AKURAT.CO Langkah terbaru Gedung Putih mengisyaratkan fokus baru pada ketahanan rantai pasokan semikonduktor lawas. Penyelidikan yang diumumkan pada Senin (23/12/2024) ini bertujuan menilai praktik perdagangan cip lawas China, sekaligus memberikan peluang kepada Presiden terpilih Donald Trump untuk menentukan apakah tarif baru akan diberlakukan.
Cip lawas, yang juga dikenal sebagai semikonduktor legacy atau mature-node, digunakan secara luas dalam berbagai industri seperti otomotif, telekomunikasi, dan perangkat medis. Meski tidak secanggih chip yang mendukung kecerdasan buatan, cip ini menjadi komponen krusial dalam ekonomi global.
Dilansir dari Bloomberg, Selasa (24/12/2024), Menteri Perdagangan AS, Gina Raimondo, menekankan pentingnya memastikan rantai pasokan cip ini tetap tangguh.
Baca Juga: AS Umumkan Pembatasan Ekspor Baru, Tahan Distribusi Semikonduktor ke China
“Pandemi Covid-19 menjadi pelajaran besar bagi kita. Ketergantungan pada pemasok luar negeri menghambat jalur produksi dan meningkatkan biaya barang-barang rumah tangga,” kata Raimondo.
Penyelidikan ini dipandang sebagai langkah strategis untuk menekan dominasi China di pasar cip lawas. Dominasi ini dianggap sebagai ancaman potensial bagi keamanan nasional AS. Raimondo menambahkan bahwa China telah memberikan subsidi besar-besaran kepada industri chipnya untuk mendominasi pasar global, langkah yang dianggap tidak adil oleh pemerintah AS.
Namun, penyelidikan ini menghadapi tantangan signifikan. Keputusan akhir kemungkinan baru akan diambil oleh pemerintahan Trump, yang dikenal dengan kebijakan perdagangannya yang agresif. Trump sebelumnya menggunakan Pasal 301 dalam undang-undang perdagangan untuk memberlakukan tarif besar-besaran pada impor dari China. Kini, langkah serupa dapat diambil terhadap cip lawas.
Selain itu, Gedung Putih telah berupaya memperkuat industri semikonduktor dalam negeri dengan mengesahkan undang-undang subsidi bipartisan yang mendukung manufaktur cip domestik. Namun, para ahli memperingatkan bahwa mengurangi ketergantungan pada cip impor membutuhkan waktu bertahun-tahun.
Kenaikan tarif yang direncanakan dari 25% menjadi 50% pada 2025 juga menimbulkan perdebatan. Langkah ini dapat memperkuat posisi industri dalam negeri, tetapi di sisi lain berisiko meningkatkan biaya produksi bagi banyak perusahaan AS yang masih sangat bergantung pada cip lawas impor.
Untuk benar-benar mengamankan rantai pasokan, AS harus menginvestasikan lebih banyak sumber daya dalam membangun infrastruktur manufaktur cip modern dan lawas.
Dengan penyelidikan yang sedang berlangsung, fokus utama adalah membangun rantai pasokan semikonduktor yang tangguh, sekaligus memastikan bahwa strategi perdagangan AS tidak hanya melindungi kepentingan dalam negeri tetapi juga mampu menghadapi dominasi China secara efektif.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 8Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







