Surplus Dagang RI ke China Melesat, Transaksi Rupiah-Yuan Naik 300 Persen

AKURAT.CO Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Bakrie menyebut Indonesia berhasil mencatat surplus perdagangan sebesar USD5,8 miliar dengan China pada semester I-2026.
Anindya mengatakan, nilai perdagangan Indonesia dan China terus menunjukkan tren positif. Setelah mencapai sekitar USD168 miliar sepanjang 2025, total perdagangan kedua negara telah menembus USD101 miliar hanya dalam enam bulan pertama 2026.
Menurutnya, peningkatan kualitas ekspor Indonesia menjadi salah satu faktor utama yang mendorong surplus perdagangan tersebut.
Baca Juga: KADIN Indonesia: Piala Dunia FIFA 2026 Genjot Perputaran Ekonomi RI Lebih dari Rp5 Triliun
“Kali ini kita berhasil mengekspor barang-barang yang mempunyai nilai tambah sehingga surplusnya menjadi USD5,8 miliar dalam enam bulan terakhir ini,” kata Anindya dalam agenda Indonesia-China Partnership Forum di Jakarta, Kamis (23/7/2026).
Selain perdagangan, Anindya menilai hubungan ekonomi kedua negara juga semakin kuat melalui kerja sama di sektor keuangan. Ia menyoroti implementasi Local Currency Transaction (LCT) antara Bank Indonesia dan otoritas moneter China yang dinilai berjalan positif.
Anindya mengungkapkan, nilai transaksi dalam skema penggunaan mata uang lokal tersebut ditargetkan meningkat dari sekitar USD30 miliar menjadi USD60 miliar.
Bahkan, berdasarkan informasi yang diperoleh Kadin dari Bank Indonesia sekitar satu bulan lalu, transaksi langsung menggunakan rupiah dan yuan telah melonjak hingga 300%.
"Dan kira-kira sebulan yang lalu juga kami ke Bank Indonesia mengatakan bahwa langsung antara Rupiah dan Yuan transaksinya sudah naik 300%. Jadi artinya ini luar biasa," ujarnya.
Lebih lanjut , Anindya juga menyoroti semakin eratnya integrasi sistem pembayaran digital antara Indonesia dan China.
Baca Juga: Lirik Sakedung Kading yang Viral di TikTok, Lengkap dengan Makna Lagunya
Menurutnya, masyarakat Indonesia kini bisa menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) untuk bertransaksi di China, sehingga memudahkan aktivitas pelaku usaha maupun wisatawan.
"Jadi kita mesti punya WeChat atau AliPay, tapi sekarang kita punya QRIS,” tutur Anindya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








