RI-Filipina Bentuk Koridor Nikel ASEAN, Kuasai 73 Persen Pasokan Global

AKURAT.CO Indonesia dan Filipina resmi membentuk kerja sama strategis rantai pasok mineral kritis melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Strategic Nickel Industry Development Cooperation antara Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) dan Philippine Nickel Industry Association (PNIA).
Kesepakatan itu menjadi fondasi pembentukan “Indonesia-Philippines Nickel Corridor” yang disebut akan memperkuat dominasi ASEAN dalam rantai pasok nikel global.
Penandatanganan MoU dilakukan dalam agenda Indonesia-Philippines High Level Business Roundtable di Cebu, Kamis, dan disaksikan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bersama Menteri Perdagangan Budi Santoso dan Industri Filipina Maria Cristina A. Roque.
Baca Juga: Bahlil: Nikel Masuk Agenda Energi di KTT ASEAN Filipina
“Kolaborasi ini bukan sekadar kerja sama biasa. Ini adalah fondasi bagi Indonesia-Philippines Nickel Corridor, sebuah platform terstruktur yang menghubungkan kekuatan hilirisasi dan smelter Indonesia dengan pasokan bijih nikel hulu dari Filipina,” ujar Airlangga dalam keterangannya, Jumat (8/5/2026).
Kerja sama ini dinilai menjadi langkah baru ASEAN dalam mengonsolidasikan rantai pasok mineral kritis dunia di tengah meningkatnya kebutuhan baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV), stainless steel, hingga penyimpanan energi terbarukan.
Berdasarkan data United States Geological Survey (USGS) 2026, Indonesia dan Filipina secara gabungan menguasai 73,6% produksi nikel global pada 2025. Indonesia menyumbang sekitar 2,6 juta ton atau setara 66,7% produksi dunia, sedangkan Filipina mencapai 270 ribu ton atau sekitar 6,9%.
Tak hanya dari sisi produksi, kedua negara juga memegang cadangan besar. Indonesia memiliki 62 juta ton cadangan nikel atau setara 44,5% cadangan global, sementara Filipina menyimpan sekitar 4,8 juta ton atau 3,4% cadangan dunia.
Posisi tersebut menjadikan kerja sama kedua negara bukan hanya berdampak regional, tetapi juga strategis bagi rantai pasok global, terutama industri kendaraan listrik dan energi bersih.
Dalam kesepakatan tersebut, APNI dan PNIA akan melakukan pertukaran informasi untuk stabilisasi perdagangan nikel regional dan global, pengembangan teknologi hilirisasi, pemanfaatan produk sampingan industri pengolahan, hingga pengembangan sumber daya manusia industri nikel berkelanjutan.
Airlangga mengatakan, Indonesia saat ini tengah membangun ekosistem hilirisasi nikel berskala besar. Nilai ekspor produk olahan nikel Indonesia pada 2025 tercatat mencapai USD9,73 miliar.
Selain itu, pemerintah menargetkan investasi industri nikel mencapai USD47,36 miliar hingga 2030 dengan potensi penyerapan tenaga kerja sebanyak 180.600 orang.
Menurut Airlangga, keberadaan pasokan bijih nikel Filipina akan menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan operasi smelter di Indonesia, khususnya untuk kebutuhan blending bijih dengan rasio silikon terhadap magnesium (Si:Mg) tertentu.
“Dengan koridor ini, Filipina tidak lagi hanya menjadi eksportir bijih mentah. Filipina akan terintegrasi ke dalam rantai nilai regional yang lebih tinggi, sementara Indonesia mendapatkan jaminan keamanan pasokan untuk industri hulu baterai dan baja tahan karat,” katanya.
Pembentukan koridor nikel ini juga dinilai menandai perubahan pendekatan ASEAN dalam perdagangan mineral kritis. Jika sebelumnya negara produsen bergerak sendiri-sendiri, kini Indonesia dan Filipina mulai membangun integrasi pasokan dan hilirisasi lintas negara.
Langkah itu muncul di tengah meningkatnya persaingan global untuk mengamankan pasokan mineral strategis. Nikel kini menjadi salah satu komoditas paling diburu karena menjadi bahan utama baterai kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi.
Badan Energi Internasional (IEA) sebelumnya memperkirakan permintaan mineral kritis untuk teknologi energi bersih akan terus meningkat signifikan hingga 2030 seiring percepatan transisi energi global.
Indonesia sendiri telah lebih dulu melarang ekspor bijih nikel mentah sejak 2020 guna mempercepat hilirisasi domestik. Kebijakan tersebut mendorong pembangunan puluhan fasilitas smelter dan menjadikan Indonesia pemain utama dalam industri nikel dunia.
Namun, meningkatnya kapasitas smelter juga memunculkan tantangan kebutuhan bahan baku yang stabil. Di sisi lain, Filipina selama ini dikenal sebagai salah satu eksportir bijih nikel terbesar dunia, terutama untuk pasar Asia.
Karena itu, pembentukan “Nickel Corridor” dinilai menjadi model baru integrasi industri tambang ASEAN, yakni ketika negara penghasil bijih dan negara pengolah membentuk rantai pasok regional yang saling terhubung.
Selain sektor industri, kerja sama ini juga diproyeksikan berdampak terhadap perdagangan kedua negara. Sepanjang 2025, nilai ekspor Indonesia ke Filipina tercatat mencapai USD10,22 miliar atau setara 8,4% dari total impor Filipina.
Capaian itu menjadikan Indonesia sebagai mitra dagang terbesar ketiga Filipina setelah China dan Jepang. Komoditas energi, otomotif, hingga bahan baku industri menjadi penggerak utama hubungan dagang kedua negara.
Pemerintah Indonesia juga menegaskan pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) akan diarahkan untuk mendukung rantai pasok mineral kritis, termasuk smelter, bahan baku baterai, hingga pusat inovasi teknologi hilirisasi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal










