Akurat Logo

Harmonisasi Pendidikan dan Industri, Cara Cermat TBIG Merawat Jaringan Telekomunikasi dan Asa Anak Bangsa

Moehamad Dheny Permana | 30 September 2026, 11:31 WIB
Harmonisasi Pendidikan dan Industri, Cara Cermat TBIG Merawat Jaringan Telekomunikasi dan Asa Anak Bangsa
Siswa-siswi SMK HS Agung Bekasi menerima materi saat melakukan kunjungan industri ke kantor TBIG di Karawaci. - Foto: Akurat.co/Moehamad Dheny Permana

AKURAT.CO Gedung-gedung sekolah kejuruan setiap tahun melahirkan jutaan mimpi lewat ijazah para siswa.

Sayangnya, impian itu kerap kandas tatkala industri menuntut keahlian praktis yang tak pernah diajarkan di dalam kelas teoretis. 

Jaringan telekomunikasi adalah pilar penting dalam keberlangsungan suatu bangsa. Bukan lagi sebagai pelengkap, melainkan sebagai infrastruktur kunci untuk menopang berbagai aktivitas masyarakat. 

Agar roda teknologi ini terus berputar, dibutuhkan pasokan Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal dan kompeten. Sayangnya, Indonesia masih terjebak dalam masalah kesenjangan kompetensi atau skills gap antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri. 

Sekolah kejuruan atau SMK yang digadang-gadang sebagai penghasil sumber daya siap kerja ternyata juga belum mampu menjawab tantangan yang ada. Banyak lulusan yang tidak terserap dan justru menyebabkan pengangguran. 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah lulusan SMK yang menganggur pada 2026 mencapai 813.776 orang. Pengangguran dari lulusan SMK menjadi yang tertinggi dibandingkan tingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), maupun SMA umum.

Kolaborasi Nyata Lewat Pelatihan dan Sertifikasi Vokasi

Menjawab tantangan tersebut, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG) hadir secara aktif mengambil peran melalui program CSR pilar Pendidikan.

Kolaborasi industri dan lembaga pendidikan ini diwujudkan lewat Pelatihan dan Sertifikasi Guru dan Siswa di Bidang Fiber Optik (FO) untuk memperkuat keterhubungan antara dunia pendidikan vokasi dengan tuntutan industri sektor telekomunikasi.

Upaya ini sejalan dengan tujuan besar program pemerintah di sektor pendidikan dalam meningkatkan mutu SDM nasional, khususnya bagi para siswa SMK.

Direktur Sekolah Menengah Kejuruan Kementerian Pendidikan dasar dan Menengah (Kemdikdasmen), Arie Wibowo Khurniawan, telah menekankan pentingnya kolaborasi antara SMK dan industri.

===== 

Baca Juga: Sekolah dan Kuliah Bakal Gratis! Qodari Ungkap Strategi Prabowo Robohkan Tembok Pemisah Ekonomi Lewat Pendidikan

Bahkan, Arie menilai bahwa SMK harus didesain semirip mungkin dengan industri demi menjaga kesesuaian bagi para lulusannya dengan dunia kerja. 

“SMK lahir dari industri sehingga pengelolaannya harus dibuat mirip dengan industri,” kata Arie dalam sebuah acara di Yogyakarta, Rabu (19/8/2026). 

Menurutnya, kurikulum SMK perlu disusun secara adaptif dan melibatkan dunia industri. Kolaborasi antara SMK dan industri juga perlu diarahkan pada kolaborasi yang berdampak nyata bagi para siswa. 

“Tujuannya untuk bisa menghasilkan kemitraan yang berdampak,” tutur Arie.

Langkah penyiapan tenaga terampil dan berdaya saing yang dilakukan TBIG ini melengkapi berbagai program strategis pemerintah, seperti Program Sertifikasi Kompetensi bagi murid SMK hingga hadirnya program SMK Go Global. 

Serentak di Enam Regional: Meratakan Kompetensi Guru dan Siswa

Melalui program Pelatihan TBIG, para tenaga pendidik juga mendapatkan ruang untuk meningkatkan kapasitas kualifikasi profesi yang secara langsung memberi nilai lebih bagi guru maupun siswa.

Dukungan berupa fasilitas pengembangan kompetensi profesional menjadi kebutuhan vital agar guru memiliki rasa percaya diri, pengakuan kualifikasi, serta relevansi materi pengajaran di era digital. 

Pelatihan dan sertifikasi ini dilaksanakan secara serentak di enam kantor regional TBIG pada 27 Agustus 2026. Wilayah pelaksanaan mencakup kantor Regional Sumatera Selatan, Jabo Inner, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan, dan Sulawesi.

Program ini diikuti oleh 80 peserta yang terdiri dari 54 guru dan 26 siswa SMK. Para peserta berasal dari 32 SMK yang tersebar di 13 kota dan kabupaten, yaitu Makassar, Gowa, Kabupaten Pasangkayu, Tangerang, Jakarta, Bandung, Ciamis, Kabupaten Bogor, Bekasi, Salatiga, Semarang, Banjarnegara, dan Tegal.

Chief Business Support Officer TBIG, Lie Si An, menyampaikan bahwa keterlibatan industri dalam pendidikan vokasi menjadi bagian penting dalam membangun SDM yang lebih siap menghadapi perkembangan teknologi dan kebutuhan dunia kerja.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.