih kuat.
Namun, industri tetap harus menghadapi persoalan internal berupa kualitas underwriting, kenaikan klaim, penguatan modal, ketergantungan reasuransi, hingga berbagai perubahan regulasi.
Dengan demikian, persoalan asuransi umum pada 2026 bukan semata-mata bagaimana meningkatkan premi. Tantangan yang lebih besar adalah memastikan pertumbuhan premi tersebut berasal dari risiko yang sehat dan mampu menghasilkan underwriting yang berkelanjutan.
Kesimpulan
Kinerja industri asuransi umum pada semester I 2026 memperlihatkan tekanan yang cukup jelas. Premi turun 1,6%, sementara klaim melonjak 23,3%. Ketidakseimbangan tersebut ikut menekan hasil underwriting hingga 18,1% dan membuat laba setelah pajak merosot 32,3%.
Credit insurance menjadi salah satu sumber tekanan terbesar dengan kontribusi 33,9% terhadap total klaim dan claim ratio mencapai 99,6%. Property juga menghadapi tekanan ganda ketika premi turun 13,6%, tetapi klaim melonjak 75,8%.
Kondisi tersebut memperlihatkan satu hal penting: pertumbuhan ekonomi tidak otomatis menjadi pertumbuhan industri asuransi. Industri membutuhkan pertumbuhan investasi, kredit, aktivitas usaha dan aset yang benar-benar menciptakan permintaan terhadap perlindungan risiko.
Bagi perusahaan asuransi, semester II 2026 menjadi periode penting untuk memperbaiki underwriting dan mengelola klaim. Bagi nasabah, perkembangan ini juga menjadi pengingat bahwa memilih asuransi tidak cukup hanya dengan mencari premi termurah. Kualitas perlindungan dan kesesuaian risiko menjadi semakin penting ketika industri memasuki periode pengetatan seleksi.
Baca Juga: Industri Asuransi Mulai Bergeser, Allianz Life Andalkan Generasi Milenial dan Gen Z
Baca Juga: Sebelum Beli Asuransi Jiwa, Wajib Tahu 5 Hal Ini agar Tak Salah Pilih
FAQ
Mengapa klaim asuransi umum naik 23,3% pada semester I 2026?
Klaim asuransi umum naik 23,3% menjadi Rp29,52 triliun pada semester I 2026. Kenaikan terjadi di tengah tekanan pada sejumlah lini bisnis, terutama credit insurance dan property. Credit insurance mencatat pertumbuhan klaim 32,7%, sedangkan klaim property melonjak 75,8%.
Mengapa laba industri asuransi umum turun 32,3%?
Laba industri asuransi umum turun 32,3% menjadi Rp5,41 triliun karena terjadi kombinasi penurunan premi dan kenaikan klaim. Hasil underwriting turun 18,1%, hasil investasi turun 5,6%, sementara beban usaha naik 2,8%, sehingga tekanan terhadap laba semakin besar.
Apa dampak kenaikan klaim terhadap perusahaan asuransi?
Kenaikan klaim dapat mempersempit margin underwriting dan mendorong perusahaan lebih selektif dalam menerima risiko. Perusahaan juga dapat melakukan evaluasi terhadap harga premi, cakupan perlindungan, pencadangan, reasuransi dan portofolio bisnis untuk menjaga kesehatan keuangan.
Apa itu combined ratio dalam industri asuransi?
Combined ratio merupakan indikator yang menggambarkan beban klaim dan biaya terhadap premi. Semakin tinggi rasio tersebut, semakin besar bagian premi yang digunakan untuk membayar klaim dan biaya. Pada semester I 2026, combined ratio asuransi umum naik dari 85,2% menjadi 93,6%.
Mengapa credit insurance menjadi sumber tekanan bagi industri?
Credit insurance mencatat premi Rp9,32 triliun atau naik 9,3%, tetapi klaim tumbuh 32,7% menjadi Rp9,28 triliun. Lini ini menyumbang 33,9% terhadap total klaim asuransi umum dan memiliki claim ratio 99,6%, sehingga menjadi salah satu sumber tekanan terbesar terhadap hasil underwriting.
Apa pengaruh PSAK 117 terhadap kinerja perusahaan asuransi?
PSAK 117 mengubah cara perusahaan asuransi mencatat dan menyajikan bisnisnya. Heri Supriyadi menjelaskan bahwa dalam sejumlah kondisi, kenaikan premi dapat diikuti kenaikan cadangan, terutama pada bisnis dengan karakteristik jangka panjang. Karena itu, pertumbuhan premi tidak selalu langsung berarti laba meningkat.
Apakah kenaikan klaim akan membuat premi asuransi naik?
Tidak selalu. Kenaikan klaim dapat mendorong perusahaan mengevaluasi harga premi, tetapi keputusan tersebut bergantung pada jenis risiko, kondisi portofolio, persaingan pasar dan strategi masing-masing perusahaan. Perusahaan juga dapat merespons melalui seleksi risiko, perubahan cakupan dan penguatan manajemen klaim.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








