Akurat Logo

Ditekan dari Dua Arah, Rupiah Ambruk ke Rp18.128

Esha Tri Wahyuni | 9 Juli 2026, 18:11 WIB
Ditekan dari Dua Arah, Rupiah Ambruk ke Rp18.128

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah menjadi salah satu mata uang dengan pelemahan terdalam di kawasan Asia pada penutupan perdagangan Kamis (9/7/2026). 

Di saat mayoritas mata uang regional justru menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS), rupiah ditutup melemah 114 poin atau 0,63% ke level Rp18.128 per USD.

Pergerakan tersebut menunjukkan tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari sentimen global, tetapi juga dipengaruhi faktor domestik. Di kawasan Asia, yuan China menjadi mata uang dengan penguatan terbesar setelah naik 0,15% terhadap dolar AS. 

Baca Juga: Rupiah Tetap Melemah Usai Peningkatan Cadev, Tembus Rp18.014

Yen Jepang dan baht Thailand masing-masing menguat 0,14%, disusul rupee India sebesar 0,11% dan dolar Singapura yang menguat 0,05%.

Sebaliknya, hanya beberapa mata uang yang bergerak di zona merah. Dollar Taiwan tercatat melemah 0,45%, won Korea Selatan turun 0,27%, peso Filipina terkoreksi 0,19%, sementara ringgit Malaysia bergerak relatif stabil dengan kecenderungan melemah tipis.

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pasar masih mencermati percepatan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada semester I-2026. 

Menurutnya, percepatan belanja pemerintah justru menjadi salah satu sentimen yang menekan pergerakan rupiah di pasar.

"Pelaksanaan APBN yang lebih cepat pada semester pertama tahun 2026 menjadi sentimen negatif bagi pasar," ujar Ibrahim Assuaibi dalam riset hariannya, Kamis (9/7/2026).

Meski demikian, pemerintah tetap menjadikan APBN 2026 sebagai instrumen utama menjaga stabilitas ekonomi nasional sekaligus mendukung delapan agenda prioritas. 

Program tersebut mencakup penguatan ketahanan pangan dan energi, pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG), peningkatan kualitas pendidikan, penguatan layanan kesehatan, pembangunan desa, pemberdayaan koperasi dan UMKM, penguatan sistem pertahanan semesta, hingga percepatan investasi dan perdagangan global.

Selain faktor fiskal, pelemahan rupiah juga dibayangi penurunan optimisme masyarakat. Survei Konsumen Bank Indonesia menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Juni 2026 turun menjadi 117,8 dari 120,9 pada Mei 2026. 

Penurunan ini menjadi pelemahan dua bulan berturut-turut sekaligus level terendah sejak September tahun lalu.

Sebagai perbandingan, pada Januari 2026 indeks keyakinan konsumen masih berada di level 127,0. Meski terus menurun, Bank Indonesia menilai optimisme masyarakat masih terjaga karena IKK tetap berada di atas level 100 yang mencerminkan konsumen masih berada dalam fase optimistis.

Tekanan terhadap rupiah juga diperbesar oleh meningkatnya ketidakpastian global. Investor kembali memburu aset berdenominasi dolar AS setelah konflik di Timur Tengah memanas.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan baru terhadap Iran menyusul operasi militer pada Rabu malam. 

Pemerintah AS menyebut langkah tersebut dilakukan untuk menjaga keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz setelah tiga kapal tanker diserang sehari sebelumnya.

Sebagai respons, Iran mengklaim telah menyerang fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait. Eskalasi konflik tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan distribusi energi global. 

Sejumlah perusahaan asuransi perang bahkan mulai menyarankan perusahaan pelayaran menghentikan sementara aktivitas di Selat Hormuz, sementara sebagian lainnya meninjau ulang ketentuan polis karena meningkatnya risiko di kawasan.

Di sisi lain, pelaku pasar juga mencermati risalah rapat Federal Reserve (The Fed) yang menunjukkan sikap bank sentral AS belum seakomodatif ekspektasi pasar.

Risalah tersebut memperlihatkan para pejabat The Fed masih berbeda pandangan mengenai arah suku bunga tahun ini. Kekhawatiran terhadap inflasi yang masih tinggi dinilai membuka peluang kenaikan suku bunga apabila tekanan harga belum mereda pada paruh kedua tahun ini.

Inflasi AS sendiri masih berada di atas target tahunan The Fed sebesar 2%. Dalam pidato terbarunya, Ketua The Fed Kevin Warsh kembali menegaskan komitmen bank sentral AS untuk mengembalikan inflasi menuju sasaran tersebut.

Kombinasi sentimen domestik yang melemah dan meningkatnya ketidakpastian global membuat rupiah berada di bawah tekanan lebih besar dibandingkan mayoritas mata uang Asia pada perdagangan hari ini.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.