Mengenal Fenomena 'Bulan Darah', Ini Jadwal, Penyebab dan Fakta Menariknya!

AKURAT.CO Bulan darah adalah fenomena ketika bulan purnama tampak berwarna merah gelap atau tembaga saat gerhana bulan total terjadi. Hal ini disebabkan bayangan Bumi sepenuhnya menutupi bulan dan menyaring sinar matahari melalui atmosfer.
Cahaya biru dari matahari terhalang oleh atmosfer Bumi, sehingga hanya spektrum merah dan oranye yang sampai ke permukaan bulan. Inilah yang membuat bulan terlihat merah dramatis seperti darah.
Fenomena bulan darah berikutnya akan terjadi pada 7 September 2025. Peristiwa langit ini bisa disaksikan sepenuhnya di Asia dan Australia Barat, serta sebagian di Eropa, Afrika, Australia Timur dan Selandia Baru.
Namun, bulan darah kali ini tidak dapat terlihat dari benua Amerika. Hal ini membuat wilayah Asia menjadi lokasi terbaik untuk menikmati pemandangan langka tersebut.
Menurut NASA, sekitar 29 persen gerhana bulan tergolong gerhana total yang menghasilkan bulan darah. Sementara itu, Bumi mengalami dua hingga empat gerhana bulan setiap tahunnya.
Sebagian besar orang di dunia dapat melihat gerhana bulan total rata-rata sekali setiap 2,5 tahun. Dengan kata lain, bulan darah termasuk fenomena langit yang cukup jarang terjadi.
Tidak semua gerhana bulan memunculkan bulan darah. Pada gerhana parsial, hanya sebagian permukaan bulan yang tertutup bayangan gelap, sedangkan pada gerhana penumbral perubahan warna sangat samar.
Saat gerhana total berlangsung, bulan benar-benar berada di dalam bayangan Bumi. Di momen inilah cahaya merah tembaga paling jelas terlihat, sebagaimana dikutip dari Space, Kamis (21/8/2025).
Menariknya, warna bulan darah bisa berbeda-beda tergantung kondisi atmosfer. Abu vulkanik, asap kebakaran hutan, atau polusi dapat membuat bulan tampak lebih gelap atau lebih intens.
Fenomena bulan darah hanya bisa terjadi di Bumi karena bayangan planet ini cukup besar untuk menutupi bulan sepenuhnya. Namun, kondisi tersebut tidak akan berlangsung selamanya karena bulan terus menjauh dari Bumi sekitar 4 sentimeter setiap tahun.
Selain aspek ilmiah, bulan darah juga memiliki catatan sejarah. Pada 1504, Christopher Columbus memanfaatkan gerhana bulan total untuk menakut-nakuti penduduk Jamaika agar memberinya makanan.
Bagi masyarakat modern, bulan darah kini menjadi momen istimewa untuk diamati bersama keluarga. Peristiwa langit ini tidak membutuhkan alat khusus, cukup dengan mata telanjang di lokasi dengan langit cerah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal







