Pemerintah Genjot Proyek Migas Strategis, Targetkan Lifting dan Ketahanan Energi Nasional 2028

AKURAT.CO Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus mempercepat pengembangan proyek-proyek migas strategis nasional. Langkah ini menjadi bagian penting dalam mendorong ketahanan energi nasional serta memenuhi target lifting minyak dan gas bumi secara berkelanjutan.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa berbagai pendekatan strategis, termasuk pengembangan proyek non-konvensional, tengah dilakukan untuk menggenjot produksi migas nasional.
“Salah satu contohnya adalah proyek ENI. Kalau awalnya ditargetkan rampung 2029, kini kami dorong bisa selesai di 2028. Proyek ini diperkirakan mampu menghasilkan 1.500 mm gas dan 90 ribu barel konsentrat,” ujar Bahlil, Jumat (2/5/2025).
Baca Juga: Kejar Target Lifting Migas 1 Juta Barel, Bahlil Sidak PHM dan Eni Indonesia
ENI, perusahaan migas asal Italia, saat ini mengoperasikan fasilitas Onshore Receiving Facility (ORF) yang berfungsi sebagai penghubung utama antara produksi gas dari Floating Production Unit (FPU) Jangkrik dengan titik serah di Senipah dan kilang LNG Bontang. Keberadaan fasilitas ini krusial dalam mempercepat pemrosesan gas untuk keperluan domestik maupun ekspor.
Tak hanya itu, ENI juga mengembangkan dua Proyek Strategis Nasional: Indonesia Deepwater Development (IDD) dengan cadangan 2,67 triliun kaki kubik (TCF) gas dan 66 juta barel minyak, serta Geng North dengan cadangan 5,3 TCF gas. Investasi untuk proyek IDD diperkirakan mencapai USD3,7 miliar, sementara proyek Geng North di Northern Hub akan menggelontorkan dana hingga USD11,4 miliar.
“Ini bukti keseriusan investor untuk memaksimalkan potensi migas Indonesia,” tegas Bahlil.
Selain mempercepat proyek baru, pemerintah juga fokus pada optimalisasi sumur-sumur tua (idle wells). Dalam kunjungannya ke Pertamina Hulu Mahakam, Bahlil meninjau langsung peningkatan produksi gas dari sumur yang sebelumnya diperkirakan turun, namun kini justru menunjukkan performa positif.
“Dari semula hanya 200-300 juta standar kaki kubik per hari (mmscfd), kini bisa mencapai 400 hingga 500 mmscfd,” jelasnya.
Baca Juga: Menteri Bahlil Tegaskan Tak Ada Revisi Target Lifting Migas 1 Juta BOPD di 2030
Pemerintah juga terus berupaya menyederhanakan proses perizinan untuk mendukung kelancaran operasi para Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS). Bahlil menekankan pentingnya dukungan pemerintah daerah, termasuk para gubernur, dalam mempercepat penerbitan izin di lapangan.
“Kontraktor sering mengeluhkan regulasi yang berbelit. Kami minta kepala daerah bisa ikut membantu mempercepat proses perizinan agar produksi migas nasional tak lagi tersendat,” tutupnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 8Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK






