Prabowo Cerita Ada 'Raja Kecil' dalam Birokrasi: Tidak Mau Diatur, Merasa Dirinya Raja

AKURAT.CO Presiden RI, Prabowo Subianto, menceritakan adanya sebagian birokrat yang telah bekerja puluhan tahun di suatu kementerian dan menguasai seluk-beluk institusi, tetapi tidak selalu sejalan dengan kepemimpinan serta kebijakan pemerintah.
Dia menyebut fenomena birokrasi yang tidak mau diatur sebagai bentuk 'deep state'. Dia menggambarkan oknum pejabat seperti itu sebagai 'raja kecil' di dalam institusinya.
"Nah, itu dirjen-dirjen yang kita sebut deep state. Jadi, birokrasi yang tidak mau diatur, raja kecil, raja kecil," kata Prabowo dalam program Presiden Prabowo Menjawab, Kamis (17/9/2026).
Baca Juga: Prabowo Siapkan SDM Profesional Lewat URI: Kita Harus Perbaiki Semua Institusi Kita
Dia menjelaskan, seorang pemimpin politik memiliki batas masa jabatan, sedangkan aparatur sipil negara dapat bekerja dalam satu kementerian selama puluhan tahun. Pengalaman panjang tersebut seharusnya menjadi kekuatan institusi, tetapi dapat memunculkan persoalan apabila tidak disertai akuntabilitas dan keselarasan kerja.
"Pemimpin politik maksimal lima tahun. Kalau PNS, birokrat ini, dia bisa 20 tahun di kementerian itu dan dia mengerti seluk-beluknya," jelasnya.
Meski mengakui adanya persoalan tersebut, kondisi itu tidak terjadi pada semua aparatur negara. Kritiknya ditujukan kepada oknum dan sistem yang membuat koordinasi antarkementerian dan lembaga tidak berjalan optimal.
"Ini tidak semua, tapi pengalaman saya, benar yang Anda katakan, tidak sinkron antara kementerian dan lembaga karena dia merasa dirinya, ya, raja atau apa. Itu benar," jelasnya.
Baca Juga: Prabowo: Giant Sea Wall Pantura Bakal Lindungi 50 Juta Warga dan 38 Persen PDB
Untuk itu, Prabowo membentuk Universitas Republik Indonesia (URI) untuk memperkuat sistem dan menyiapkan SDM yang profesional. Pemerintah ingin memastikan institusi negara diisi oleh pejabat yang kompeten, dapat dievaluasi, dan mampu bekerja selaras untuk kepentingan masyarakat.
Pengembangan URI juga dirancang mencakup pendidikan khusus bagi calon pemimpin pemerintahan. Prabowo mempertimbangkan pembentukan akademi untuk gubernur, bupati, hingga direktur jenderal.
Menurutnya, setiap pejabat yang akan menduduki posisi strategis perlu dibekali kemampuan kepemimpinan, administrasi, dan pemahaman terhadap tanggung jawabnya sebelum menjalankan jabatan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








