IGCN Bersama Bappenas Dorong Akselerasi Ekonomi Sirkular Lewat Executive Dialogue 2026

AKURAT.CO UN Global Compact Network Indonesia (IGCN) menggandeng Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk menyelenggarakan Circular Economy Executive Dialogue 2026. Forum strategis ini digelar di Gedung BJ Habibie, BRIN, dengan dukungan PT Amita Tamaris Lestari.
Kegiatan tersebut mempertemukan unsur pemerintah, pimpinan perusahaan, hingga mitra ekosistem guna merumuskan langkah percepatan transisi ekonomi sirkular di Indonesia sekaligus membuka ruang pertumbuhan bisnis berkelanjutan.
Transisi menuju ekonomi sirkular dinilai menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi inklusif dan peningkatan daya saing nasional. Pendekatan ini juga sejalan dengan komitmen Indonesia dalam Long-Term Strategy for Low Carbon and Climate Resilience (LTS-LCCR) serta target Net Zero Emissions (NZE) 2060.
Baca Juga: Dukung Ekonomi Sirkular dan Perbaikan Lingkungan, PGN Batam Kembangkan Program CSR PELITA Tembesi
Bappenas memproyeksikan implementasi ekonomi sirkular berpotensi menyumbang Rp593–638 triliun terhadap Produk Domestik Bruto pada 2030 dan menciptakan lebih dari 4,4 juta lapangan kerja hijau di berbagai sektor industri.
Presiden IGCN, Y.W. Junardy, menegaskan pentingnya keterlibatan dunia usaha dalam transformasi tersebut.
“Transisi menuju ekonomi sirkular bukan hanya agenda keberlanjutan, tetapi juga peluang strategis bagi dunia usaha. Melalui Executive Dialogue ini, kami mendorong kolaborasi yang lebih kuat antara sektor bisnis dan pembuat kebijakan untuk mempercepat solusi sirkular yang berdampak dan dapat diskalakan di Indonesia,” ujar Y.W. Junardy, Sabtu (14/2/2026).
Forum ini turut menghadirkan paparan Reo Kawamura, Director of the Environmental Policy Regional Knowledge Centre for Marine Plastic Debris (RKC-MPD) ERIA, serta pengantar kebijakan dari Leonardo A. A. Teguh Sambodo, Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Bappenas.
Keduanya memaparkan dinamika tren global dan arah kebijakan nasional dalam integrasi prinsip sirkular ke dalam perencanaan pembangunan.
Leonardo menekankan pentingnya implementasi nyata di lapangan.
“Kebijakan dan regulasi hanyalah tumpukan dokumen jika tidak diikuti dengan implementasi yang konsisten dan kolaboratif. Di sinilah peran sektor swasta menjadi kunci.
Pemerintah akan berperan sebagai fasilitator melalui penyediaan ekosistem pembiayaan hijau dan insentif. Namun, kami membutuhkan swasta untuk berani melakukan pilot project, berkolaborasi dan mengadopsi riset dari BRIN, serta meningkatkan kapasitas SDM internal untuk menghadapi transformasi menuju model bisnis berkelanjutan,” ungkapnya.
Dari sisi riset dan inovasi, Deputi Pemanfaatan Riset dan Inovasi BRIN Dr. R. Hendrian, M.Sc. menyampaikan apresiasi atas kolaborasi lintas sektor tersebut.
“Atas nama Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Indonesia Global Compact Network (IGCN) dan Bappenas atas kolaborasi penyelenggaraan kegiatan ini. Dalam konteks global, ekonomi sirkuler telah menjadi bagian penting dari strategi dan karbonisasi dan sustainable growth. Dalam konteks nasional, ekonomi sirkuler merupakan instrumen penting untuk mencapai visi Indonesia Emas 2045, yakni Indonesia yang maju, berdaulat, dan berkelanjutan,” ucap Dr. R. Hendrian, M.Sc.
Salah satu agenda utama dalam forum ini adalah peluncuran resmi IGCN Circular Economy Working Group (CE-WG). Kelompok kerja tersebut dibentuk sebagai wadah kolaboratif untuk mendorong inovasi, dialog kebijakan, hingga proyek percontohan yang selaras dengan Sepuluh Prinsip UN Global Compact dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Diskusi panel bertema “Scaling Circularity – Challenges, Policy, and Partnerships” yang dimoderatori Nicholas Goodwin, Country Director Delterra, membedah tantangan implementasi ekonomi sirkular, mulai dari pembiayaan, kesiapan teknologi, harmonisasi regulasi, hingga perubahan perilaku konsumen.
Dalam momentum tersebut, lima perusahaan resmi bergabung sebagai anggota inti CE-WG, yakni PT Coca-Cola Europacific Partners Indonesia, PT TBS Energi Utama Tbk, PT Amita Tamaris Lestari, PT Unilever Indonesia Tbk, serta PT Dynapack Asia.
Rangkaian acara ditutup dengan CEO Discussion Session yang dimoderatori Verlyana Hitipeuw, CEO & Chief Consultant Kiroyan Partners.
Sesi ini menyoroti pengalaman konkret dunia usaha dalam mengadopsi model bisnis sirkular, sekaligus menegaskan bahwa ekonomi sirkular perlu menjadi strategi inti perusahaan, bukan sekadar kewajiban kepatuhan.
Melalui Circular Economy Executive Dialogue 2026, IGCN berharap kolaborasi lintas sektor semakin kuat, pemahaman atas nilai ekonomi sirkular kian luas, dan aksi kolektif dapat berjalan berkelanjutan guna mendorong ekonomi Indonesia yang lebih tangguh dan ramah lingkungan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 5Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








