Rupiah DItaksir Lanjutkan Pelemahan ke Rp17.970

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah ditaksir melemah ke rentang Rp17.860-Rp17.970 per USD pada perdagangan Rabu (12/8/2026).
Proyeksi tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah belum sepenuhnya mereda. Pasar masih harus menghadapi sejumlah katalis sekaligus, mulai dari perkembangan konflik AS-Iran, kondisi Selat Hormuz, harga minyak, agenda MSCI, hingga data inflasi AS.
"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah diperkirakan fluktuatif dan ditutup melemah di rentang Rp17.860 sampai Rp17.970 per USD," ujar Pengamat Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, Rabu (12/8/2026).
Baca Juga: Rupiah Ditaksir Lanjutkan Penguatan ke Rp17.700
Dalam jangka sangat pendek, data CPI AS akan menjadi salah satu penentu utama arah dolar AS. Apabila inflasi sesuai atau lebih rendah dari ekspektasi, ruang bagi pasar untuk meningkatkan taruhan terhadap pelonggaran kebijakan The Fed dapat terbuka.
Namun, apabila inflasi kembali menunjukkan tekanan, dolar AS berpotensi menguat dan memberikan tekanan lebih besar terhadap rupiah.
Pada perdagangan Selasa (11/8/2026), rupiah kembali berada di bawah tekanan. Rupiah ditutup melemah 106 poin ke level Rp17.861 per USD, dari posisi perdagangan sebelumnya yang berada di Rp17.755 per USD.
Pelemahan rupiah terjadi ketika pasar keuangan global kembali menghadapi ketidakpastian akibat meningkatnya tensi antara Amerika Serikat dan Iran. Perkembangan konflik tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena berpotensi mengganggu pasokan energi global melalui Selat Hormuz.
Selain faktor geopolitik, pelaku pasar kini menunggu sejumlah data ekonomi AS yang dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Data inflasi konsumen atau Consumer Price Index (CPI) AS untuk Juli 2026 akan dirilis pada Rabu (12/8/2026), disusul data Producer Price Index (PPI) pada Kamis (13/8/2026).
Ibrahim menilai, ketidakpastian terkait hubungan AS dan Iran kembali menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi sentimen pasar.
"Amerika Serikat dan Iran sama-sama menuntut kompensasi atas serangan militer baru-baru ini. Hal ini memupus harapan bahwa kedua pihak sudah mendekati kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz," kata Ibrahim.
Menurut Ibrahim, terdapat klaim yang berlawanan mengenai kondisi Selat Hormuz. Washington menyatakan jalur perairan tersebut tetap terbuka, sedangkan Teheran mengklaim telah menutup jalur tersebut menggunakan ranjau dan pesawat nirawak atau drone.
Ketidakpastian tersebut menjadi penting bagi pasar karena Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi perdagangan energi dunia. Gangguan terhadap jalur tersebut dapat meningkatkan kekhawatiran mengenai pasokan minyak dan mendorong kenaikan harga minyak mentah.
Presiden AS Donald Trump pada Senin (10/8/2026) juga menuntut Iran membayar kompensasi bagi korban jiwa dalam konflik terbaru. Tuntutan tersebut muncul setelah sebelumnya terdapat harapan bahwa kesepakatan untuk membuka kembali jalur perairan vital itu sudah semakin dekat.
Situasi tersebut kembali meningkatkan risiko terhadap pasar global. Jika harga minyak naik akibat gangguan pasokan, negara-negara pengimpor energi dapat menghadapi tekanan tambahan terhadap neraca perdagangan dan inflasi.
Risiko terhadap pasokan energi juga datang dari kawasan Laut Merah. Kelompok Houthi yang didukung Iran menyatakan telah menyerang kilang minyak Jazan milik Saudi Aramco pada akhir pekan lalu.
Kelompok tersebut juga mengancam membuka front baru dalam konflik dengan menyerang kapal serta infrastruktur minyak di kawasan Laut Merah. Perkembangan ini berpotensi memperbesar kekhawatiran pasar terhadap gangguan distribusi energi global.
Bagi rupiah, perkembangan harga minyak menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan karena Indonesia masih memiliki kebutuhan impor minyak. Kenaikan harga minyak yang berlangsung signifikan dapat memberikan tekanan terhadap kebutuhan valuta asing dan neraca eksternal.
Karena itu, pelemahan rupiah tidak hanya berkaitan dengan pergerakan dolar AS, tetapi juga bagaimana pasar membaca dampak lanjutan dari konflik geopolitik terhadap harga komoditas dan kondisi ekonomi global.
Setelah sentimen geopolitik, perhatian pasar akan beralih ke data ekonomi AS. CPI Juli 2026 diperkirakan turun menjadi 3,4% secara tahunan atau year-on-year (YoY), dari 3,5% pada bulan sebelumnya.
Sementara itu, inflasi inti atau core CPI diproyeksikan turun menjadi 2,5% YoY, dari 2,6%. Data tersebut akan menjadi salah satu indikator penting bagi pasar untuk memperkirakan langkah The Fed dalam menentukan kebijakan moneternya.
Pasar juga mencermati PPI AS yang akan dirilis sehari setelah data CPI. Jika inflasi menunjukkan perlambatan, ekspektasi terhadap pelonggaran kebijakan moneter AS dapat kembali menguat. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Sebaliknya, apabila inflasi AS lebih tinggi dari perkiraan, pasar dapat kembali memperhitungkan kebijakan moneter AS yang lebih ketat. Dolar AS berpotensi menguat dan memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.
Data CME FedWatch Tool menunjukkan probabilitas perubahan suku bunga pada pertemuan September turut mengalami pergeseran. Pasar sebelumnya memperkirakan peluang sebesar 67% pada pekan sebelumnya, sedangkan kini probabilitas tersebut berada di sekitar 44%.
Perubahan ekspektasi tersebut menunjukkan bahwa data inflasi AS akan menjadi salah satu katalis utama pergerakan dolar AS dan mata uang global dalam beberapa hari ke depan.
Dari sisi domestik, pelaku pasar juga bersiap menghadapi agenda tinjauan MSCI pada 12 Agustus 2026. Perubahan hasil peninjauan dan proses rebalancing yang mulai berlaku setelah 31 Agustus berpotensi mempengaruhi arus dana asing di pasar modal Indonesia.
Sentimen terhadap pasar domestik sedikit tertahan setelah Presiden Prabowo Subianto menunjuk Destry Damayanti sebagai calon tunggal pengganti Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia.
Penunjukan tersebut dinilai memberikan kejelasan terhadap proses transisi kepemimpinan di bank sentral. Kepastian tersebut menjadi penting bagi pasar karena kebijakan BI akan menjadi salah satu faktor utama dalam menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan eksternal.
Namun, sentimen domestik belum sepenuhnya solid. Data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang dirilis BI menunjukkan penurunan dari 117,8 pada Juni menjadi 116,8 pada Juli 2026.
Posisi tersebut menjadi level terendah sejak September 2025 ketika IKK berada di level 115. Jika dibandingkan dengan posisi Januari 2026 yang mencapai 127, IKK Juli telah turun 10,2 poin.
Penurunan keyakinan konsumen menunjukkan adanya pelemahan persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun ekspektasi terhadap kondisi ekonomi ke depan.
Meski demikian, indikator konsumsi lainnya menunjukkan perbaikan. Bank Indonesia mencatat penjualan eceran tumbuh 0,7% secara bulanan pada Juni 2026.
Pertumbuhan tersebut sekaligus mengakhiri kontraksi selama dua bulan sebelumnya. Pada April 2026, penjualan eceran tercatat terkontraksi 11,6%, kemudian kontraksi berlanjut sebesar 1,5% pada Mei.
BI menjelaskan perbaikan penjualan eceran pada Juni dipengaruhi faktor musiman, terutama meningkatnya permintaan selama periode hari besar keagamaan nasional dan libur sekolah.
Dengan kombinasi sentimen global dan domestik tersebut, pergerakan rupiah pada perdagangan berikutnya masih berpotensi fluktuatif.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 120 Twibbon 17 Agustus 2026 Gratis, Cocok untuk Foto Profil dan Rayakan HUT RI
- 2Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 3Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 6Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 7Meludahi Biarawati: Pelecehan Bernuansa Agama oleh Ekstremis Yahudi Menjadi Hal yang Lumrah di Yerusalem
- 8BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026








