Program MBG Tak Cukup Tekan Stunting di NTB, Perlu Diiringi Perencanaan Keluarga dan Pola Asuh

AKURAT.CO Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang difokuskan untuk kelompok 3B: Bumil (Ibu Hamil), Busui (Ibu Menyusui), dan Balita non-PAUD, diyakini dapat mengintervensi percepatan penurunan stunting di Nusa Ternggara Barat (NTB).
Namun, langkah tersebut juga perlu dukungan dengan pemahaman masyarakat tentang pentingnya menikah di usia ideal, perencanaan keluarga, dan pola asuh yang tepat.
"Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya strategis pemerintah dalam memperkuat peran masyarakat dan lintas sektor untuk mewujudkan keluarga Indonesia yang sehat, tangguh, dan berdaya saing," kata Anggota Komisi IX DPR RI, Muazzim Akbar, dikutip Minggu (12/10/2025).
Baca Juga: Pencegahan Stunting Bagian dari Maqashid Syariah, Begini Penjelasan MUI DKI Jakarta
Muazzim menekankan pentingnya menikah pada usia matang, sebagai fondasi keluarga berkualitas. Di mana, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) telah menetapkan usia ideal menikah, minimal di usia 21 tahun untuk perempuan dan 25 tahun untuk laki-laki.
"Ini bukan sekadar angka. Usia ideal menikah ditetapkan untuk memastikan kesiapan fisik, mental, sosial, dan ekonomi pasangan. Dengan kesiapan yang baik, risiko berbagai permasalahan keluarga, termasuk stunting, dapat ditekan," jelasnya.
Direktur Kebijakan Strategi Bidang Peningkatan Kualitas Sumber Daya dan Kemandirian Keluarga Berencana, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, Indra Murty Surbakti, menyatakan penanganan stunting harus dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya mengintervensi gizi melainkan juga perubahan perilaku dan edukasi keluarga.
"Pencegahan stunting dimulai dari hulu usia menikah yang ideal, perencanaan keluarga, pemberian gizi yang cukup untuk ibu dan anak, serta pola pengasuhan yang baik," jelas Indra.
Kepala Perwakilan BKKBN NTB, Dr. Lalu Makripuddin, menegaskan bahwa angka stunting di NTB tidak dapat ditekan hanya dengan program bantuan pangan, tetapi harus dibarengi dengan perubahan pola pikir dan perilaku masyarakat.
Baca Juga: MUI DKI Jakarta Dorong Pencegahan Stunting Sejak Pra-Nikah
Perkawinan usia anak masih menjadi salah satu pemicu tingginya angka stunting di NTB. Karena itu, sosialisasi usia ideal menikah dan edukasi gizi menjadi satu kesatuan.
Kendati demikian, kolaborasi menjadi sangat penting untuk memastikan implementasi program Pembangunan Keluarga, Kependudukan dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) dan MBG 3B berjalan efektif dan memberi dampak nyata terhadap peningkatan kualitas keluarga.
"Melalui program MBG untuk 3B bumil, busui, dan balita, kami ingin memastikan intervensi gizi benar-benar tepat sasaran, sehingga tumbuh kembang anak dapat optimal," ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








