PMI Manufaktur China Anjlok, Tekanan Ekonomi Semakin Menguat

AKURAT.CO Aktivitas manufaktur China kembali menunjukkan pelemahan tajam pada Mei 2025. Survei swasta yang dilakukan Caixin dan S&P Global menunjukkan bahwa sektor manufaktur tengah menghadapi tekanan berat, baik dari sisi permintaan domestik maupun luar negeri.
Dikutip dari laman reuters, Indeks Manajer Pembelian (PMI) manufaktur Caixin tercatat turun drastis ke level 48,3 pada Mei, dari 50,4 pada bulan sebelumnya.
Angka ini tidak hanya berada di bawah ambang batas 50 yang memisahkan ekspansi dan kontraksi tetapi juga merupakan yang terendah sejak September 2022.
“Pasokan dan permintaan di sektor manufaktur sama-sama mengalami penurunan. Terutama, permintaan luar negeri yang terus melemah,” ujar Ekonom Senior Caixin Insight Group, Wang Zhe.
Baca Juga: Hiraukan Tekanan Tarif AS, Aktivitas Manufaktur China Kembali Tumbuh
Merosotnya pesanan baru dan produksi menjadi indikator utama pelemahan tersebut. Di sisi lain, perusahaan manufaktur juga mulai memangkas pembelian dan mengurangi tenaga kerja, mencerminkan kehati-hatian yang semakin meningkat.
Kendati pelonggaran tarif perdagangan sejak pertengahan Mei sempat memberikan angin segar, hal itu belum cukup untuk menahan laju kontraksi industri.
Wang menyebut indikator makroekonomi utama menunjukkan pelemahan tajam di awal kuartal kedua tahun ini, yang menandakan tekanan terhadap ekonomi China makin besar.
"Sektor manufaktur China sebelumnya mendapat dorongan dari ekspor yang kuat. Namun, kondisi geopolitik yang tidak stabil, termasuk ketegangan dagang antara China dan Amerika Serikat, membuat sentimen bisnis kian rentan. Terlebih lagi, sektor properti yang menjadi salah satu penopang pertumbuhan masih belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan," paparnya.
Survei Caixin cenderung lebih mencerminkan kondisi di sektor swasta dan perusahaan kecil-menengah. Ini berbeda dengan survei resmi yang fokus pada perusahaan milik negara dan industri besar.
Baca Juga: Sektor Jasa dan Manufaktur China Kembali Bangkit Berkat Stimulus
“Lingkungan perdagangan saat ini sangat tidak pasti, dan semua mata tertuju pada kebijakan lanjutan pemerintah serta pemulihan sektor properti,” kata Raymond Yeung, Kepala Ekonom Wilayah Besar China di ANZ Group.
Kendati begitu, laporan tersebut menyebutkan bahwa sentimen terhadap produksi masa depan mengalami sedikit perbaikan. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian pelaku industri masih berharap pada pembalikan arah kebijakan dan pemulihan pasar global dalam beberapa bulan ke depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 5Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 6Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 7Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









