Belajar dari Mantan Napiter: Mewaspadai Propaganda Kelompok Garis Keras di Tengah Konflik Global

AKURAT.CO Konflik global di Timur Tengah yang terjadi belakangan antara Iran dan Israel, Palestina dan Israel, India dan Pakistan serta konflik Suriah menyita perhatian publik.
Beragam narasi muncul ke permukaan guna saling mencari simpati. Namun alih-alih mencari simpati, konflik global juga kerap dimanfaatkan oleh kelompok garis keras untuk menyebarkan ideologi, propaganda, perekrutan hingga pengumpulan donasi.
Mantan narapidana terorisme (napiter), Arif Budi Setyawan, mengungkapkan kesalahan masa lalu membuat dirinya lebih bijak dalam menanggapi sebuah isu.
Oleh karena itu, Arif menekankan perlunya masyarakat berfikir kritis dalam menanggapi isu-isu global.
Baca Juga: Konflik Iran-Israel Memanas, Menlu Tingkatkan Level Kesiagaan di Kedutaan Teheran
Menurutnya, konflik di Timur Tengah bukan semata karena agama, melainkan ada kepentingan lain seperti ideologi, ekonomi, politik dan sebagainya.
"Perang itu pasti punya motif politik dan ekonomi. Perang itu butuh energi, butuh pasukan dan butuh motivasi yang kuat. Dan motivasi agama memang sering digunakan untuk menggerakkan orang untuk berperang," ujar Arif, dalam keterangannya, Kamis (19/6/2025).
Sosok yang pernah menjadi pembicara terkait penanggulangan ekstremisme dan terorisme dalam South-East Asia Nations-Civil Society Organization (SEAN-CSO) In The Post Covid-19 Environment Workshop, di Manila tahun 2022 ini mengatakan bahwa masyarakat perlu mencermati narasi dan tujuan yang dibangun oleh kelompok garis keras.
Menurut Arif, masih adanya narasi ekstrem di media sosial yang berpotensi memecah belah masyarakat. Misalnya menghardik, memusuhi, mengafirkan orang lain yang tidak sependapat.
Baca Juga: Bitcoin Turun Akibat Konflik Timur Tengah, Upbit Indonesia Soroti Pentingnya Diversifikasi
Tentunya ini akan berpotensi terjadinya polarisasi di masyarakat yang berdampak pada kehidupan berbangsa dan bernegara.
"Narasi itu ke mana arahnya? Tidak serta merta langsung mengiyakan, menyetujui tapi berpikir kritis dengan mempertanyakan apa akan berdampak dalam kehidupan berbangsa dan bernegara," ujar pria 43 tahun asal Tuban, Jawa Timur, itu.
Mantan simpatisan Jamaah Islamiyah itu mengemukakan pola narasi yang kerap dimainkan oleh kelompok garis keras.
Narasi yang dibangun sering kali menyederhanakan konflik menjadi pertarungan hitam putih, sehingga menutup ruang untuk analisis yang jernih dan dialog yang konstruktif, apalagi mengaburkannya dengan pemahaman agama untuk memicu polarisasi sosial.
Baca Juga: Ahmadinejad Dikabarkan Selamat dari Upaya Pembunuhan di Tengah Konflik Iran-Israel
Misalnya, Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) dan kelompok pendukungnya akan membawa narasi konflik global ke arah penegakan syariat atau pendirian negara Islam. Kemudian, kelompok mantan Jamaah Islamiyah akan membawa narasi konflik ini sebagai peluang untuk membangun jihad global.
"Misalnya ISIS, meskipun menggunakan narasi agama, tujuannya tidak murni untuk membela Islam tetapi lebih kepada penguasaan wilayah dan kekuasaan global. Ini adalah bagian dari permainan politik internasional," jelas Arif yang kini aktif menulis untuk pencegahan ekstremisme dan terorisme.
Oleh karena itu, penulis buku "Internetistan Jihad Zaman Now" ini menekankan kewaspadaan dalam bertindak di tengah masifnya informasi di media sosial.
Arif mengeklaim boleh untuk memiliki sikap dan pandangan terhadap suatu isu, menaruh simpati dan memberikan donasi. Namun masyarakat perlu juga menyelaraskan pandangan politik resmi negara dan melakukan donasi kepada lembaga yang terverifikasi.
Baca Juga: Waspada Harga BBM Naik jika Konflik Iran dan Israel Makin Memanas
"Karena konflik antarnegara jika disikapi secara individu kemudian mengirimkan kader (berhijrah), bisa jadi nanti terjebak seperti fenomena ISIS," tandasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 6Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 7Cara Cek Desil Online Oktober 2026 Pakai NIK KTP, Ini Link Resminya
- 8Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








