Survei PwC: Mayoritas CEO Indonesia Lakukan Perubahan Model Bisnis Perusahaan

AKURAT.CO PwC’s 27th Annual Global CEO Survey menunjukkan bahwa sebagian besar CEO secara global dan di Asia Pasifik termasuk Indonesia, telah mengambil beberapa langkah reinvention atau berupaya melakukan perubahan terhadap model bisnis perusahaan mereka.
Berdasarkan survei tahun ini, sebagian besar CEO perusahaan di Indonesia (93%) dan Asia Pasifik (97%) sudah berupaya melakukan reinvention.
Meski demikian, 56% CEO di Indonesia dan 63% CEO di Asia Pasifik masih merasa tidak yakin akan kelangsungan hidup perusahaan mereka dalam dekade mendatang jika mereka melanjutkan cara berbisnis yang mereka jalani saat ini.
Baca Juga: Startup Simak, Ini Panduan Tata Kelola Perusahaan Dari AC Ventures Dan PwC
CEO di tingkat global (24%), di Asia Pasifik (21%) dan di Indonesia (23%) menyebutkan volatilitas makroekonomi sebagai ancaman utama mereka, diikuti oleh inflasi dan ketegangan geopolitik (ketiga kelompok tersebut menunjukkan persentase yang sama dalam kategori ini).
Mayoritas CEO di Indonesia (75%) setuju bahwa regulasi merupakan hambatan terbesar, serupa dengan yang terjadi di Asia Pasifik (66%). Regulasi menjadi prioritas pertama, karena banyak CEO percaya bahwa mereka tidak mempunyai kekuatan untuk mengendalikannya, dibandingkan dengan hambatan lain yang dapat mereka pengaruhi.
Di sisi lain, kemampuan teknologi (63%) menempati peringkat kedua di antara hambatan-hambatan yang dihadapi oleh para CEO di Indonesia dan diikuti oleh dua alasan yang dikategorikan sebagai urutan ketiga yaitu kurangnya tenaga kerja terampil dan persaingan prioritas operasional, sebesar 61%.
Dekarbonisasi dan Generative AI Jadi Megatren Global
Pada saat yang sama, megatren global termasuk pergeseran teknologi yang dicontohkan dengan munculnya GenAI dan isu-isu terkait iklim semakin menuntut perhatian para CEO.
Di pasar yang terus berkembang, dunia usaha harus menerapkan budaya inovasi yang berkelanjutan, tidak hanya untuk mempertahankan keunggulan kompetitif mereka, namun juga memastikan kelangsungan hidup mereka dalam jangka panjang.
Territory Senior Partner PwC Indonesia, Eddy Rintis mengatakan terkait dekarbonisasi, laporan mengungkap para CEO yang berbasis di Indonesia telah mengambil langkah-langkah yang menunjukkan kemajuan yang signifikan.
"Kami menemukan bahwa 73% CEO di Indonesia sudah mulai berupaya meningkatkan efisiensi energi (dibandingkan dengan 63% CEO Asia Pasifik) dan 68% telah mengembangkan produk baru yang ramah lingkungan (dibandingkan dengan 48% CEO Asia Pasifik)," kata Eddy dikutip Senin (29/1/2024).
Kemudian, lebih dari separuh CEO di Indonesia memilih kompleksitas peraturan sebagai kendala utama (56%), diikuti oleh kurangnya teknologi ramah iklim (48%) dan kurangnya permintaan dari pemegang saham eksternal (45%). CEO di Asia Pasifik juga menyebutkan kompleksitas peraturan (63%) dan rendahnya keuntungan ekonomi dari investasi ramah iklim (61%) sebagai hambatan terbesar yang harus diatasi.
Terkait GenAI, mayoritas CEO melihatnya sebagai katalis untuk reinvention yang akan mendorong efisiensi, inovasi, dan perubahan transformasional. Lebih dari dua pertiga CEO di Indonesia memperkirakan dampak besar GenAI terhadap perusahaan, tenaga kerja, dan pasar mereka dalam tiga tahun ke depan.
Namun, 53% CEO mengaku belum mengadopsi GenAI di seluruh perusahaan mereka dalam 12 bulan terakhir (vs 41% di Asia Pasifik).
Eddy menambahkan selama 12 bulan terakhir, separuh CEO Indonesia (53%) melaporkan bahwa organisasi mereka belum menerapkan GenAI.
Namun, pada tahun mendatang, sekitar separuh CEO di Indonesia mengharapkan GenAI dapat meningkatkan kemampuan mereka dalam membangun kepercayaan dengan pemangku kepentingan (57%) dan meningkatkan kualitas produk atau layanan (56%).
"Hampir tujuh dari sepuluh responden percaya bahwa dalam tiga tahun ke depan, GenAI akan meningkatkan daya saing (76%), mendorong perubahan pada model bisnis mereka (72%), dan membutuhkan keterampilan baru dari tenaga kerja mereka (69%)," imbuhnya.
Diketahui, PwC’s 27th Annual Global CEO Survey mensurvei 4.702 CEO global, termasuk 1.774 di Asia Pasifik dari tanggal 2 Oktober hingga 10 November 2023.
Berbagai sektor industri disurvei, di antaranya layanan keuangan, consumer, manufaktur dan otomotif, energi dan SDA, teknologi/media/telo serta kesehatan termasuk farmasi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








