Akurat Logo

IHSG Dibuka Menguat di Awal Pekan, Investor Terus Simak Data Ekonomi

Esha Tri Wahyuni | 7 September 2026, 12:31 WIB
IHSG Dibuka Menguat di Awal Pekan, Investor Terus Simak Data Ekonomi
IHSG dibuka menguat di awal pekan

AKURAT.CO Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Senin (7/9/2026) dengan penguatan.

Namun, pergerakan indeks diperkirakan masih akan menghadapi sejumlah sentimen penting sepanjang pekan, mulai dari rilis data ekonomi domestik hingga perkembangan geopolitik dan kebijakan bank sentral global.

Pada pembukaan perdagangan, IHSG naik 15,61 poin atau 0,24% ke level 6.652,09. Namun demikian di akhir sesi I, IHSG terpantau memerah 8,29 poin (0,12%) ke 6.628,19.

Baca Juga: IHSG Kembali ke Level 6.500, Investor Cermati 3 Hal Ini

Penguatan tersebut terjadi di tengah investor yang mencermati berbagai katalis yang berpotensi menentukan arah pasar keuangan Indonesia dalam beberapa hari ke depan.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG sempat bergerak naik ke level tertinggi 6.662,61 sebelum berbalik ke zona merah sekitar tiga menit setelah perdagangan dibuka. Indeks kemudian menyentuh level terendah sementara di 6.626,92.

Pada awal perdagangan, sebanyak 231 saham tercatat menguat, 108 saham melemah, dan 351 saham bergerak stagnan. Volume transaksi mencapai sekitar 401,57 juta saham dengan nilai transaksi sekitar Rp277,41 miliar.

Pergerakan awal tersebut menunjukkan investor masih berhati-hati dalam menentukan arah perdagangan. Penguatan IHSG pada pembukaan belum serta-merta menggambarkan sentimen pasar sepanjang hari, terlebih pasar akan dihadapkan pada sejumlah data ekonomi penting.

Salah satu perhatian investor pada awal pekan berasal dari data cadangan devisa Indonesia.

Bank Indonesia menjadwalkan publikasi Statistik Cadangan Devisa Agustus 2026 pada Senin (7/9/2026). Data tersebut menjadi salah satu indikator yang diperhatikan pasar untuk melihat ketahanan eksternal perekonomian Indonesia.

Selain cadangan devisa, investor juga akan mencermati sejumlah indikator domestik lainnya. Survei Konsumen Agustus 2026 dijadwalkan terbit pada Rabu (9/9/2026), sedangkan Survei Penjualan Eceran Juli 2026 dijadwalkan pada Kamis (10/9/2026).

Rangkaian data tersebut penting karena memberikan gambaran mengenai kondisi perekonomian domestik, termasuk persepsi konsumen dan aktivitas konsumsi masyarakat.

Sebelumnya, Bank Indonesia memperkirakan kinerja penjualan eceran Juni 2026 tetap terjaga dengan Indeks Penjualan Riil (IPR) sebesar 221,6.

Secara bulanan, penjualan eceran Juni diprakirakan turun 0,8%, tetapi penurunan tersebut lebih baik dibandingkan kontraksi 1,5% pada periode sebelumnya.

Selain faktor domestik, pasar Indonesia juga akan bergerak mengikuti perkembangan ekonomi global. Salah satu yang menjadi perhatian adalah data inflasi Amerika Serikat.

Data inflasi AS menjadi penting karena dapat mempengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve.

Perubahan ekspektasi tersebut kemudian dapat berdampak pada pergerakan dolar AS, imbal hasil obligasi, serta arus modal ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Pada saat yang sama, investor juga mencermati agenda kebijakan Bank Sentral Eropa (ECB) serta sejumlah data ekonomi China.

Faktor geopolitik juga kembali menjadi perhatian pasar pada awal pekan. Bursa Asia-Pasifik mayoritas bergerak menguat pada perdagangan Senin (7/9/2026), tetapi investor masih mencermati eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Reuters melaporkan saham-saham Asia menguat pada Senin di tengah optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat, meskipun ketegangan AS-Iran dan kenaikan harga minyak tetap menjadi perhatian investor. Harga Brent berada di sekitar US$96 per barel.

Perkembangan tersebut menjadi penting bagi negara-negara emerging market karena kenaikan harga minyak dapat meningkatkan tekanan inflasi dan mempengaruhi prospek kebijakan moneter global.

Di kawasan Asia, Nikkei Jepang tercatat menguat sekitar 2%, sementara Kospi Korea Selatan naik sekitar 3% pada awal perdagangan. Indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang juga bergerak positif.

Kondisi tersebut memberikan sentimen positif bagi pasar saham kawasan, meskipun risiko geopolitik masih membayangi.

Dengan kombinasi sentimen tersebut, arah IHSG sepanjang pekan ini akan sangat bergantung pada bagaimana investor mencerna data ekonomi domestik dan global.

Di satu sisi, data ekonomi domestik yang menunjukkan ketahanan dapat menopang kepercayaan investor terhadap aset Indonesia.

Namun, dari sisi lain, perubahan ekspektasi terhadap suku bunga global, penguatan dolar AS, kenaikan yield obligasi, harga minyak, serta eskalasi konflik geopolitik dapat kembali meningkatkan volatilitas pasar.

Karena itu, penguatan IHSG sebesar 0,24% pada awal perdagangan Senin menjadi pijakan awal, bukan gambaran akhir arah pasar.

Investor kini menanti sederet data yang akan keluar sepanjang pekan untuk menentukan apakah penguatan indeks dapat berlanjut atau justru berbalik arah.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.