Kemenkes Tarik Investasi Raksasa Pabrik Plasma dan Vaksin, Perkuat Ketahanan Kesehatan Nasional

AKURAT.CO Kementerian Kesehatan berhasil menarik investasi asing berskala raksasa di sektor hilirisasi industri kesehatan.
Sepanjang 2026, pemerintah, melalui Kemenkes, mengamankan komitmen mega investasi dari perusahaan farmasi asal Jepang, Takeda, untuk membangun pabrik produk turunan plasma darah.
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menyatakan, langkah strategis ini merupakan perwujudan Pilar ke-3 Transformasi Kesehatan, yakni Ketahanan Kesehatan.
Percepatan hilirisasi ini didorong oleh krisis yang terjadi saat pandemi Covid-19, di mana Indonesia mengalami kelangkaan parah alat pelindung diri (APD), masker, reagen PCR, vaksin, hingga obat-obatan esensial akibat ketergantungan pada produk impor.
"Di masa pandemi, masyarakat sangat kesulitan dan harus membayar mahal untuk mendapatkan obat-obatan esensial kategori Plasma Derived Products (PDP) seperti Albumin, IVIG, Faktor-8, dan Faktor-9," ujar Budi, Jumat (17/7/2026).
Baca Juga: Gandeng Kemenkes, TikTok Luncurkan Inisiatif 'Makan Dengan Makna' untuk Dorong Gaya Hidup Sehat
Ia mengatakan, PDP merupakan obat penunjang daya tahan tubuh dan pembekuan darah. Obat ini diproduksi melalui proses hilirisasi pemisahan (fraksionasi) plasma dari darah manusia.
"Sebagai negara dengan penduduk keempat terbanyak di dunia, kita sebenarnya memiliki sumber daya bahan baku darah yang sangat melimpah untuk diolah secara mandiri menjadi PDP. Ini yang sedang kita hilirisasi," ujar Budi.
Untuk merealisasikan kemandirian tersebut, Kemenkes telah merelaksasi regulasi terkait pembangunan pabrik plasma sejak 2023. Kebijakan ini menarik minat perusahaan biofarmasi asal Korea Selatan, SK Plasma, yang bermitra dengan Lembaga Pengelola Investasi/Indonesia Investment Authority (INA) pada 2024.
Pabrik SK Plasma yang menelan investasi USD 300 juta dengan kapasitas produksi 600.000 liter per tahun tersebut telah rampung dibangun pada tahun ini.
Fasilitas fraksionasi plasma pertama di Indonesia ini ditargetkan beroperasi penuh pada 2027, setelah mengantongi izin edar dan operasional dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Baca Juga: Kemenkes Gandeng Universitas Kembangkan Vaksin Dengue Berbasis mRNA, Dana Riset Capai Rp16 Miliar
Keberhasilan iklim investasi tersebut disusul oleh masuknya Takeda, salah satu produsen PDP terbesar di dunia, sebagai investor pabrik plasma kedua di Indonesia dengan kapasitas produksi yang lebih masif.
Selain industri plasma darah, lompatan kemandirian juga terwujud di penyediaan vaksin. Kemenkes telah mendorong operasional dua pabrik vaksin dalam negeri berskala besar, yakni PT Etana Biotechnologies Indonesia dan PT Biotis Pharmaceuticals Indonesia. Khusus PT Biotis, pabrik ini juga mengembangkan Vaksin Merah Putih yang merupakan hasil penelitian murni anak bangsa.
"Melalui transformasi ketahanan kesehatan, kita tidak sekadar belajar dari krisis tetapi bertindak nyata membenahinya. Lewat berdirinya fasilitas produksi dari Etana, Biotis, SK Plasma, dan Takeda, kita pastikan ketersediaan obat dan vaksin rakyat ke depan akan selalu aman, terjangkau, dan diproduksi di negeri sendiri," jelas Budi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







