Bakom: Akselerasi Belanja Pemerintah di Kuartal I-2026 Hanya Sebagai Pemantik, Peran Swasta dan Danantara ke Depan Diharapkan Lebih Besar

AKURAT.CO Belanja negara yang melesat pada awal tahun tampaknya bukan sekadar percepatan rutin birokrasi. Pemerintah menjadikannya sebagai injeksi dini untuk menopang mesin pertumbuhan ketika sektor eksternal mulai kehilangan tenaga.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat konsumsi pemerintah pada kuartal I-2026 tumbuh 21,81% secara tahunan, tertinggi sejak basis penghitungan produk domestik bruto (PDB) 2010 digunakan.
Lonjakan itu ikut mendorong ekonomi Indonesia tumbuh 5,61% pada tiga bulan pertama tahun ini, melampaui ekspektasi pasar sekaligus menjadi pertumbuhan kuartal I tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Baca Juga: Airlangga Banggakan Pertumbuhan Ekonomi RI Lampaui China hingga AS
Di tengah ekspor yang mulai tertahan akibat perlambatan global, pemerintah memilih memainkan peran sebagai pemantik atau jump start ekonomi.
Strategi tersebut terlihat dari percepatan realisasi belanja negara, mulai dari pembayaran THR dan gaji ke-14 aparatur sipil negara, pengangkatan ASN baru, hingga ekspansi belanja barang dan jasa pemerintah.
Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah, Fithra Faisal Hastiadi, menilai lonjakan belanja pemerintah itu tidak berhenti pada efek administratif semata, melainkan menciptakan multiplier effect yang menjalar ke berbagai lapisan aktivitas ekonomi domestik.
Menurut dia, ketika belanja negara dipercepat pada awal tahun, uang yang mengalir ke rumah tangga ASN, kontraktor pemerintah, hingga pelaku usaha penyedia barang dan jasa akan kembali berputar menjadi konsumsi dan investasi baru.
"Pemerintah spending karena pemeirntah sadar bahwa masyarakat masih perlu dorongan. Tapi ke depan tentu bukan hanya pemerintah, kita harus melihat bahwa yang namanya uang pemerintah (APBN) itu kan terbatas, berarti butuh kolaborasi. Makanya sekarang pemeirntah punya private sector, private actor, private entity, Danantara sebagai investment collaborators. Teman-teman Kadin, pengusaha segala macem bisa jump in di sini," ujar Fithra.
Dalam penjelasannya, Fithra menggambarkan bahwa tambahan pendapatan dari belanja pemerintah akan meningkatkan daya beli masyarakat, terutama pada momentum Ramadan dan Idulfitri di kuartal pertama.
Efek lanjutannya terlihat pada konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,52%, tertinggi dibandingkan beberapa tahun terakhir. Pada saat yang sama, dunia usaha merespons kenaikan permintaan domestik dengan meningkatkan produksi dan investasi, tercermin dari pertumbuhan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) sebesar 5,96%.
Ia juga menekankan bahwa pola ini menunjukkan struktur pertumbuhan Indonesia masih sangat ditopang permintaan domestik. Ketika ekspor barang dan jasa hanya tumbuh 0,90% dan ekonomi global dibayangi ketidakpastian, belanja pemerintah menjadi instrumen penyangga agar momentum pertumbuhan tidak kehilangan tenaga terlalu cepat.
Namun di balik impresi pertumbuhan yang kuat, terdapat konsekuensi fiskal yang mulai membesar. Percepatan belanja menyebabkan defisit APBN melebar lebih dini pada awal tahun.
Karena itu, efektivitas belanja menjadi faktor krusial: apakah dorongan fiskal tersebut mampu menciptakan aktivitas ekonomi berkelanjutan, atau hanya menghasilkan lonjakan konsumsi jangka pendek.
Bagi pemerintah, setidaknya kuartal pertama telah memberi sinyal bahwa strategi “menyalakan mesin ekonomi” melalui akselerasi fiskal masih bekerja. Di tengah dunia yang melambat, negara kembali mengambil posisi sebagai motor pertumbuhan terakhir.
"Tapi kan sebelum ini mulus semua butuh jump start. Makanya kenapa butuh spending yang tinggi dari pemerintah. Tapi semoga ke depannya tidak perlu dipaksakan dari spending pemerintah yang terlalu tinggi, teman-teman private sector dan Danantara bisa lebih banyak berperan," harap Fithra.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








