Megawati Kenalkan Puan Saat Berpidato di Riyadh: Perempuan Harus Bisa Segalanya

AKURAT.CO Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri, secara terbuka memperkenalkan putrinya, Ketua DPR RI, Puan Maharani, di hadapan forum akademik internasional di Riyadh, Arab Saudi. Momen tersebut dibaca sebagai penegasan hubungan politik ibu–anak, sekaligus simbol regenerasi kepemimpinan perempuan di tubuh PDIP.
Dalam orasi ilmiah saat menerima gelar Doctor Honoris Causa dari Princess Nourah Bint Abdulrahman University (PNU), Megawati menyinggung prinsip kesetaraan warga negara dalam Pasal 27 ayat (1) UUD 1945 sebagai dasar konstitusional keterlibatan perempuan dalam pemerintahan.
Dia menegaskan bahwa konstitusi Indonesia tidak membedakan laki-laki dan perempuan dalam hak dan kewajiban bernegara. Menurutnya, kesetaraan tersebut merupakan bagian dari nilai Pancasila, khususnya sila keadilan sosial.
Baca Juga: Berpidato di PNU Riyadh, Megawati Angkat Isu Pemberdayaan Perempuan untuk Kemajuan Negara
"Kesetaraan dalam hukum dan pemerintahan adalah prinsip dasar negara. Karena itu, keterlibatan perempuan dalam pemerintahan bukanlah kebijakan tambahan, melainkan perintah konstitusi," ujar Megawati, dikutip Selasa (10/2/2026).
Dia kemudian meminta Puan Maharani berdiri dan memperkenalkannya kepada hadirin. Ketua Umum PDIP itu menekankan, posisi Puan sebagai Ketua DPR bukan semata karena hubungan keluarga, melainkan hasil dari proses dan tanggung jawab politik.
"Sebagai sebuah contoh, bukan karena dia putri saya. Beliau putri saya, anak terakhir, satu-satunya perempuan. Dan saya ajarkan bahwa perempuan itu harus bisa segalanya," kata Megawati.
Megawati menyebut Puan kini memikul tanggung jawab sebagai pimpinan lembaga legislatif tertinggi di Indonesia. Meski demikian, Megawati menekankan bahwa perempuan tetap memiliki peran dalam keluarga dan tidak boleh melupakan kodratnya. Dia menyebut peran publik dan domestik dapat berjalan beriringan.
Baca Juga: Megawati Terima Gelar Doktor Kehormatan dari PNU Riyadh
Dalam orasinya, Megawati juga mengaitkan narasi kepemimpinan perempuan dengan pemikiran Bung Karno melalui buku Sarinah. Dia menegaskan pandangan pendiri bangsa bahwa perempuan merupakan 'tiang negara' yang menentukan kokohnya sebuah bangsa.
Megawati turut mengenang peran ibundanya, Fatmawati Soekarno, sebagai pejuang kemerdekaan. Saat menceritakan Fatmawati yang menjahit Sang Saka Merah Putih menjelang Proklamasi 17 Agustus 1945, Megawati tampak terharu dan menitikkan air mata.
Penggambaran lintas generasi perempuan—dari Fatmawati, Megawati, hingga Puan—dalam forum internasional tersebut memperlihatkan upaya Megawati menegaskan kesinambungan peran perempuan dalam sejarah dan politik Indonesia, sekaligus memberi pesan simbolik tentang pentingnya kepemimpinan perempuan dalam struktur kekuasaan nasional.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK






