Bulog Luncurkan Empat Skema Distribusi Beras untuk Stabilisasi Harga Pangan

AKURAT.CO Perum Bulog menyiapkan empat skema percepatan penyaluran beras dalam program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) guna mengintervensi dan menekan harga beras di pasaran.
Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya pemerintah menjaga keterjangkauan harga pangan bagi masyarakat.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani menjelaskan, penyaluran beras SPHP telah menjadi penugasan resmi yang harus segera dilaksanakan.
Skema pertama, kata dia, adalah distribusi langsung kepada pengecer pasar. Dalam mekanisme ini, pengecer diwajibkan menggunakan aplikasi SPHP untuk memastikan penyaluran sesuai aturan yang berlaku.
Baca Juga: Bulog Pastikan Tak Ada Beras SPHP Oplosan di Serang
“Pengecer harus mematuhi ketentuan program SPHP. Mereka menggunakan aplikasi khusus yang memudahkan pengawasan dan pencatatan distribusi beras,” ujar Rizal di Jakarta, Rabu (13/8/2025).
Skema kedua adalah pendistribusian melalui Koperasi Desa atau Kelurahan Merah Putih (KDMP). Volume penyaluran akan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing daerah, sehingga distribusi dapat lebih tepat sasaran.
Sementara itu, skema ketiga mencakup penyaluran melalui koperasi yang berada di bawah kementerian dan lembaga pemerintah, termasuk koperasi di lingkungan TNI dan Polri.
“Kementerian dan lembaga punya koperasi, itu juga bisa menjadi jalur distribusi SPHP,” jelasnya.
Skema keempat adalah melalui koperasi di badan usaha milik negara (BUMN). Beberapa yang sudah disiapkan antara lain koperasi PT Pos Indonesia, ID Food, dan PTPN.
Jalur ini diharapkan dapat memperluas jangkauan distribusi hingga ke daerah yang sulit dijangkau oleh jalur distribusi biasa.
Baca Juga: Bulog Pastikan Beras SPHP Tak Mengalir ke Pelaku Judol dan Terorisme
Bulog mencatat, hingga pekan pertama Agustus 2025, penyaluran beras SPHP telah mencapai 18.500 ton. Program ini menargetkan penyaluran hingga 1,5 juta ton beras pada akhir Desember 2025 sebagai langkah untuk menjaga stabilitas harga beras nasional.
Namun, Rizal mengakui terdapat sejumlah hambatan dalam proses distribusi, terutama terkait penggunaan aplikasi SPHP oleh pengecer. Banyak pengecer yang belum terbiasa menggunakan aplikasi tersebut, bahkan sebagian mengalami kendala karena perangkat gawai yang dimiliki tidak mendukung.
“Tidak semua pengecer langsung bisa beradaptasi. Perlu sosialisasi dan pendampingan. Kami membantu melalui cabang-cabang Bulog di daerah agar mereka dapat memahami cara penggunaan aplikasi itu,” tutur Rizal.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







