Pramono Setuju Hujan Buatan Dilaksanakan Dua Kali Sepekan, Jakarta Siaga Hadapi Kemarau Panjang

AKURAT.CO Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan melaksanakan operasi modifikasi cuaca (OMC) atau hujan buatan dua kali setiap pekan untuk mengantisipasi dampak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih lama.
Kebijakan itu dibarengi dengan penguatan langkah pencegahan kebakaran dan antisipasi krisis air bersih di ibu kota.
"Intinya tadi saya sudah memberikan persetujuan untuk kalau bisa setiap minggu itu satu, dua kali dibuat hujan buatan atau modifikasi cuaca. Karena musim kemarau akan berlangsung lama," kata Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, di Balai Kota Jakarta, Rabu (5/8/2026).
Pemprov DKI Jakarta telah menetapkan dua prioritas utama dalam menghadapi musim kemarau, yakni mencegah kebakaran, serta memastikan ketersediaan air bersih bagi warga.
Seluruh wali kota diminta mengintensifkan kampanye bertajuk Jaga Jakarta yang difokuskan pada upaya pencegahan kebakaran dan kesiapsiagaan menghadapi potensi gangguan pasokan air bersih selama musim kemarau.
Baca Juga: DPR Minta Pemerintah Bergerak Cepat Atasi Krisis Air Bersih Akibat Kemarau Ekstrem
"Yang pertama adalah antisipasi terhadap kebakaran. Maka Pemerintah DKI Jakarta, wali kota akan kampanye tentang Jaga Jakarta dalam dua hal; satu kebakaran, yang satu adalah penyediaan air bersih pasti mengalami hambatan," ujarnya.
Pramono menilai cuaca kering yang berlangsung dalam waktu lama meningkatkan risiko kebakaran, terutama di kawasan permukiman padat. Untuk itu, ia menginstruksikan setiap wilayah rukun warga (RW) mulai menyiapkan alat pemadam api ringan (APAR) sebagai langkah mitigasi dini.
"Sehingga dengan demikian itulah dua yang akan menjadi konsentrasi untuk kita tangani, yaitu air bersih, yang kedua adalah kebakaran. Dan saya minta untuk setiap RW untuk persiapan APAR, alat untuk pemadam kebakarannya dipersiapkan dari sekarang karena ini pasti cepat atau lambat karena suasananya kering," jelasnya.
Selain ancaman kebakaran, pemprov juga mengantisipasi meningkatnya risiko gangguan kesehatan akibat kualitas udara yang memburuk pada musim kemarau.
Pramono menyebut potensi meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menjadi salah satu dampak yang harus diwaspadai.
Baca Juga: Jakarta Siaga Modifikasi Cuaca Hadapi Kemarau
"Dan juga kemungkinan untuk terjadi ISPA. Jadi, itulah yang tadi dalam rapat kami putuskan," tuturnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







