Akurat Logo

IHSG Dibuka Memerah 0,13 Persen di Tengah Sentimen Harga Minyak Global dan Suku Bunga AS

Esha Tri Wahyuni | 14 September 2026, 09:36 WIB
IHSG Dibuka Memerah 0,13 Persen di Tengah Sentimen Harga Minyak Global dan Suku Bunga AS
IHSG dibuka di zona merah pada awal pekan

AKURAT.CO Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Senin (14/9/2026) di zona merah.

Tekanan datang ketika pasar keuangan global menghadapi dua risiko sekaligus, yakni lonjakan harga minyak akibat eskalasi konflik Timur Tengah dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed).

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG pada pukul 09.00 WIB turun 0,13% atau 8,77 poin ke level 6.532,61. Indeks sebelumnya dibuka di level 6.533,87, lebih rendah dibandingkan posisi penutupan perdagangan Jumat (11/9/2026) di 6.541,38.

Baca Juga: Masih Dibayangi Tekanan, IHSG Bakal Uji Ketahanan di Level 6.460-6.500

Pada awal perdagangan, sebanyak 249 saham tercatat menguat, 143 saham melemah, sedangkan 571 saham lainnya belum bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp248,4 miliar dengan volume perdagangan sekitar 361,7 juta saham dalam 44.110 kali transaksi.

Tekanan terhadap IHSG terjadi ketika pasar global kembali mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu pasokan energi. 

Serangan terbaru terhadap fasilitas minyak Saudi Arabia dan gangguan jalur pelayaran di kawasan Teluk meningkatkan kekhawatiran terhadap ketersediaan minyak dunia.

Dikutip dari Reuters, harga minyak pun kembali melonjak. Data perdagangan terbaru menunjukkan harga minyak Brent sempat naik lebih dari 2% pada Senin dan berada di sekitar USD107,51 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) berada di sekitar USD102,32 per barel.

Kenaikan tersebut terjadi setelah pipa minyak East-West milik Saudi Arabia mengalami gangguan akibat serangan. Jalur tersebut merupakan salah satu rute penting yang memungkinkan pengiriman minyak Saudi menuju Laut Merah tanpa melewati Selat Hormuz.

Gangguan pada pipa tersebut berpotensi memengaruhi hingga sekitar 4% pasokan minyak global apabila tidak segera dipulihkan. 

Kondisi itu menambah risiko terhadap pasar energi dunia yang sebelumnya sudah menghadapi gangguan pasokan akibat konflik dan gangguan pelayaran di kawasan Timur Tengah.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.