Dana AS Senilai USD20 Juta untuk Konservasi Orangutan Tak Jadi Cair, Kok Bisa?

AKURAT.CO Rencana pendanaan Amerika Serikat (AS) sebesar USD20 juta untuk program konservasi orangutan di koridor Sumatera terhenti setelah terjadi pergantian pucuk pimpinan di Washington.
Direktur Utama Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH), Joko Tri Haryanto mengatakan pendanaan tersebut sebelumnya sudah berada pada tahap persiapan penandatanganan nota kesepahaman (MoU).
Namun, rencana itu tidak berlanjut setelah Donald Trump menggantikan Joe Biden sebagai Presiden AS.
“Sudah siap tanda tangan, sudah siap MOU, USD20 juta dari pemerintah Amerika untuk konservasi orangutan di koridor Sumatera. Begitu Joe Biden kalah, Presiden Trump diinaugurasi, yang terjadi apa? Gak jadi,” ujar Joko saat media gathering bersama Kementerian Keuangan di Bogor, Jumat (2/10/2026).
Baca Juga: BPDLH Bersiap Masuk Pasar Karbon, Pemerintah Buka Sumber Pendanaan Baru
Menurut Joko, perubahan kebijakan pemerintah AS menjadi salah satu faktor yang memperketat aliran pendanaan iklim global.
Kondisi tersebut berdampak pada ketersediaan pembiayaan bilateral maupun multilateral yang selama ini menjadi salah satu sumber pendanaan program lingkungan di Indonesia.
Ia mengatakan, perubahan tersebut membuat negara-negara penerima pendanaan tidak lagi dapat mengandalkan hibah internasional dengan pola yang sama seperti sebelumnya.
“Begitu global liquidity-nya mengering, seluruh negara berpikir dua kali. Kalau dulu masih bisa menikmati periode bulan madu dengan hibah-hibah internasional, sekarang hibah yang masuk pasti menjadi hibah yang mensyaratkan adanya katalis,” kata Joko.
Baca Juga: BPDLH Gandeng 8 Lembaga Dorong Pembiayaan Perhutanan
Perubahan kebijakan pendanaan AS juga berkaitan dengan keputusan pemerintahan Trump memangkas bantuan luar negeri dan keluar dari skema Just Energy Transition Partnership (JETP) Indonesia.
Sebelumnya, pemerintahan Biden bersama Indonesia dan sejumlah negara mitra meluncurkan JETP senilai USD20 miliar. Skema tersebut dirancang untuk membantu transisi sektor ketenagalistrikan Indonesia sekaligus mendukung upaya penurunan emisi.
Bagi Indonesia, berkurangnya aliran pendanaan dari mitra internasional terjadi ketika kebutuhan pembiayaan iklim justru semakin besar.
BPDLH mencatat kebutuhan pendanaan Indonesia untuk mencapai target Second Nationally Determined Contribution (Second NDC) mencapai sekitar USD472 miliar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









