Waketum Golkar Tak Percaya Survei Celios yang Sudutkan Bahlil: Seperti Konspirasi Politik

AKURAT.CO Partai Golkar mempertanyakan keabsahan serta independensi hasil survei terbaru yang dirilis oleh Center of Economic and Law Studies (Celios).
Lembaga tersebut kembali menempatkan Ketua Umum Partai Golkar yang juga Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, dalam daftar menteri berkinerja terburuk.
Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Idrus Marham, mengindikasikan adanya agenda tertentu di balik publikasi data survei tersebut. Pihaknya merasa angka-angka yang disajikan tidak selaras dengan kondisi objektif di lapangan.
Idrus menegaskan bahwa penilaian Celios tampak sengaja diarahkan untuk mendiskreditkan Bahlil Lahadalia secara konsisten sejak awal masa pemerintahan. Ia menilai terdapat perbedaan tajam antara angka riset dengan realitas kinerja Bahlil selama menjabat menteri.
"Menurut pandangan dan pengamatan kami dan yang kami alami sebagai pengurus partai bahwa hasil survei itu jelas menunjukkan ada perbedaan angka yang dikedepankan dengan penilaian itu, dengan nalar dan fakta yang ada. Karena itu kami mempertanyakan bahwa apa ini survei atau sudah merupakan konspirasi politik," jelasnya, dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (13/10/2026).
Baca Juga: Survei Arawicaksa Institute: Masyarakat Puas Kinerja Pemerintahan Prabowo Meski Masih Ada PR
Idrus mencatat fenomena penilaian negatif terhadap Bahlil terjadi berulang kali dalam setiap evaluasi berkala Celios.
Pola penilaian tersebut dinilai membentuk persepsi publik tertentu yang berujung pada desakan politik.
"Jadi, kita masih ingat, pada evaluasi 100 hari kabinet Prabowo itu Celios sudah mengeluarkan satu penilaian di mana Bung Bahlil Lahadalia dimasukkan sebagai salah satu menteri yang terburuk. Demikian juga hasil survei pada satu tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, juga lagi-lagi Bung Bahlil ditempatkan pada posisi sebagai menteri terburuk. Dan terakhir pada bulan ini, lagi-lagi mengeluarkan survei itu Bung Bahlil Lahadalia menempati nomor satu sebagai menteri terburuk," paparnya.
Sikap kritis Partai Golkar didasari oleh alur pembentukan opini yang berujung pada tuntutan pergantian posisi di jajaran kabinet. Menurut Idrus, muara dari hasil riset tersebut makin memperjelas dugaan skenario politik.
"Saya hanya kaget di sini bahwa ya, bagaimana sebuah kesimpulan yang dibuat sedemikian rupa dan memberikan kesan sudah seakan-akan itu hanya ya, satu pandangan, suatu persepsi lalu kemudian di di akhir survei itu muncul raport merah, kemudian atas dasar itu baru semacam desakan atau reshuffle untuk melakukan ya, reshuffle kabinet," katanya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







