50 Tahun The Body Shop: Kembalinya Parfum Ikonik Dewberry dan Aksi 50+ Tanaman untuk Dukung Keberlanjutan

AKURAT.CO Di tengah tren beauty brand yang terus berubah cepat, The Body Shop Indonesia justru memilih kembali ke akar identitasnya saat merayakan usia emas ke-50 tahun.
Bukan hanya menghadirkan kembali Dewberry yang ikonik, The Body Shop juga membawa pesan keberlanjutan lewat aksi penanaman 50+ tanaman untuk pemulihan ruang hijau urban.
Apa yang Dilakukan The Body Shop di Perayaan 50 Tahun?
Perayaan 50 tahun The Body Shop Indonesia membawa tiga fokus utama sekaligus:
Menghadirkan kembali fragrance legendaris Dewberry
Menjalankan aksi penanaman 50+ tanaman dan pohon
Mengangkat tema global “Empowered by Nature”
Perayaan ini menunjukkan bahwa The Body Shop tidak hanya ingin dikenal sebagai brand kecantikan, tetapi juga sebagai bagian dari gerakan sosial dan lingkungan.
Menurut Head of Marketing & Digital The Body Shop Indonesia, Nimas Chrisensia, comeback Dewberry memiliki makna emosional yang kuat bagi konsumen lama.
“Dewberry bukan hanya produk, tetapi bagian dari memori banyak pelanggan kami sejak tahun 90-an. Kami ingin menghadirkan kembali kedekatan emosional tersebut, sekaligus membawa energi baru bagi generasi sekarang,” ujar Nimas melalui catatan tertulis yang diterima AKURAT.CO, Jumat, 8 Mei 2026.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa The Body Shop memahami satu hal penting dalam industri beauty modern: konsumen tidak lagi membeli produk semata, tetapi juga pengalaman dan koneksi emosional.
Mengapa Dewberry Begitu Ikonik bagi Konsumen?
Bagi banyak milenial Indonesia, Dewberry bukan sekadar parfum.
Aroma khasnya menjadi bagian dari memori masa remaja era 90-an hingga awal 2000-an. Ada yang mengingatnya dari toko kosmetik di mal, hadiah ulang tahun, hingga momen pertama mulai mengenal produk body care.
Fenomena ini dikenal sebagai emotional scent memory, yaitu kondisi ketika aroma tertentu memicu kenangan emosional yang kuat.
Inilah alasan comeback Dewberry terasa berbeda dibanding peluncuran produk biasa.
Di tengah persaingan industri beauty yang dipenuhi tren cepat dan produk viral sesaat, nostalgia justru menjadi alat yang efektif untuk membangun loyalitas konsumen.
Strategi ini semakin relevan karena konsumen modern mengalami kelelahan digital. Mereka terus dibombardir:
tren TikTok baru
produk skincare viral
perubahan algoritma media sosial
FOMO konsumsi
Dalam situasi seperti itu, sesuatu yang terasa familiar justru memiliki nilai emosional lebih tinggi.
Menanam 50+ Tanaman untuk Dukung Keberlanjutan
Perayaan 50 tahun ini tidak berhenti pada aspek nostalgia.
The Body Shop Indonesia juga menjalankan program Urban Biodiversity di Rumah Deret Tamansari bersama Yayasan Tunas Nusa dan Kelompok Tani Milenial RDTS.
Program tersebut meliputi:
penanaman 50+ tanaman dan pohon
pengembangan rooftop garden
taman vertikal
hutan pangan mikro
pelibatan anak muda dan perempuan
Sekilas, angka “50+ tanaman” mungkin terdengar simbolis karena berkaitan dengan usia The Body Shop yang kini memasuki lima dekade.
Namun jika dilihat lebih dalam, langkah ini mencerminkan perubahan besar dalam strategi industri beauty global.
Brand kecantikan kini mulai masuk ke isu:
kualitas udara
ruang hijau urban
keberlanjutan kota
keterlibatan komunitas lokal
Artinya, sustainability tidak lagi hanya soal kemasan ramah lingkungan atau bahan alami.
Kini sustainability mulai menyentuh cara brand terlibat langsung dalam kehidupan masyarakat.
Mengapa Urban Biodiversity Semakin Penting?
Kota besar menghadapi masalah yang semakin kompleks:
suhu makin panas
ruang hijau berkurang
kualitas udara menurun
kepadatan urban meningkat
Bandung menjadi salah satu kota yang mengalami tekanan urbanisasi cukup cepat dalam beberapa tahun terakhir.
Karena itu, program urban biodiversity menjadi relevan.
Penanaman tanaman di kawasan urban memiliki dampak nyata:
membantu menjaga kelembapan udara
mengurangi efek panas perkotaan
memperbaiki kualitas lingkungan mikro
menciptakan ruang sosial baru bagi komunitas
Yang menarik, The Body Shop memilih pendekatan berbasis komunitas.
Mereka tidak hanya melakukan penanaman simbolis, tetapi juga melibatkan:
kelompok tani milenial
perempuan
komunitas lokal
Strategi seperti ini penting karena sustainability modern tidak bisa berjalan satu arah.
Konsumen kini lebih percaya pada aksi nyata dibanding slogan kampanye.
Baca Juga: Inovasi Pelumas dari Minyak Nabati, Alternatif Ramah Lingkungan untuk Industri dan Mesin
Baca Juga: Profil dan Perjuangan Chanee Kalaweit, Aktivis Lingkungan Penjaga Hutan Kalimantan
Strategi The Body Shop Tetap Relevan Selama 50 Tahun
Tidak banyak brand beauty mampu bertahan selama 50 tahun tanpa kehilangan identitas.
Namun The Body Shop Indonesia mencoba menjaga relevansi dengan menggabungkan tiga elemen sekaligus:
1. Nostalgia
Kembalinya Dewberry menyasar emotional attachment generasi lama.
2. Sustainability
Aksi 50+ tanaman memperkuat positioning sebagai brand yang peduli lingkungan.
3. Wellness lifestyle
Kolaborasi bersama Padeloom melalui aktivitas yoga dan padel menunjukkan bahwa beauty kini terhubung dengan wellness dan self-care.
Kombinasi ini bukan kebetulan.
Perilaku konsumen beauty telah berubah drastis.
Generasi muda sekarang cenderung memilih brand yang:
punya value
memiliki cerita
relevan secara sosial
peduli lingkungan
terasa autentik
Inilah yang membuat emotional branding menjadi semakin penting.
Bagaimana Nostalgia dan Sustainability Bekerja Bersamaan?
Bayangkan seorang perempuan berusia 30 tahun yang dulu memakai Dewberry saat sekolah.
Ketika melihat produk itu kembali hadir, ia tidak hanya mengingat aromanya, tetapi juga masa hidup yang terasa lebih sederhana dan personal.
Di sisi lain, ia kini hidup di kota besar yang semakin padat dan panas.
Saat mengetahui brand tersebut juga menjalankan program penghijauan urban, persepsinya terhadap brand berubah:
bukan sekadar produk lama yang dijual ulang, tetapi brand yang mencoba tetap relevan dengan keresahan modern.
Sementara itu, Gen Z mungkin tidak punya memori tentang Dewberry.
Namun mereka bisa tetap tertarik karena:
isu sustainability
visual campaign
komunitas
aktivitas wellness
nilai sosial brand
Artinya, satu kampanye bisa berbicara kepada dua generasi dengan cara berbeda.
Baca Juga: Award Global Perkuat Posisi Pegadaian sebagai Role Model ESG
Paradoks Industri Beauty Modern yang Jarang Dibahas
Ada paradoks menarik dalam industri kecantikan modern:
semakin digital dunia bergerak, semakin besar kebutuhan manusia terhadap sesuatu yang terasa nyata dan emosional.
Karena itu:
nostalgia kembali populer
sustainability makin penting
wellness menjadi gaya hidup
komunitas lokal kembali dicari
Konsumen modern tidak hanya ingin tampil menarik.
Mereka juga ingin merasa:
terhubung
punya identitas
menjadi bagian dari perubahan positif
Ini sebabnya banyak brand kini tidak cukup hanya menjual produk.
Mereka juga menjual makna.
Apa Dampaknya bagi Industri Beauty Indonesia?
Strategi seperti yang dilakukan The Body Shop Indonesia kemungkinan akan semakin sering terlihat di industri beauty nasional.
Brand masa depan kemungkinan harus memiliki:
identitas kuat
value sosial
aksi lingkungan nyata
koneksi emosional dengan konsumen
Dalam era AI search, brand dengan narasi yang kaya dan autentik juga lebih mudah dibicarakan serta direkomendasikan dalam ekosistem digital.
Menurut Nimas Chrisensia, perayaan 50 tahun ini juga menjadi bentuk apresiasi kepada pelanggan setia.
“Kami berharap perayaan ini menjadi momen refleksi dan juga sebagai apresiasi kepada para pelanggan setia kami yang turut menjadi bagian dari perjalanan membanggakan kami,” kata Nimas.
Ia juga menegaskan bahwa The Body Shop akan terus menghadirkan inovasi dan memperkuat koneksi dengan pelanggan di Indonesia.
Penutup
Perayaan 50 tahun The Body Shop Indonesia menunjukkan bagaimana sebuah brand lama mencoba bertahan di tengah perubahan zaman.
Kembalinya Dewberry membawa nostalgia yang kuat bagi generasi lama, sementara aksi penanaman 50+ tanaman memperlihatkan bagaimana sustainability kini menjadi bagian penting dari identitas brand modern.
Di era ketika konsumen semakin kritis dan AI semakin memengaruhi pola pencarian informasi, brand yang mampu menghadirkan makna sosial, koneksi emosional, dan aksi nyata kemungkinan akan lebih mudah bertahan dibanding yang hanya mengandalkan tren sesaat.
Pantau terus perkembangan tren sustainability, emotional branding, dan transformasi industri beauty modern untuk melihat bagaimana hubungan manusia, alam, dan gaya hidup terus berubah di masa depan.
Baca Juga: Guru Besar UI Soroti Pentingnya Integrasi Teknologi dan Keberlanjutan dalam Arsitektur
FAQ
Apa itu Dewberry The Body Shop yang kembali dipopulerkan?
Dewberry adalah fragrance ikonik dari The Body Shop Indonesia yang sangat populer pada era 1990-an hingga awal 2000-an. Kembalinya Dewberry dalam perayaan 50 tahun The Body Shop menjadi simbol nostalgia bagi banyak konsumen lama sekaligus strategi emotional branding untuk menjangkau generasi baru. Aroma khasnya dianggap memiliki ikatan emosional kuat karena mengingatkan banyak orang pada masa remaja dan pengalaman personal di masa lalu.
Kenapa The Body Shop menanam 50+ tanaman dalam perayaan 50 tahun?
Aksi penanaman 50+ tanaman dilakukan sebagai bagian dari kampanye sustainability bertema “Empowered by Nature” yang diusung The Body Shop Indonesia. Program ini bertujuan mendukung urban biodiversity atau pemulihan ruang hijau perkotaan melalui rooftop garden, taman vertikal, dan hutan pangan mikro di Bandung. Langkah ini menunjukkan bahwa brand beauty kini tidak hanya fokus pada produk, tetapi juga kontribusi nyata terhadap lingkungan dan komunitas.
Mengapa nostalgia menjadi strategi penting bagi brand beauty?
Nostalgia dianggap efektif karena mampu membangun emotional attachment yang lebih dalam dibanding promosi biasa. Dalam industri kecantikan modern, banyak konsumen merasa lebih dekat dengan produk yang memiliki memori personal, seperti parfum lawas atau produk ikonik masa kecil. Karena itu, comeback Dewberry menjadi contoh bagaimana brand lama memanfaatkan memori emosional untuk mempertahankan loyalitas konsumen di tengah persaingan digital yang sangat cepat.
Apa hubungan sustainability dan industri kecantikan saat ini?
Sustainability kini menjadi bagian penting dalam industri beauty karena konsumen modern semakin peduli terhadap dampak lingkungan dan nilai sosial sebuah brand. Banyak pengguna, terutama Gen Z dan milenial, memilih produk dari perusahaan yang memiliki aksi nyata seperti pengurangan limbah, penggunaan bahan alami, hingga program penghijauan. Inilah sebabnya kampanye lingkungan seperti urban biodiversity menjadi semakin relevan bagi brand kecantikan global.
Apa arti tema “Empowered by Nature” dari The Body Shop?
Tema “Empowered by Nature” menegaskan bahwa alam bukan hanya sumber inspirasi produk, tetapi juga sesuatu yang harus dijaga dan dipulihkan bersama. Dalam perayaan 50 tahun The Body Shop, tema ini diwujudkan melalui aksi lingkungan, pelibatan komunitas lokal, serta kampanye sustainability yang lebih dekat dengan kehidupan urban. Pendekatan ini memperkuat identitas The Body Shop sebagai brand beauty yang memiliki misi sosial dan lingkungan.
Mengapa The Body Shop masih relevan setelah 50 tahun?
The Body Shop Indonesia tetap relevan karena mampu mengikuti perubahan perilaku konsumen tanpa meninggalkan identitas utamanya. Brand ini menggabungkan nostalgia lewat comeback Dewberry, isu sustainability melalui aksi lingkungan, dan pendekatan wellness lifestyle yang dekat dengan generasi muda. Kombinasi tersebut membuat The Body Shop tidak hanya dikenal sebagai brand kecantikan, tetapi juga bagian dari gaya hidup modern yang lebih sadar lingkungan dan emosional.
Bagaimana tren beauty modern berubah di era Gen Z?
Tren beauty modern kini tidak lagi hanya fokus pada hasil produk, tetapi juga pengalaman, nilai sosial, dan identitas brand. Gen Z cenderung menyukai brand yang autentik, peduli lingkungan, dan memiliki koneksi emosional dengan komunitasnya. Karena itu, banyak perusahaan kecantikan mulai menggabungkan sustainability, wellness, dan emotional branding agar tetap relevan di era media sosial dan AI search yang semakin kompetitif.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal




