Komisi VI Minta Kontribusi BUMN Sawit ke Negara Digenjot

AKURAT.CO Tim Kunjungan Kerja Komisi VI DPR RI yang dipimpin Jon Erizal melakukan kunjungan kerja spesifik ke PTPN IV Regional III di Kota Pekanbaru Provinsi Riau.
Di mana kunjungan kerja tersebut bermaksud untuk melihat secara langsung pengembangan ekosistem Industri Kelapa Sawit Nasional di Provinsi Riau termasuk permasalahan dan kendala yang dihadapi beserta upaya penanganannya. Sebab seperti yang diketahui, Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas perkebunan unggulan yang menjadi andalan penyumbang ekspor Indonesia.
"PalmCo adalah holding company terhadap perkebunan kelapa sawit yang dimiliki oleh BUMN. Tadi kita banyak berdiskusi membahas bagaimana PalmCo ini berani maju kedepannya. Saya berharap bahwa BUMN termasuk PalmCo ini harus punya kontribusi besar terhadap penerimaan negara, karena kedepan, pemerintah kita berencana akan menggenjot pertumbuhan ekonomi sebesar tujuh sampai dengan delapan persen. Dan pertumbuhan itu harus ada sumber penerimaan negara yang jelas," ucap Jon Erizal melalui lansiran laman resmi DPR RI.
Baca Juga: Diplomasi Politik Hijau Jokowi dalam Emisi Karbon dan Sawit
Jon menyampaikan, selain dari pajak dan hasil utang, sumber penerimaan negara lainnya juga berasal dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Tetapi yang tidak kalah penting menurutnya adalah penerimaan dari dividen BUMN.
"Kalau ini digenjot bisa besar, tentu ini akan menjadi sumber penerimaan yang punya kontribusi terhadap APBN kita kedepan. Sehingga pertumbuhan ekonomi tujuh sampai dengan delapan persen bisa tercapai. Tidak tergantung pada hutang sepenuhnya dan tidak tergantung juga pada hal-hal yang memberatkan posisi kita," tuturnya.
Di sisi lain, lanjut Jon, kita melihat ternyata PalmCo atau BUMN sawit kita ini mempunyai lahan terbesar dibandingkan beberapa perusahaan sawit lainnya.
"Hampir totalnya tujuh ratusan lebih wilayahnya. Untuk sawitnya sendiri kalau tidak salah sekitar 586 ribu hektar. Ini potensi yang sangat luar biasa. Tetapi sayang, justru perusahaan-perusahaan swasta lainnya itu yang malah sudah melakukan downstream (hilirisasi) sampai kepada tingkat pembuatan kosmetik, selain memproduksi minyak goreng dan margarin," ungkap Jon.
Dikatakannya, kalau hilirisasi ini bisa dilakukan oleh pihak PalmCo maka hal itu bisa membuat multiplier efek. Sementara Palm Co saat ini baru sampai pada tahap (produksi) minyak goreng. Untuk bisa merambah dan meningkat lagi diperlukan investasi yang juga besar.
"Saya dengan ini mendorong agar PalmCo ini diberi penguatan dan kelonggaran aturan-aturan yang mendukung agar bisa sampai pada titik downstream-nya sampai pada tingkat yang menguntungkan. Kalau hilirisasi ini berjalan, apalagi sampai pada ke tingkat kosmetik, maka nilai tambahnya bisa sangat luar biasa bertambah," urainya.
"Tentu didukung juga dengan kebijakan-kebijakan lain. Karena BUMN kita, khususnya sawit itu sudah lama berjalan, jangan sampai karena tidak ada inovasi, akhirnya hilang dan tenggelam. Saya melihat ada beberapa langkah, dan mereka berjanji menyampaikan roadmap terkait langkah-langkah dan inovasi yang akan dilakukan. DPR akan terus mengawasi implementasinya nanti akan seperti apa," imbuh Jon Erizal
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK






