Tekanan Sentimen Eksternal, Rupiah Ditaksir Berbalik Melemah ke Rp17.680

AKURAT.CO Pergerakan nilai tukar rupiah masih berpotensi fluktuatif pada perdagangan hari ini, Selasa (8/9/2026).
Pelaku pasar akan mencermati perkembangan konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran, prospek kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed), hingga sejumlah risiko domestik yang dapat memengaruhi aktivitas ekonomi.
Pengamat Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, rupiah masih menghadapi tekanan dari berbagai sentimen eksternal.
Baca Juga: Rupiah Ditaksir Menguat Lagi ke Rp17.630 Jelang Rilis Data Tenaga Kerja AS
Salah satu yang menjadi perhatian adalah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu arus perdagangan dan energi global.
"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.640-Rp17.680," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Selasa (8/9/2026).
Pada perdagangan kemarin, rupiah ditutup menguat tipis 2 poin ke level Rp17.640 per USD. Sebelumnya, rupiah sempat melemah hingga 25 poin dari posisi penutupan perdagangan sebelumnya di Rp17.642 per USD.
Pergerakan rupiah tersebut berlangsung ketika pasar global masih dibayangi eskalasi konflik AS-Iran.
Militer AS menyatakan telah menyerang tiga kapal tanker minyak Iran pada Sabtu setelah pasukan Iran disebut menargetkan kapal Angkatan Laut AS menggunakan rudal balistik.
Iran kemudian menyatakan telah menyerang sebuah pesawat nirawak atau drone Angkatan Laut AS. Teheran juga memperingatkan serangan lanjutan dari AS akan memicu respons yang lebih keras.
Situasi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran di kawasan Selat Hormuz.
Jalur tersebut memiliki posisi strategis karena sekitar seperlima konsumsi minyak global biasanya melewati kawasan tersebut.
Risiko gangguan lalu lintas energi menjadi perhatian pasar karena peningkatan ketegangan geopolitik dapat memengaruhi harga komoditas, inflasi global, serta ekspektasi terhadap kebijakan moneter negara-negara utama.
Menurut Ibrahim, pasar juga mencermati laporan mengenai rencana Iran menetapkan zona maritim terbatas baru di luar Selat Hormuz.
Apabila risiko keamanan di kawasan tersebut meningkat, pelaku pasar dapat kembali memperhitungkan potensi gangguan terhadap arus perdagangan dan pasokan energi.
Lalu lintas pelayaran juga disebut telah turun menjadi sekitar 10 kapal pengangkut komoditas per hari. Angka tersebut merupakan level terendah sejak Mei berdasarkan data perusahaan analitik Kpler.
Selain perkembangan geopolitik, arah rupiah akan sangat dipengaruhi oleh data ekonomi AS. Pasar saat ini mencermati apakah kondisi ekonomi AS masih cukup kuat untuk membuat The Fed mempertahankan kebijakan suku bunga yang ketat.
Data terbaru menunjukkan perekonomian AS menyerap lebih banyak tenaga kerja dibandingkan perkiraan. Lebih dari 162.000 warga AS masuk ke dalam angkatan kerja pada Agustus, jauh di atas estimasi 56.000.
Data Juli juga direvisi dari sebelumnya minus 23.000 menjadi 21.000. Sementara itu, tingkat pengangguran tercatat 4,1%, lebih rendah dibandingkan proyeksi pejabat The Fed sebesar 4,5% untuk akhir tahun.
Kondisi tersebut membuat perhatian pasar beralih ke perkembangan inflasi AS. Jika tekanan inflasi masih tinggi, ruang bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneter dapat menjadi lebih terbatas.
Ibrahim mengatakan data Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Indeks Harga Produsen (PPI) AS yang akan dirilis pekan ini menjadi perhatian utama pasar.
"Kuatnya penambahan lapangan kerja memungkinkan The Fed untuk lebih fokus pada aspek inflasi dari mandatnya. Sehingga data CPI dan PPI AS minggu ini menjadi sorotan utama," ujarnya.
Menurutnya, apabila kedua indikator inflasi tersebut menunjukkan tekanan harga yang masih tinggi, ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed dapat kembali berubah.
"Jika kedua data tersebut menunjukkan bahwa inflasi masih tinggi, hal ini dapat membuka kembali kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan FOMC di bulan September ini," jelasnya.
Perubahan ekspektasi terhadap suku bunga The Fed menjadi penting bagi rupiah karena dapat memengaruhi arah arus modal global dan permintaan terhadap dolar AS.
Dari dalam negeri, pasar juga menghadapi sejumlah risiko yang dapat memengaruhi sentimen terhadap aset Indonesia.
Ibrahim menyebut pekan ini menjadi ujian bagi fleksibilitas kebijakan moneter Indonesia. Di satu sisi, kebijakan moneter perlu mendukung pertumbuhan ekonomi.
Namun di sisi lain, pelonggaran kebijakan juga harus memperhitungkan stabilitas nilai tukar dan potensi arus modal keluar.
"Pekan ini sepertinya menjadi ujian bagi fleksibilitas kebijakan moneter Indonesia. Tantangannya bukan hanya menjaga pertumbuhan, tetapi juga memastikan bahwa stimulus moneter tidak dibayar dengan volatilitas rupiah dan keluarnya modal asing," kata Ibrahim.
Selain faktor pasar keuangan, sejumlah gangguan aktivitas ekonomi domestik juga menjadi perhatian.
Bencana alam yang terjadi di sejumlah wilayah disebut berpotensi memengaruhi transportasi dan rantai pasok.
Gangguan penerbangan akibat sebaran abu vulkanik, misalnya, dapat menghambat mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi apabila berlangsung dalam waktu yang lebih panjang.
Ibrahim juga menyoroti pembakaran lahan gambut di Kalimantan dan sebagian wilayah Sumatra serta kondisi Sungai Barito yang mengering.
Kondisi tersebut berpotensi menghambat transportasi batu bara dan menambah risiko terhadap rantai pasok.
"Pelaku pasar akan mencermati penanganan bencana sambil terus menghitung potensi dampaknya terhadap aktivitas ekonomi, terutama jika gangguan transportasi dan dibatasinya aktivitas luar rumah berlangsung lebih lama," ujarnya.
Selain sentimen global dan risiko domestik, pasar juga akan menunggu sejumlah indikator ekonomi Indonesia.
Data cadangan devisa Agustus, indeks sentimen konsumen, serta penjualan ritel Juli menjadi beberapa indikator yang akan dicermati pelaku pasar.
Data tersebut akan memberikan gambaran mengenai kondisi eksternal dan aktivitas ekonomi domestik.
Khusus bagi rupiah, posisi cadangan devisa juga menjadi salah satu indikator penting dalam melihat kapasitas Indonesia menghadapi tekanan eksternal terhadap nilai tukar.
Dengan berbagai sentimen tersebut, rupiah diperkirakan belum sepenuhnya keluar dari fase volatilitas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









